
Beberapa menit setelah Richard dan Pitaloka berada disana, Camelia membuka matanya.
"Sesil, kamu dimana sayang?"
Sesil yang sedang duduk bersama Richard dan Pitaloka di sofa tempat dia dan Raihan tertidur, mendengar suara ibunya.
Sesil segera berdiri dan berjalan cepat ke arah ibunya.
"Iya mah, Sesil disini. Mama bagaimana keadaannya, apa ada yang sakit?"
Mata Sesil yang baru kering, basah kembali. Dia sangat menghawatirkan ibunya itu.
Sesil sangat tau dengan jelas bagaimana dua penyihir di rumahnya memperlakukan ibunya dengan buruk selama ini.
Sebagai seorang anak, tentunya Sesil tidak mau melihat ibunya diperlakukan demikian.
Tapi karena tidak punya bukti jika kedua penyihir itu selalu menyakiti ibunya, Sesill tidak bisa berbuat banyak.
Namun saat ini, Sesil yakin, dia akan bisa membuat salah satu penyihir itu merasakan akibat dari perbuatannya.
"Kenapa kamu menangis? mama tidak apa-apa?"
Camelia mengusap air mata putrinya, sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dia melihat putrinya itu menumpahkan air matanya.
Richard dan Pitaloka yang melihat ibu dan anak itu, ikut merasakan haru. Terlebih Pitaloka yang sudah tidak memiliki ibu. Dia juga pernah berada diposisi Sesil, saat menangis memeluk ibunya yang sedang sakit. Tapi berbeda dengan Sesil yang sangat beruntung, Pitaloka harus kehilangan ibunya saat itu.
Sedang Richard juga teringat dengan ibunya, meski kasusnya berbeda, tetapi melihat Sesill memeluk ibunya, Richard mau tak mau harus mengingat ibunya juga. Ibu yang sangat dia sayangi, tetapi harus dia tinggalkan karena seorang pria bajingan.
__ADS_1
...
Malam hari, Raihan pulang dari kantor dan langsung ke rumah sakit.
Raihan terkejut melihat Pitaloka juga ada disana.
"Apa kalian sudah lama berada disini?"
Raihan enggan menyapa Pitaloka, karena dia tau gadis itu masih marah padanya, jadi dia menyapa Richard yang juga masih disana.
"Kami datang bersama siang tadi." Ucap Richard lalu melirik Raihan dan Pitaloka bergantian.
Dalam hati Richard berkata "Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah di antara kalian?"
Raihan merasa gugup dengan Pitaloka, kini keduanya seperti orang asing yang tidak saling kenal. Padahal baru beberapa hari lalu keduanya masih duduk berpelukan bersama.
Raihan menghampiri Camelia.
"Jauh lebih baik, maaf telah membuat kalian semua hawatir."
Ucap Camelia, dia merasa sangat bersyukur, meski hidup ini sangat sulit untuknya semenjak kepergian suaminya, tetapi melihat banyak orang yang perduli padanya dia sangat bahagia.
Apalagi Pitaloka tadi memberitahunya, jika pria yang juga berada disana saat ini adalah kekasih putrinya.
Camelia tersenyum melihat Richard dan Sesil bergantian.
Sesil tentu tau yang ibunya pikirkan saat ini.
__ADS_1
Sesil menjadi malu dan sedikit gugup.
"Selamat malam, saya akan mengecek kondisi Nyonya Camelia sekali lagi. Jika memungkinkan maka kalian bisa membawanya pulang malam ini juga."
Dokter masuk dan melakukan pengecekan pada ibu Sesil untuk memastikan kondisinya.
Setelah memastikan kondisi Camelia sudah membaik, dokter mengizinkan Camelia pulang.
"Apa kalian tidak ikut bersama kami?"
Tanya Camelia pada Pitaloka dan Richard.
Pitaloka melirik Richard, lalu menjawab.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut tan, maaf. Jika Richard mau, aku akan naik taksi saja."
"Tidak, ini sudah malam. Lagian tante juga harus istirahat. Mungkin lain waktu saja kami akan mengunjungi tante."
Richard tentu tidak akan tega membiarkan Pitaloka pulang sendiri. Lagian benar, Camelia harus istirahat, jika dia kesana itu akan mengganggu waktu istirahatnya.
"Baiklah, terima kasih karena sudah menemani tante dan Sesil hari ini."
Camelia dengan ramah tersenyum kemudian memasuki mobil Raihan.
Raihan yang sudah duluan masuk ke mobil tak hentinya melihat Pitaloka dari balik kaca hitam mobilnya.
"Andai kamu tau, betapa rindunya aku padamu." Batin Raihan.
__ADS_1