
Camelia dan Richard ikut bahagia mendengar kabar kehamilan Pitaloka.
"Selamat sayang, entah harus menyebut diri tante ini tante atau kakak ipar kamu, tapi sungguh, tante ikut bahagia mendengar kabar baik ini."
Camelia duduk disamping Pitaloka dan memeluknya pelan.
Namun sikap dan ucapannya itu membuat Pitaloka merasa canggung.
"Maaf, tapi sepertinya kalian berlebihan. Maksud aku, aku belum pasti sedang hamil. Meski dokter merasa sangat yakin dengan gejalah yang aku alami, tapi dokter juga berkata jika janinnya belum terlihat. Kami harus kembali memastikannya seminggu kemudian."
Pitaloka harus mengatakan ulang yang dokter katakan, karena dia takut jika nantinya keluarga Raihan akan kecewa jika saja ternyata dia tidaklah hamil.
"Sudahlah jangan membahas ini lagi. Satu minggu kemudian kita semua akan memastikannya di rumah sakit. Tapi untuk saat ini kita hanya perlu fokus pada acara pernikahan kita." Ucap Raihan sambil mengusap pelan kepala Pitaloka.
"Terutama kamu dan Richard. Aku serahkan segala sesuatunya pada kalian." Sambung Raihan pada Sesil dan Richard, yang langsung disetujui Sesil dengan penuh semangat.
"Siap bos!" Ucap Sesil.
"Kamu tenang saja, fokus saja pada Pitaloka dan calon bayi kalian. Aku pastikan, sebelum hari gelap besok, semuanya sudah beres."
Richard berkata penuh keyakinan.
"Terima kasih."
Raihan kemudian permisi untuk membawa Pitaloka beristirahat. Sejak tadi dia memperhatikan Pitaloka yang menahan kantuk.
__ADS_1
Hari masih siang, bahkan baru memasuki waktu makan siang. Tapi mungkin efek janin yang berkembang di perutnya, sehingga Pitaloka kini gampang ngantuk.
Raihan membawa Pitaloka ke kamarnya dan menyuruh pelayan membawakan makan siang ke kamar.
Richard ikut makan siang atas permintaan Camelia.
"Belum resmi jadi menantu saja sudah manja begitu." Cetus nenek tua saat semua orang mulai makan.
Sesil ingin menyahuti, tapi Richard memegang tangannya sambil menggeleng agar Sesil diam saja.
"Dasar penyihir tua." Batin Sesil kesal.
"Kamu kenapa diam saja? bukankah kamu juga tidak menyukai wanita itu?"
"Itu sudah menjadi pilihan Raihan, maka biarlah. Aku yakin, siapa pun yang dia pilih, maka itu yang terbaik."
Perkataan Hestie itu membuat nenek tua terkejut. Ada apa dengan seorang Hestie? Kenapa dia bisa menerima Pitaloka dengan mudah?
Sesil dan Camelia pun sama terkejutnya.
Sejak kemarin, sikap Hestie sangat berbeda. Dia bahkan menyapa Camelia dengan baik tadi pagi, padahal biasanya, untuk sekali pun tidak.
...
Sore hari, Richard dan Sesil mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Raihan.
__ADS_1
Hingga larut malam, semuanya sudah kelar.
Undangan tercetak dengan cepat, tanpa melewatkan satu kerabat pun. Bahkan semua teman bisnis Raihan juga di undang, termasuk produser, kepala kru, dan seluruh anggota kru yang bekerja sama dalam syuting Pitaloka.
Petugas dekorasi, catering, perias dan yang lainnya sudah siap untuk mulai bekerja besok subuh.
"Baiklah, aku pulang dulu." Ucap Richard.
Kini hanya dirinya dan Sesil di ruang tamu. Tadinya semua anggota keluarga ikut sibuk membantunya, tapi karena sudah larut malam, semua orang masuk ke kamar dan mungkin sudah tidur.
Jangan tanyakan Pitaloka. Sejak siang dia hanya bangun untuk mengunyah makanan lalu tidur lagi. Seperti yang Raihan katakan, 'kucing malas'. Gadis itu memang persis seperti seokor kucing pemalas.
"Pulanglah, katanya mau pulang." Ucap Sesil saat Richard masih saja berdiri disana.
"Hadiahku mana?" Tanya Richard yang membuat Sesil si lugu itu bingung.
"Ulang tahun kamu masih jauh bukan? terus mau hadiah untuk apa?" Tanya Sesil balik.
"Aku sudah sangat capek membantu persiapan nikahan paman dan sahabat kamu, masa iya aku tidak dikasih hadiah." Keluh Richard.
"Oh, terus kamu mau hadiah apa?"
Pertanyan Sesil yang polos itu, membuat Richard tersenyum menatapnya.
Richard kemudian melangkah hingga hanya jarak satu centi yang mengantarai keduanya.
__ADS_1