
"Paman sepagi ini sudah mau ke kantor?" Tanya Sesil saat dia hendak memasuki mobilnya.
"Tidak, paman akan menjemput calon bibi kecilmu dan mengantarnya ke kampus." Ucap Raihan.
"Tapi aku kan ada untuk menjemputnya." Ucap Sesil.
"Tidak, mulai sekarang kamu pasti tidak bisa menjemput sahabatmu itu." Ucap Raihan yang membuat Sesil bingung.
"Kenapa tidak bisa? aku akan menjemputnya dan paman ke kantor saja." Sesil ingin memasuki mobilnya tapi suara mobil yang sangat familiar membuatnya berhenti.
"Paman sudah katakan bukan? lihat!"
Raihan melihat Richard datang, kemudian dia merampas kunci mobil dari tangan Sesil dan memasuki mobil ponakannya itu.
"Eh paman, mobilku." Teriak Sesil, namun Raihan sudah melaju pergi dengan membawa mobilnya.
Sesil kemudian melihat Richard, dan dia tentu sudah mengerti dengan maksud pamannya.
"Ayo!" Richard membukakan pintu mobil untuk Sesil.
"Tapi, ini tidak perlu. Jika kamu mengantarku ke kampus, otomatis kamu harus menjemput aku sore nanti. Dan itu pasti akan menghambat pekerjaan kamu."
Sesil tentu senang jika pria yang dia cintai selalu ada bersamanya dan mengantar jemput dirinya. Tapi itu tidak perlu, karena Sesil sendiri bisa berangkat sendiri dan dia juga tidak mau jika menghambat pekerjaan Richard karena menyita banyak waktunya.
"Jika aku ada waktu luang, aku akan mengantar jemput kamu. Tapi jika aku memang sibuk, maka kamu boleh menyetir mobilmu sendiri. Tapi hari ini aku tidak ada kesibukan apa pun, dan mobil kamu sudah pergi bersama paman kecil kamu. Jadi bolehkan aku mengantar tunanganku ini ke kampusnya?" Tanya Richard sambil menatap dalam mata Sesil.
__ADS_1
Melihat tatapan Richard, Sesil kembali teringat dengan kecupan singkat Richard tadi malam dan seketika membuatnya malu sendiri.
Sesil tidak menjawab namun langsung masuk ke mobil Richard.
...
Pitaloka yang sedang bersiap ke kampus, mengambil tas dan sepatunya saat mendengar klakson mobil Sesil.
"Iya iya, sabar kenapa sih. Aku bahkan belum memakai sepatuku."
Pitaloka masuk dan duduk di mobil Sesil sambil menenteng sepatunya.
Saat Pitaloka mau menunduk dan memakai sepatunya, dia dikejutkan dengan sepasang tangan besar yang membantunya memasang sepatu.
"Raihan? kamu, aku pikir..."
"Selamat pagi." Sapa Raihan santai.
"Pagi!" Balas Pitaloka dengan suara yang hampir tidak terdengar lalu memperbaiki posisi duduknya.
Dia sangat canggung karena Raihan baru saja memasangkan sepatunya.
Terlebih dia masih mengingat percintaan panas mereka tadi malam. Dia dibuat kelelahan oleh keganasan Raihan. Bahkan dia tertidur dan tidak menyadari kapan Raihan selesai dan pulang.
...
__ADS_1
Saat Sesil turun dari mobil Richard, Pitaloka juga sampai bersama Raihan.
"Kalian tidak mengobrak-abrik mobilku bukan?"
Sesil mengecek keadaan mobilnya.
"Tidak, tenang saja, kami tidak menyukai tempat sempit seperti mobil kamu itu." Ucap Raihan.
Perkataan Raihan membuat Pitaloka kesal dan mencubit pinggangnya.
Raihan hanya tersenyum, dan merasa cubitan Pitaloka itu membuatnya geli dan bukannya sakit.
Pitaloka menunduk malu, namun saat ini Sesil lebih dari sekedar malu saat Richard memeluk pinggangnya dan berbisik.
"Apa kamu menginginkan mobil go**ng? aku mungkin rela sempit-sempitan untuk itu."
Mendengar ucapan Richard, Sesil menutup mukanya karena saking malunya.
"Pit, aku ke toilet."
Sesil berlari memasuki kampus dan membuat Richard tersenyum kelihat tingkahnya itu.
"Apa kamu baru saja menggoda ponakan aku?" Tanya Raihan pada Richard.
"Sedikit!" Jawab Richard lalu tak lama kedua pria itu tertawa.
__ADS_1
"Dasar pria!"
Pitaloka berlari menyusul Sesil, dia tau jika Sesil bukannya mau ke toilet tapi pasti Richard telah membuatnya merasa malu.