GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Salah Paham


__ADS_3

"Hei paman kecil!"


Sesil masuk ke kantor Raihan dan langsung duduk di mejanya.


"Apa kamu tidak ke kampus?"


Tanya Raihan pada keponakannya yang sangat manja itu.


"Emm tidak. Hari ini tidak ada mata kuliah." Jawab Sesil sambil mengayunkan kakinya seperti anak kecil yang sedang bermain di atas meja Raihan.


"Pitaloka?"


"Tentu tidak. Haha paman, kalian...?"


Sesil mulai menggoda Raihan.


"Apa?"


Raihan berdiri dan menggelitik Sesil, begitulah keduanya memang sangat dekat dari Sesil masih kecil.


Sesil sudah kehilangan ayahnya saat masih balita, dan Raihan selalu hadir menjadi sosok ayah baginya.


"Haha, berhenti atau..."


"Selamat pagi."


Gibran, asisten Raihan datang dan langsung mendorong pintu. Tapi bukan itu yang membuat Sesil terdiam.


"Silahkan masuk."


Raihan merapikan pakaiannya lalu menarik Sesil ke sisinya dan turun dari mejanya.


Richard dengan enggan masuk kesana, kedekatan Sesil dengan Raihan tidak lepas dari matanya tadi, dan sekarang Sesil berada dalam pelukan Raihan.


"Maaf mengganggu anda." Ucap Richard.


"Tidak masalah, kami hanya sedang bermain."

__ADS_1


Perkataan Raihan disalah artikan oleh Richard.


Richard tidak berani menatap Sesil.


Melihat Sesil saat di club malam itu, datang dan membawa Raihan pergi sampai meninggalkan kliennya disana, ditambah melihat mereka begitu dekat tadi, Richard salah sangka dan mengira jika Raihan dan Sesil sungguh memiliki hubungan.


Raihan mencolek Sesil yang masih mematung agar dia segera pergi dari sana.


"Ok, saya permisi dulu."


Sesil segera keluar dari sana, tanpa menyadari jika saat ini pria yang dia cintai itu telah salah mengartikan kedekatannya dengan Raihan.


Richard tentunya tidak tau, jika Raihan Saloka yang kini bekerja sama dengan perusahaannya itu adalah paman Sesil, sehingga dia berpikir mereka adalah pasangan kekasih.


...


Pitaloka yang sedang mengerjakan tugas kampus, mendengar handphonenya berdering.


"Sedang apa?"


Tanya Raihan di seberang telpon.


Tanya Pitaloka yang membuat Raihan berkata "Apa perlu alasan untuk menghubungi kekasihku?"


Mendengar perkataan Raihan, Pitaloka baru teringat jika empat orang yang kini terancam keluar dari kampus memintanya untuk bicara pada Raihan.


"Oh tidak, Oh ya apa aku boleh meminta sesuatu?"


"Tentu, katakan!"


"Tolong tarik perintahmu pada pak Rektor."


Perkataan Pitaloka sontak membuat Raihan terkejut.


"Apa mereka mengancammu?"


"Tidak. Mereka justru telah meminta maaf padaku. Jadi aku mohon, tolong lepaskan mereka." Ucap Pitaloka.

__ADS_1


"Emm, baiklah. Tapi dengan syarat."


"Apa?"


"Malam ini kamu harus keluar denganku."


"Tidak, aku tidak mau keluar malam hari."


Permintaan Raihan langsung di tolak oleh Pitaloka, Raihan tentu tau sebabnya.


"Please, aku hanya membawa kamu ke tempat dimana hanya ada kita berdua disana."


"Baiklah."


"Tapi tetap bawa obatmu."


"Hmm."


Bagaimana pun, Raihan belum menemukan solusi agar Pitaloka bisa lepas dari obat itu.


...


Malam hari, lagi-lagi para tetangga kos Pitaloka dibuat heboh dengan kedatangan mobil mewah yang mereka sudah tau pemiliknya.


"Ayo!"


Raihan tanpa memperdulikan orang-orang disana, langsung menyambut Pitaloka yang sedang berjalan ke arahnya dengan canggung.


Raihan menggandeng tangan gadis cantik itu, dan membantunya masuk ke dalam mobil.


"Wah, beruntung sekali Pitaloka. Dia bisa menjadi wanita seorang CEO dari Saloka Grup."


Seru seorang gadis saat melihat kepergian mobil Raihan yang membawa Pitaloka bersamanya.


"Iya, aku saja sampai iri padanya." Kata gadis lainnya.


"Huh, paling juga hanya sementara. Pria setajir dan tampan seperti Raihan Saloka tidak mungkin hanya kemiliki satu wanita. Aku yakin, dia hanya sekedar singgah pada kecantikan Pitaloka,namun beberapa hari lagi pasti akan bosan dan meninggalkannya." Kata seorang gadis yang selalu iri pada kecantikan Pitaloka selama ini.

__ADS_1


Semua orang disana menatap Clara, dan berpikir jika yang dikatakan gadis itu memang benar.


__ADS_2