
Sesil dengan cemas memapah Pitaloka ke sebuah kamar kosong.
"Aku harus apa sekarang? Pit aku mohon kamu harus kuat."
Sesil mondar-mandir disana sambil memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan nyawa sahabatnya, sampai diapun kepikiran sesuatu.
"Kamu bertahan oke! aku akan meminta bantuan."
Sesil menutup pintu kamar Pitaloka lalu berlari ke ruangan anggrek tempat Raihan sedang meeting bersama kliennya.
"Ada apa?" Melihat Sesil ngos-ngosan Raihanpun bangkit dan bertanya.
Sesil mengatur nafasnya lalu berkata "Paman, Sahabatku, Pitaloka, dia..." Sesil belum bisa bicara dengan benar karena capek campur hawatir yang dia rasakan.
"Ada apa denganmu?" Tanya Raihan bingung.
Sesil menarik nafas lalu berkata "Paman, aku mohon tolong selamatkan Pitaloka, dia sedang sekarat."
Mendengar kata sekarat, Raihan langsung melangkah mendekati Sesil.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Raihan, dia sangat hawatir mendengar perkataan Sesil tentang Pitaloka yang bahkan baru dia kenal itu.
"Nanti aku jelaskan, sekarang ikut aku." Sesil menarik Raihan dari sana meninggalkan para klien Raihan yang dari tadi mendengar percakapan mereka dengan bingung.
...
"Ada apa dengannya?" Raihan yang melihat Pitaloka kini meringkuk menahan sakit di tempat tidur merasa terkejut dan bingung. Baru beberapa menit yang lalu dia melihat gadis itu tersenyum indah, namun sekarang gadis itu kini merintih kesakitan.
Pitaloka yang setengah sadar memberi isyarat pada Sesil untuk membawa Raihan pergi dari sana tapi Sesil sama sekali tidak mendengarkannya meski mengerti maksud Pitaloka.
"Dia kecanduan obat ... dan sekarang dia harus memakan obat itu." Sesil terpaksa mengatakan hal yang selama ini cuman dia dan Pitaloka sendiri yang mengetahui hal itu.
"Iya, ceritanya sangat panjang dan aku tidak mungkin mengatakannya karena itu privasi Pitaloka, tapi aku mohon paman, tolong carikan obat itu dan juga seorang pria untuknya."
Perkataan Sesil lagi-lagi mengejutkan Raihan. Dia tau kegunaan obat itu sesuai namanya, tapi mungkinkah gadis yang kini meringkuk di hadapannya itu juga melakukannya?
Melihat Pitaloka seakan akan tiada karena sakit, Raihan berlari ke luar bar dan mengambil sesuatu di dalam mobilnya.
"Paman dari mana? aku mohon sahabatku bisa tiada tanpa obat itu."
__ADS_1
Raihan tidak lagi menggubris Sesil namun langsung ke arah Pitaloka dan membantunya memakan obat yang hari itu dia temukan.
Beberapa menit kemudian Pitaloka menjadi tenang seakan tidak merasakan sakit lagi.
"Dimana paman mendapatkan obat itu secepat ini?" Tanya Sesil, dia heran rasanya tadi Raihan hanya pergi sebentar lalu kembali dengan obat itu, padahal obat itu tidak di jual sembarang tempat.
Raihan belum sempat menjawab pertanyaan Sesil, tubuh Pitaloka sekarang beraksi.
"Kamu ngapain masih disini?" Bentak Raihan pada Sesil yang masih diam disana.
"Yah aku harus apa? tidak kungkin meninggalkan sahabatku sendiri. Oh pria, tolong paman carikan pria bersih buat Pitaloka, obat itu sudah mempengaruhinya." Kata Sesil dengan cemas, dia sangat tau efek obat itu jika tidak terlampiaskan kepada pria mungkin itu sama dengan meracuni Pitaloka.
"Apa kamu pikir aku seorang wanita? cepat keluar."
Raihan merasa kesal dengan kecerewetan Sesil yang tidak bisa berpikir.
"Hah? paman? paman yang..."
"Cepat keluar?" Belum selesai Sesil bicara, Raihan sudah mendorongnya keluar lalu mengunci pintu.
__ADS_1
Sesil yang masih bingung apakah pamannya yang akan memberi penawar itu pada Pitaloka? akhirnya tersenyum saat membayangkannya.