GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Ini Adalah Penderitaan Mama Yang Terakhir


__ADS_3

Mendengar ibunya keracunan makanan, membuat Sesil menebak satu hal.


"Siapa yang memberikan makan malam untuk ibuku?" Tanya Sesil pada pelayan yang dari tadi berdiri disana dengan gugup.


"A aku Non." Ucap pelayan itu sedikit gemetar.


"Sungguh? lalu siapa yang membuat makanan itu?" Tanya Sesil lagi, penuh selidik.


"A aku sen diri Non." Pelayan itu semakin gemetar, dia sendiri yang memasak dan memberikan makan malam tadi pada Camelia, tapi dia tidak menyangka jika makanan itu sudah tercampur racun.


"Apa kamu yakin tidak ada orang lain saat kamu menyiapkan makanan itu?"


Kini Raihan yang bertanya pada pelayan itu. Tentunya membuat pelayan itu semakin ketakutan.


"Tidak ada Tuan, disana hanya ada aku dan..." Berkata sampai disitu, pelayan itu berhenti dan tetingat sesuatu.


"Ramlah, aku melihat Ramlah... pelayan kepercayaan Nenek Tua keluar dari dapur, saat aku baru keluar dari toilet dan meninggalkan makanan yang sudah aku sajikan untuk Nyonya."


Terjawab sudah pertanyaan Raihan dan Sesil.


"Baik, kamu boleh pulang. Lagian tidak ada yang bisa kamu lakukan disini." Ucap Raihan.


"Tunggu, jangan bilang siapa pun jika kamu telah menyebut nama Ramlah kepada kami." Ucap Raihan lagi.


"Baik Tuan."


Pelayan pergi dari sana, dipercayai oleh tuannya saja sudah sangat membuatnya bersyukur. Dia tau, mungkin tuannya itu merasa curiga pada Ramlah yang merupakan pelayan kepercayaan nenek tua selama beberapa tahun ini.

__ADS_1


Pelayan berjalan sambil mengingat-ngingat kembali tentang Ramlah yang mencurigakan.


"Aku akan menyelidiki ini." Batin pelayan Camelia dan bergegas pulang ke kediaman keluarga Saloka.


...


Diluar bangsal, Sesil bersandar di pundak Raihan menunggu dokter keluar.


"Untunglah Nyonya cepat di bawa kesini, jika terlambat satu menit saja, mungkin kami akan sulit menyelamatkan nyawanya."


Dokter keluar dan bernafas legah, meski sulit tetapi kini kondisi Camelia sudah aman.


Mendengar tingkat keparahan efek racun itu, membuat Sesil terkejut.


"Berikan sampel racun itu, aku sendiri yang akan menyelidikinya."


Tapi berbeda dengan Sesil, dia bisa menebak siapa pelakunya. Dia bersumpah, akan memberikan pelajaran yang lebih untuk orang itu.


...


"Paman pulang saja, biar Sesil yang menemani mama."


Sesil kasian melihat Raihan yang tampak kelelahan karena pekerjaan dan sekarang harus menemani dirinya dan ibunya.


"Tidak, paman akan disini bersamamu."


Raihan tentu tidak akan tega meninggalkan ponakannya itu dalam kondisi seperti saat ini.

__ADS_1


Keduanya duduk di sofa dan tertidur.


...


Pagi hari, seorang suster membangunkan keduanya.


"Maaf, kami akan melakukan pemeriksaan pada pasien." Kata suster itu sambil tersenyum melihat paman dan ponakan yang tampak lebih mirip pasangan kekasih itu.


"Baiklah paman akan pulang dulu, nanti paman akan menyuruh pelayan membawa pakaian dan makanan untukmu."


Raihan berdiri dan mengusap kepala Sesil.


"Baik paman."


Sesil sangat bersyukur, dalam situasi sulit seperti ini, selalu ada pamannya yang menemaninya dalam bentuk sosok ayah.


"Bagaimana keadaan ibu saya?"


Sesil menghampiri suster yang baru selesai mengecek kondisi ibunya.


"Pasien pulih dengan baik, sebentar lagi akan sadar, hanya menunggu efek obat hilang saja."


Ucap suster tersebut lalu pergi dari sana.


Sesil duduk di samping ibunya dan memegang jemari ibunya itu.


"Aku berjanji mah, ini adalah penderitaan mama yang terakhir. Aku tidak akan membiarkan penyihir itu menyakiti mama lagi setelah ini."

__ADS_1


Sesil sangat yakin, jika orang yang dia curigai adalah pelakunya.


__ADS_2