
Hari ini adalah hari minggu. Sesil yang sudah merencanakan semuanya sejak malam hari, keluar rumah pagi-pagi sekali.
(dering ponsel)
Sesil melihat panggilan masuk Richard dan segera mengangkatnya.
"Halo!"
"Selamat pagi, apa kamu punya kegiatan hari ini?" Tanya Richard yang berencana mengajak Sesil jalan-jalan.
Sesil berpikir sejenak, apa dia memberi tahu Richard tentang rencananya atau tidak? tapi kemudian dia memutuskan untuk tidak memberitahunya, karena sama dengan Raihan, Sesil juga tidak mau membebani dan tergantung pada Richard.
"Iya, meski ini hari libur, tapi aku ada tugas yang harus aku kerjakan."
Sesil tidak mengatakan itu tugas apa dan dari mana. Karena dia tidak mau membohongi pria yang dia cintai. Namun jika mengatakan ada tugas saja, maka dia tidaklah bohong, karena saat ini dia memang harus melakukan tugasnya sebagai seorang anak untuk ibunya.
"Oh ya sudah, semangat. Kabari aku jika tugas kamu sudah selesai."
Richard tidak mengatakan niatnya yang ingin mengajak Sesil jalan-jalan, karena dia tidak mau Sesil meninggalkan tugasnya, yang Richard pikir itu adalah tugas kuliah.
"Ok!" Ucap Sesil lalu merenung sejenak.
Richard mengira Sesil akan langsung mematikan sambungan telponnya. Tapi ternyata tidak.
"Aku mencintaimu." Ucap Sesil.
__ADS_1
Entah apa yang mendorongnya berani mengungkapkan perasaannya yang memang sudah Richard tau.
"Aku juga mencintaimu." Balas Richard dengan tersenyum bahagia. Rasanya dia seperti mendapatkan hadiah saat ini.
Sesil memutuskan panggilan itu dan memeluk erat ponselnya.
Rasanya saat ini dia merasakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.
...
Sesil mengemudikan mobilnya menuju alamat Ramlah yang dia dapat dari buku daftar identitas para pelayan yang ada di kamar nenek tua.
Sesil mencari alamat dan foto copy kartu identitas Ramlah tadi malam, di dalam kamar nenek tua saat nenek tua sudah terlelap.
"Iya, ini alamatnya."
Saat Sesil mau membuka pintu mobilnya, gerakannya terhenti karena melihat Faris keluar dari rumah itu bersama Ramlah.
"Aku pergi dulu, jaga baik-baik bayi kita. Aku akan berusaha mengumpulkan harta yang berlimpah untuk menyambut kelahirannya."
Faris mengecup kening Ramlah dan pergi dari sana.
Untungnya, Faris tidak memperhatikan mobil Sesil yang terparkir di pinggir jalan.
Saat Mobil Faris melaju jauh, Sesil segera turun dari mobilnya.
__ADS_1
Dia mau langsung menghampiri Ramlah untuk meminta pengakuannya, tapi seketika otak kecilnya berpikir jika dia bertanya secara langsung, Ramlah pasti tidak akan mengaku.
Jadi, Sesil berjalan pelan ke arah samping rumah itu dan berusaha masuk diam-diam untuk mencari bukti apapun tentang Ramlah dan Faris.
Dan benar saja, saat Sesil memasuki rumah itu lewat jendela, dia ternyata memasuki kamar utama yang merupakan kamar Ramlah.
Dan yang membuat Sesil terkejut adalah, beberapa foto yang terpajang di dinding kamar itu.
"Faris dan Ramlah?"
Sesil melihat foto paling besar disana, itu adalah foto pernikahan Faris dan Ramlah.
"Jadi mereka... emmm emmm"
Saat Sesil melihat foto itu dengan serius, tiba-tiba Faris dan Ramlah menutup mulutnya dari belakang.
...
"Kita apakan bocah ini?" Tanya Ramlah.
Saat Ramlah mau memasuki kamarnya, dia melihat Sesil dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Ramlah segera menelpon Faris yang belum pergi jauh dan memintanya putar balik.
Faris melihat Sesil yang kini tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Entahlah, jika kita membebaskannya dia pasti akan membongkar rahasia kita dan membuat usaha keras kita selama ini sia-sia. Tapi jika kita mengurungnya, kita juga akan berada dalam posisi berbahaya. Karena cepat atau lambat, Raihan pasti menyadari hilangnya bocah ini, dan Raihan pasti akan mencarinya sampai ke ujung akar pohon sekali pun."
Faris merasa dilema saat ini. Entah harus dia apakan Sesil yang kini pingsan itu. Dia merasa sedang berhadapan dengan buah simalakama, dimana jika memakannya atau tidak maka dia tetap akan mati.