GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Aku Akan Lebih Memanjakannya


__ADS_3

Kedua pria itu kini duduk termenung disana, masing-masing memikirkan nasibnya sendiri.


"Apa penawarannya masih berlaku?


Raihan memecah keheningan di ruangan itu.


"Penawaran apa? bukankah Sesil keponakan kamu, lalu bantuan apa yang bisa kamu beri, aku hanya meminta kamu memutuskan Sesil tadinya karena aku yang bodoh ini salah mengartikan kedekatan kalian, tapi kalian bukan pasangan bukan!?"


Richard berdiri dan hendak pergi dari sana.


"Tenang saja, aku akan tetap mencari tahu penyebab wanitamu marah, dan aku juga akan berusaha membujuk dan membantu kamu sebisa mungkin."


Sambung Richard lalu berjalan ke arah pintu.


"Aku juga akan membantu kamu mendapakan ponakan manjaku itu."


Perkataan Raihan sontak membuat Richard menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Sungguh?"


"Iya, lagian aku sudah sangat lelah menuruti sifat manjanya selama ini."


"Tenang saja, aku akan lebih memanjakannya nanti."


Richard keluar dari sana dengan tersenyum, setidaknya dia masih ada peluang untuk mendapatkan Sesil.


...

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kamu meminta penjelasan pada paman? menurutku ada salah paham disini. Maksudku, mungkin benar paman pria itu, tetapi sama sepertimu yang tidak mengetahui jika itu paman, mungkin paman saat itu juga tidak tau jika itu adalah kamu."


Saat berjalan keluar kelas, Sesil mencoba membujuk Pitaloka untuk menemui Raihan dan membicarakan masalah yang terjadi dua tahun lalu.


"Kamu taukan, diantara tiga pria yang paling aku benci, salah satunya pria itu? lalu buat apa membicarakan kejadian itu lagi dengannya, itu tidak akan merubah kenyataan bukan?"


"Baiklah, meski pun dia pamanku tapi aku akan tetap membelamu."


"Tidak perlu membela satu di antara kami. Aku hanya memerlukanmu menemaniku seperti biasanya, itu sudah cukup."


Keduanya kembali berjalan sambil bergandengan tangan.


"Apa mau aku antar?"


Tanya Sesil. Mobilnya sudah diperbaiki dan dikirim oleh supir keluarganya ke kampus.


Pitaloka masuk ke dalam mobil Sesil, lalu keduanya menuju apartemen Richard.


"Ayo masuk."


Saat sampai di depan apartemen Richard, Pitaloka menarik Sesil yang hendak pergi dari sana mengikutinya ke lantai dimana unit Richard berada.


"Kenapa mengemas barangmu?"


Tanya Sesil saat melihat Pitaloka sibuk memasukkan pakaiannya yang sudah dia gantung di lemari kembali ke dalam koper.


"Apa kamu tidak cemburu jika aku berlama-lama disini?" Goda Pitaloka pada Sesil.

__ADS_1


"Kenapa harus cemburu?" Sesil menunduk saat mengatakan itu dan membuat Pitaloka tersenyum.


"Aku memang berencana tinggal sehari ini saja disini, kemudian mencari kos baru." Ucap Pitaloka.


"Kenapa tidak kembali ke kos yang lama?" Tanya Sesil.


"Tidak, aku rasa jika aku disana, pamanmu itu akan menemuiku, dan... dan aku takut luluh padanya."


Sebenarnya Pitaloka sungguh mencintai Raihan. Karena itulah rasa sakitnya serasa berlipat ganda saat mengetahui kenyataannya.


Tapi meskipun begitu, dia memutuskan pergi dari kosnya, karena dia takut jika Raihan akan kesana dan membuatnya luluh kembali.


"Ayo."


Pitaloka sudah selesai mengemas pakaiannya.


"Apa kamu akan pergi tanpa pamit dengan yang telah memberimu tumpangan?"


Pertanyaan Sesil membuat Pitaloka berpikir. Dia belum berterima kasih atas kebaikan teman barunya itu.


"Tidak perlu buru-buru, besok aku akan menemani kamu mencari kos baru. Malam ini kamu boleh tinggal disini untuk mengucapkan terima kasih dan pamit padanya."


"Tapi..."


Pitaloka tidak diberi kesempatan bicara, Sesil sudah keluar dari sana dengan suasana hati yang senang karena saat ini dia mendapatkan sahabat baiknya lagi. Dan jika Richard benar juga mencintainya maka...


Sesil keluar dari apartemen itu dan memasuki mobilnya, kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2