GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Dua Acara Bahagia


__ADS_3

Malam ini, di rumah keluarga besar Saloka sedang berlangsung dua acara bahagia.


Ulang tahun Sesil dan pertunangannya dengan Richard diadakan dalam satu rangkaian acara.


Para tamu yang sudah di undang oleh Raihan dan Pitaloka, sudah mulai berdatangan.


Sesil sangat bahagia, dia tidak menyangka jika dihari ulang tahunnya, dia akan mendapat kebahagiaan sebesar itu.


Hingga pukul sepuluh malam, pertunangan Sesil dengan Richard pun sudah diresmikan.


Kini keduanya sedang bertukar cincin yang mana cincin tersebut adalah sebuah cincin pasangan yang sudah Richard pesan dari beberapa hari yang lalu.


"Kalau ini cincin pertunangan kita, lalu yang ini?" Bisik Sesil.


Sesil bingung, saat di taman, Richard telah menyematkan sebuah cincin di jari tengahnya yang tak kalah indahnya dengan cincin pasangan yang baru Richard sematkan lagi di jari manisnya.


Richard tersenyum menatap wanita yang kini resmi menjadi tunangannya itu. Lalu Richard memandang cincin yang ada di jari tengah Sesil.


"Kedua cincin ini, sama indahnya. Namun, cincin di jari tengahmu itu adalah cincin yang sangat berharga." Ucap Richard, lalu menggenggam jemari Sesil dan lanjut berkata. "Ini adalah cincin keluarga besarku yang turun temurun diberikan pada menantu perempuan keluarga kami. Terakhir mendiang ayahku memberikannya pada ibu. Namun sebelum ayah menghembuskan nafas terakhirnya, beliau memberi pesan pada ibu untuk memberikan cincin itu padaku dan aku akan memberikan cincin bersejarah ini untuk wanita pilihanku."

__ADS_1


Mendengar jika cincin yang kini tersemat dijarinya adalah cincin bersejarah, Sesil merasa sangat tersentuh.


"Lalu kenapa kamu memberikannya saat ini? bukankah ini untuk menantu keluargamu? aku kan masih tunangan kamu saja." Tanya Sesil. Meski dia sangat ingin menjadi istri Richard, tapi kenyataannya mereka masih tunangan.


"Tidakkah kamu mau menjadi istriku?" Tanya Richard sambil menatap dalam mata indah Sesil.


"Yah mau, tapi..."


"Makanya cincin itu aku berikan padamu. Siapa pun kamu saat ini, kan nantinya kamu tetap akan menjadi pendampingku." Ucap Richard sambil tersenyum.


Sesil pun memandang Richard dan berkata. "Aku berjanji, akan menjaga cincin ini dengan sangat baik."


Saat keduanya sedang merasa dunia hanya milik mereka, Pitaloka dan Raihan datang.


"Sudah larut malam, aku harus pulang." Ucap Pitaloka lalu mendekati Sesil dan berbisik jahil. "Ingat, suruh dia pulang secepatnya. Jangan sampai dia meminta bulan madu sebelum pernikahan."


Setelah itu, Pitaloka mundur ke sisi Raihan.


"Baiklah, sekali lagi selamat untuk kalian. Aku pulang dulu daaahhh."

__ADS_1


Pitaloka menggandeng lengan Raihan dan melambai nakal pada Sesil. Dia tau jika Richard bukanlah pria seperti itu, tapi dia sengaja menggoda sahabatnya yang masih begitu lugu jika menyangkut hal seperti itu.


Saat Sesil kini berdua dengan Richard disana, Sesil memikirkan ucapan Pitaloka yang seketika membuat wajahnya memerah.


"Ya sudah, aku juga harus pulang. Kamu istirahatlah yang baik. Besok kamu harus ke kampus bukan?" Ucap Richard.


Saat Sesil baru mau menyuruh Richard pulang karena merasa takut jika yangbPitaloka katakan benar terjadi, Richard terlebih dahulu berkata.


Sesil merasa sangat malu denga pemikiran otaknya yang lagi-lagi sangat kotor itu.


"Ini semua gara-gara Pitaloka. Dia pasti sengaja menakutiku." Gumam Sesil.


"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Richard yang samar-samar mendengar Sesil bergumam.


"Ah, tidak. Ya sudah, aku akan menemani kamu pamit dengan semua keluarga."


Sesil mengutuki Pitaloka sambil berjalan ke arah Camelia, Hestie, Faris dan nenek tua berada.


"Terima kasih karena telah memberi restu dan dukungan pada acara pertunangan kami. Dan maaf jika ibuku tidak hadir karena ini sangat mendadak. Tapi aku berjanji, akan meminta ibuku menemui kalian semua setelah ini. Dan sepertinya aku juga harus pamit pulang sekarang. Sekali lagi terima kasih atas segalanya." Ucap Richard sekaligus pamit dengan semua orang disana.

__ADS_1


__ADS_2