GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Rencana Richard


__ADS_3

"Halo...!"


Sesil mengangkat telpon dari nomor yang tidak dia kenal.


"Apa kamu mengingatku?"


Richard yang akhirnya memutuskan untuk merebut Sesil dari Raihan menghubungi Sesil sore itu.


"Richard?"


Tentu saja Sesil tidak akan melupakan suara pria yang sudah sejak lama membuat tempat di hatinya itu.


"Baguslah kalau kamu ingat. Jadi, Nona Sesil, bagaimana tanggung jawab anda atas kerusakan mobil saya?"


Richard berniat mengikat Sesil dalam tanggung jawab atas kerusakan yang telah Sesil lakukan pada mobilnya.


"Oh, tentu.Saya akan mengirim ganti ruginya, kirim saja nomor rekening anda."


Sesil menarik nafas lalu mencoba bicara dengan tenang yang sebenarnya saat ini jantungnya sedang berdegub kencang.


"Apa aku terlihat kekurangan uang?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


Sesil tidak mengerti dengan perkataan Richard. Dia tau jika Richard bukan orang yang tidak beruang, tapi dia meminta tanggung jawab bukan? kalau bukan ganti rugi berupa uang, lalu apa?


Richard tersenyum, inilah rencana Richard untuk memaksa Sesil berada di sisinya dan jauh dari Raihan yang mungkin lebih kaya darinya. Tapi karena cinta, Richard tidak perduli meski harus melawan Raihan.


"Aku ingin kamu bekerja padaku." Ucap Richard.


"Apa?" Sesil tentu terkejut, kenapa Richard meminta ganti rugi seperti itu.


"Iya, aku membuka cabang perusahaanku disini dan aku kekurangan orang. Jadi aku harap nona Sesil mau bekerja padaku sebagai bentuk rasa tanggung jawab anda."


Meski Richard berkata seolah Sesil begitu asing baginya, tapi sama seperti Sesil, kedua jantung orang yang sok saling mengasingkan itu kini berdegub sangat kencang.


"Tapi aku seorang mahasiswi, bagaimana bisa bekerja?" Keluh Sesil.


Tentu saja Richard tidak tega begitu membenani Sesil, dia tidak akan mengganggu pendidikannya. Dia hanya ingin membuat Sesil memiliki jadwal penuh ke kampus dan ke perusahaannya, jadi Sesil tidak akan ada waktu bersama Raihan.


"Emm baiklah. Tapi ingat, aku seorang pelajar, aku tidak akan lebih mementingkan perusahaanmu dari pada pendidikanku." Ucap Sesil lalu begitu saja memutuskan sambungan telponnya.


Richard hanya tersenyum melihat panggilannya sudah terputus. Dia yakin, meski saat ini wanita itu pasti kesal padanya, tapi dengan menunjukkan cintanya saat bertemu lagi, Sesil pasti akan kembali mencintainya.


"Terlebih dahulu mendekatinya? huh tidak akan."


Sesil mendengus kesal, dia sudah mempertimbangkan perkataan Pitaloka untuk terlebih dahulu mendekati Richard kembali, tapi itu sebelum Richard menelponnya. Sekarang dia sangat kesal. Meski dia mencintai pria itu, tapi dia tidak akan mengejarnya terlebih dahulu.

__ADS_1


...


Setelah menghabiskan makanan yang Raihan bawa, Pitaloka tertidur di dalam pelukan Raihan.


"Aku harus berterima kasih pada sahabatku itu."


Raihan ingin menelpon Kelvin, tapi Pitaloka terlelap di pelukannya dan menjadikan lengannya sebagai bantal.


"Terima kasih, obatmu berhasil. Aku pasti akan membayarmu berapapun yang kamu mau."


Raihan mengetik pesan dengan hati-hati, dia tidak menelpon karena takut suaranya akan mengganggu tidur gadis yang kini di pelukannya itu.


"Aku janji, setelah ini kamu tidak akan menderita lagi." Gumam Raihan.


Raihan mengecup kening Pitaloka lalu ikut tidur dengannya.


(dering handphone)


Ditengah tidurnya, Raihan terbangun karena bunyi handphone Pitaloka.


Perlahan Raihan meletakkan kepala Pitaloka di atas bantal, lalu turun dari tempat tidur.


Raihan melihat jika itu sebuah kontak baru.

__ADS_1


__ADS_2