GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Menggendong Seseorang Keluar Rumah Sakit...


__ADS_3

Mendengar perkataan Raihan tentang pil penawar, dokter merasa bingung. Tapi ini bukan saatnya memikirkan itu.


Dokter segera melangkah ke arah Pitaloka untuk melakulan penanganan lanjutan. Tapi belum berjalan dua langkah dia kembali dibuat terkejut dengan yang dia lihat.


"Paman kecil, kenapa kamu menangis?"


Pitaloka membuka matanya dan tersenyum melihat Raihan.


"Oh Kelvin, aku berutang padamu." Batin Raihan lalu berjalan ke arah Pitaloka dan memeluknya.


"Kenapa kamu mengikuti Sesil yang manja itu dan memanggilku paman?"


Canda Raihan sambil terus memeluk erat tubuh Pitaloka.


"Aoh, kamu membuatku susah bernafas."


Pitaloka berkata jujur, pelukan Raihan yang sangat erat membuatnya sesak.


"Oh maaf."


Raihan segera melepas pelukannya.


Dokter dan semua orang disana di buat bingung dengan pemandangan di depannya.


Mereka, terlebih sang dokter, masih bertanya-tanya pil penawar apa yang Raihan berikan pada Pitaloka?


Siapa pria di depannya itu dan dari mana dia menemukan penawar yang sampai saat ini dia belum dengar ada peneliti yang berhasil membuatnya.

__ADS_1


Tapi dokter tidak berani bertanya, dia sudah melihat sifat Raihan. Jika dia bertanya dan membuat pria itu tersinggung, maka dia mungkin bukan hanya di dorong ke luar bangsal, tapi keluar gedung rumah sakit.


...


Karena Pitaloka pulih dengan cepat, maka sore itu juga dokter mengizinkannya pulang.


Mau tidak mengizinkannya juga tidak mungkinkan?


Raihan menggendong Pitaloka keluar bangsal dan melirik kepala kru dengan lirikan yang membuat kepala kru menelan ludahnya.


Semua mata melihat ke arah pria yang sedang berjalan dengan menggendong seorang wanita itu.


Melihat seseorang menggendong orang lainnya memasuki rumah sakit itu sudah biasa, tapi melihat seseorang menggendong seseorang lainnya keluar rumah sakit apa itu tidak aneh?


Raihan mana perduli, dia menggendong Pitaloka sampai ke dalam mobilnya lalu melaju ke hotel.


Tidak menunggu lama, Raihan sudah meminta koki hotel untuk membuat makanan sehat untuk Pitaloka.


Pitaloka bukannya membuka mulutnya saat Raihan ingin menyuapinya, tapi langsung memeluk Raihan.


Pitaloka memeluk pria di depannya itu dengan begitu erat, seperti sangat takut kehilangan.


Tentu saja, mengingat yang dia alami pagi tadi dia sama sekali tidak berlikir jika dia bisa selamat dan akan bertemu pria yang dia cintai itu lagi.


Tapi saat sadar, meski jarak Raihan lebih jauh dari beberapa orang di bangsalnya, tapi yang pertama Pitaloka lihat adalah Raihan yang sedang menangisinya.


"Aku sudah bersamamu, sekarang semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Raihan mengusap lembut kepala Pitaloka.


Pitaloka melepas pelukannya dan berkata "Aku pikir, aku tidak akan melihatmu lagi."


"Apa yang kamu katakan? Aku ada disini oke!" Ucap Raihan dan kembali menempatkan wanita itu kedalam pelukannya.


"Tapi aku sangat takut jika..."


Raihan tidak membiarkan Pitaloka melanjutkan perkataannya.


"Tidak akan, kamu tau aku sudah mendapatkan penawar yang bisa seutuhnya memusnahkan obat itu?"


Ucapan Raihan tentu membuat Pitaloka bingung.


"Penawar? seutuhnya?" Tanya Pitaloka.


Raihan mengangguk sambil tersenyum, lalu mengeluarkan botol kecil yang berisi beberapa pil dari sakunya.


"pil-pil ini akan membebaskanmu dalam 6 hari kemudian."


Raihan sangat yakin itu,karena dia sudah melihat efeknya tadi. Pitaloka sudah memakannya satu dan sisa enam pil lagi maka Pitaloka akan bebas dari obat terkutuk itu.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


Jelas Pitaloka mempertanyakan itu, karena dia sendiri sudah cukup lama mencari tau tapi yang dia dengar selalu sama, bahwa meski banyak peneliti hebat yang sedang meneliti obat itu dan mencoba menciptakan penawarnya, tapi belum ada yang yang berhasil.


"Aku memiliki seorang sahabat yang merupakan seorang peneliti. Dan dia telah berhasil."

__ADS_1


Jawab Raihan, dalam hatinya dia berjanji akan membayar lebih kepada sahabat yang sudah menyelamatkan hidup wanitanya.


__ADS_2