GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Kamu Terkejut Bukan? Sama, Aku pun Demikian


__ADS_3

Richard yang pulang dari perusahaan saat jam 8 malam, disambut dengan wangi makanan dari ruang makan.


"Mmm wangi sekali. Aku baru akan memesan makan malam saat sampai, tapi kamu sudah terlebih dahulu memesannya." Ucap Richard sambil duduk di depan meja makan.


Pitaloka tersenyum lalu berkata "Aku sendiri yang memasaknya, mungkin tidak cocok dengan selera kamu, tapi aku sengaja memasak semua ini sebagai wujud terima kasihku karena kamu telah memberiku tempat tinggal disini."


Mendengar ucapan Pitaloka, barulah Richard memperhatikan satu persatu hidangan di atas meja.


"Iya, aku lihat semua masakan ini bahkan tidak tersedia di restoran mana pun. Mmm kelihatannya sangat enak."


Richard mengambil beberapa sendok makanan di depannya dan mulai mencicipinya satu persatu.


"Wah lezat sekali, semenjak tinggal disini aku tidak pernah makan masakan rumahan selezat ini lagi, dulu mamaku juga..."


Richard memuji masakan Pitaloka yang begitu merajai lidahnya. Tapi berkata sampai disitu dia berhenti, dia teringat dengan ibunya yang juga sangat suka memasak. Akan tetapi saat ini, setiap mengingat ibunya, bayangan Kamal juga mengikutinya.


"Jangan rusak selera makanmu hanya karena bajingan itu. Ayo habiskan, karena mungkin setelah ini kamu akan merindukan masakanku."

__ADS_1


Pitaloka mengerti apa yang saat ini Richard pikirkan, dia berkata sambil mengambilkan makanan lainnya lagi untuk Richard.


"Maksud kamu?" Tanya Richard.


"Besok aku akan mencari kos, tidak mungkin kan aku disini terus? itu akan membuat sahabatku sakit hati."


"Ekhmm ekhmm ekhmm."


Perkataan Pitaloka membuat Richard tersedak. Bukan karena kalimat pertama Pitaloka, tapi kalimat terakhirnya.


"Jika kamu memang mempunyai perasaan yang sama kepada Sesil, maka ungkapkan. Ingat, wanita itu gengsinya sangat tinggi, jadi sebagai pria kamu yang harus memulainya." Ucap Pitaloka.


Richard hanya mengangguk-ngangguk merespon ucapan Pitaloka yang sangat benar itu. Seharusnya sudah sejak pertama dia sampai di kota ini, dia mengungkapkan perasaannya kepada Sesil. Mungkin jika itu dia lakukan, tidak akan ada salah paham yang terjadi seperti yang dia duga selama ini.


Keduanya kemudian menikmati makan malam bersama. Sampai Richard kembali buka suara.


"Apa yang membuat kamu begitu marah pada Raihan?"

__ADS_1


Pertanyaan Richard itu membuat Pitaloka menghentikan gerakan sendoknya.


"Jika kamu mempercayaiku, katakan saja, mungkin seperti diriku, ada salah paham di antara kamu dan Raihan."


Richard lanjut berkata, dia juga sudah menceritakan kepada Pitaloka tentang dirinya yang beberapa hari ini salah paham dengan kedekatan Raihan dan Sesil.


"Tidak, ini tidak seperti masalahmu dengan Sesil. Kamu ingat saat kemarin malam aku menceritakan bos bernama Modan yang memaksaku melayani pria untuk pertamakalinya dengan memberiku obat?" Tanya Pitaloka mengingatkan Richard kembali.


"Iya, lalu apa hubungannya dengan masalah kamu dan Raihan?" Richard mengangguk lalu bertanya balik.


"Pria yang pertama aku layani itu... Raihan."


Perkataan Pitaloka kali ini membuat Richard sangat terkejut. Pitaloka sudah mengatakannya kemarin malam, jika ada tiga pria yang paling dia benci dan ingin dia hancurkan. Dan salah satunya adalah pria yang pertama kali merebut kesuciannya itu.


"Kamu terkejut bukan? sama, aku pun demikian. Saat dua hari yang lalu Modan menelponku dan mengatakan itu, aku lebih terkejut dari pada dirimu. Aku tidak menyangka jika pria yang kini aku cintai adalah pria yang dengan sengaja mengambil keuntungan dariku dua tahun lalu dan merusak hidupku."


Pitaloka seakan kembali ke masa lalu. Ingatannya berputar disaat dirinya yang setengah sadar berusaha menolak Raihan yang menindihnya, tetapi Raihan sama sekali tidak memahaminya dan menerjangnya dengan buas.

__ADS_1


__ADS_2