GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Richard


__ADS_3

Sesil baru sadar dan berkata "Iya, maaf. Aku akan mengganti kerusakan mobil anda."


"Baiklah, berikan kartu nama anda. Nanti saya akan kabari berapa total ganti rugi yang harus anda bayar."


Melihat Sesil seakan berpura-pura tidak mengenalinya, atau mungkin tidak mau mengenalnya lagi, Richard juga pura-pura tidak mengenalinya.


Melihat Sesil diam saja, Pitaloka bergegas ke mobil dan mengambil kartu nama Sesil dari dalam tasnya.


"Ini tuan, sekali lagi maaf."


Pitaloka menarik Sesil dari sana dan membawanya memasuki mobil.


"Apa kamu bisa menyetir?" Tanya Pitaloka tapi malah kebingungan dengan jawaban Sesil.


"Richard."


"Apa?"


"Hah, tidak. Ayo!"


Sesil menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya melewati pria yang masih berdiri disana.


"Apa aku sungguh terlambat?" Gumam Richard.


Dia masih berharap bisa mendapat kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya pada Sesil, tapi melihat sikap Sesil tadi, sepertinya dia tidak ada lagi di hati gadis itu.

__ADS_1


...


"Apa yang terjadi denganmu?"


Melihat dari tadi Sesil diam saja Pitaloka merasa bingung.


"Richard."


"Apa?"


Lagi-lagi Pitaloka terkejut mendengar gumaman Sesil. kayaknya sudah dua kali sahabatnya itu menggumamkan kata itu.


"Huhu."


"Hei, kamu kenapa? apa ada yang sakit?"


"Huhu." Sesil makin menangis, sambil menggeleng.


"Richard, kenapa dia tiba-tiba muncul kembali?"


"Richard? siapa Richard? tenang dulu oke, ceritakan padaku, apa seseorang bernama Richard telah mengganggumu?"


Pitaloka semakin bingung dengan perkataan Sesil yang lagi-lagi menyebut nama Richard.


"Emm." Sesil mengangguk. "Tidak." Kemudian menggeleng lagi.

__ADS_1


Pitaloka benar-benar kebingungan melihat pertamakalinya sahabatnya yang ceria dan pemberani itu menangis seperti itu.


"Sudah, sini. Katakan jika kamu bersedia, jika tidak, aku tetap akan menemanimu oke!"


Pitaloka memeluk Sesil,dan mengusap lembut punggungnya.


"Pria yang tadi adalah Richard, dia adalah pria pertama dan mungkin terakhir yang menempati hatiku."


Sesil mulai menceritakan tentang Richard kepada Pitaloka.


"Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Pitaloka menatap sahabatnya itu.


"Sepertinya sampai kapan pun aku akan terus mencintainya."


Sesil bersungguh-sungguh mengatakan itu. Seorang gadis cantik dan berasal dari keluarga kaya raya lagi terhormat masih sendiri, itu bukan karena tidak ada pria yang selevel dengannya yang menyukainya. Tapi Sesil selalu menolak setiap pria yang mendekatinya. Dia tidak bisa melupakan Richard sama sekali.


"Kalau begitu kejar dia, jika dia tidak memulainya maka kamu yang harus memulai." Pitaloka bukan gadis naif dan pemalu, atau sok jual mahal. Baginya, jika memang mencintai maka kejar dia, tak peduli pria atau wanita, asal jangan sampai mengemis saja.


Saat Sesil sudah tenang, dia mengantar Pitaloka ke kosnya.


Sesil mengemudikan mobilnya menuju rumah sambil merenungkan kata-kata Pitaloka.


"Iya, dia mungkin tidak menghiraukan aku karena selama ini dia memang tidak mengetahui perasaanku padanya. Aku tidak boleh gengsi, karena itu hanya akan menyakitiku sendiri."


Sesil memutuskan, dia harus bicara pada Richard, diterima atau tidak itu perkara belakang, baginya yang penting saat ini adalah melepaskan semua rasa yang dia pendam selama ini.

__ADS_1


"Tapi bagaimana aku bisa bicara padanya?"Pikir Sesil.


Dia tidak tahu dimana Richard tinggal, dan dia bahkan tidak mempunyai nomor ponselnya.


__ADS_2