GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Perkenalan


__ADS_3

"Itu dia."


Sesil menunjuk Pitaloka yang sedang berjalan ke arahnya.


Pitaloka berjalan dengan gaya khasnya seperti saat masih di tempat pelacuran, bukan sengaja ingin menarik perhatian orang, namun dia sudah terbiasa dengan gaya itu.


Raihan yang mendengar suara langkah kaki yang terdengar seperti alunan musik itu melihat ke arah yang Sesil tunjuk dan terpesona melihat Pitaloka yang sedang menghampirinya dengan senyumnya yang sangat indah.


"Maaf, apa aku membuat kalian menunggu?" Kata Pitaloka dengan sedikit heran dan bertanya "Oh ya dimana paman kamu?"


"Ekhmm." Raihan dibuat batuk dengan pertanyaan Pitaloka pada Sesil.


Raihan menendang kaki Sesil di bawah meja karena kesal, yang benar saja ponakannya ini bahkan menyebutnya paman pada sahabatnya. Bahkan jika tidak terbiasa sejak Sesil masih kecil, jika Sesil yang memanggilnya paman saja, itu sudah sangat ambigu karena usia mereka hanya berjarak 6 tahun.


"Hehe, perkenalkan ini Pitaloka, dan ini paman kecil aku Raihan."


Sesil sambil cengengesan memperkenalkan keduanya.

__ADS_1


Pitaloka menatap Raihan yang duduk di depannya, dia baru memperhatikan jika pria itu sangat tampan dengan ciri khasnya yang terlihat sangat berwibawah.


"Oh maaf, Pitaloka."


Pitaloka mengulurkan tangannya pada Raihan yang mengingat jika Pitaloka adalah gadis yang hari itu menangis di tepi danau saat dia sedang berenang.


"Raihan." Raihan meraih tangan Pitaloka dan merasa seperti kesetrum saat tangannya bersentuhan dengan tangan lembut Pitaloka.


"Jadi pa, hehe jadi bagaimana apa kamu menyukainya?" Tanya Sesil pada Raihan lagi-lagi hampir mendapat tendangan karena hampir memanggilnya paman.


"Iya, aku suka, besok kamu boleh langsung membawanya ke tempat suting." Kata Raihan sambil mengalihkan pandangannya dari Pitaloka, entah kenapa jantungnya berdegup kencang setiap melihat senyum manis Pitaloka.


"Hei lepaskan." Raihan sangat kesal saat ini, dia merasa malu dilihat oleh Pitaloka dipeluk oleh Sesil.


"Hehe." Sesil hanya tersenyum tak bersalah saat ini, apa daya dia memang sejak kecil selalu bersikap manja pada paman kecilnya itu, tapi pamannya yang agak galak itu selalu memarahinya kalau dia memanggilnya paman di depan orang lain. Yah usia Raihan memang baru 26, tapi dia tetap pamannya kan?


"Baiklah, aku juga ada pertemuan di ruangan anggrek, aku permisi dulu." Raihan yang sebenarnya merasa malu dan gugup saat melihat Pitaloka terlihat cuek di mata Pitaloka. Raihan pergi dari sana dan memasuki ruangan dimana kliennya sudah menunggu.

__ADS_1


...


Pitaloka yang melangkah keluar dari bar merasakan tubuhnya menggigil. Dia tau jika ini saatnya dia minum obat terkutuk itu.


"Pit? ya ampun!" Sesil yang sudah tau segalanya tentang Pitaloka merasa bingung saat ini.


"Dimana obatmu?" Tanya Sesil, dia tau jelas jika tidak segera meminum obat itu, maka temannya itu akan tiada karena kesakitan.


Pitaloka menggelengkan kepalanya "Tidak, aku tidak mau makan obat terkutuk itu lagi." Kata Pitaloka dengan keringat mulai membasahi tubuhnya.


"Tapi kamu tidak akan kuat, katakan dimana obatnya?" Kata Sesil sambil mencari obat itu di dalam tas Pitaloka yang kini semakin bermandikan keringat karena menahan sakit.


"Tidak ada, aku sudah membuangnya."


Perkataan Pitaloka membuat Sesil terkejut.


"Ya ampun aku harus bagaimana sekarang?"

__ADS_1


Sesil melihat sekeliling berharap bisa menemukan seseorang yang dapat memberinya bantuan, tapi percuma, siapa yang bisa membantunya sedang dia sendiri tahu jika yang di butuhkan Pitaloka saat ini hanya obat itu dan tidak mungkin baginya meminta orang asing membeli obat itu.


__ADS_2