
Raihan menggendong Pitaloka dan melihat Hestie masih menangis di pelukan nenek tua.
Raihan membawa Pitaloka naik ke kamarnya dan membaringkan Pitaloka di atas kasurnya.
Saking lelapnya, Pitaloka tidak terbangun sama sekali saat Raihan mengecup pelan bibirnya.
"Sejak kapan kamu tidur seperti kucing malas begini?" Gumam Raihan lalu menutupi Pitaloka dengan selimut.
...
"Sudahlah, pria itu tidak pantas kakak tangisi."
Raihan menghampiri Hestie di ruang tamu.
Hestie mengangkat wajahnya dan menatap Raihan.
"Huhu."
Seketika tangisan Hestie yang sudah agak reda pecah kembali.
melihat kakaknya begitu sedih, Raihan mendekatinya.
"Sudah, kakak yang sabar. Lupakan pria itu dan mulailah hidup kakak kembali." Ucap Raihan mencoba menenangkan kakaknya.
Namun sesaat kemudian perkataan Hestie yang terbawa perasaan mengejutkannya.
__ADS_1
"Huhu, aku kurang apa? aku sangat mencintainya, bahkan begitu mempercayainya. Sampai saat kak Kenan mengatakan jika dia hanya mempermainkanku, aku tidak percaya dan malah bertengkar dengannya hingga dia..."
Hestie yang menyadari jika dia telah keceplosan dan mendapati tatapan Raihan, menutup mulutnya.
"Hingga apa? Katakan!"
Sesil yang masuk mendengar ucapan Hestie dan membuatnya menebak sesuatu.
Hestie diam tak menjawab. Bukan hanya Raihan dan Sesil, bahkan nenek tua dan Camelia yang baru turun sedang menatapnya.
"Katakan!" Teriak Sesil lagi dan sontak mengejutkan Hestie yang masih belum bisa menghapus rasa bersalahnya pada mendiang Kenan.
tujuh tahunan silam, Hestie bertengkar di atas tangga dengan Kenan. Kenan memberi tahunya jika Faris bukanlah pria yang baik dan menyarankan pada Hestie untuk meninggalkan Faris, yang saat itu keduanya baru berencana menikah.
Namun Hestie malah marah dang mulai berdebat dengan mendiang kakaknya itu, sehingga tanpa sengaja Hestie mendorong Kenan dan membuat Kenan terjatuh dan kehilangan banyak darah.
Hestie yang saat itu sedang ketakutan pun ikut menambahi agar nenek tua semakin menyalahkan Camelia sehingga dirinya bebas dari tuduhan.
"Tidak, aku tidak sengaja mendorong kak Kenan hingga terjatuh dari tangga dan..."
Berkata sampai disitu Hestie tidak lagi bisa meneruskan.
"Apa? jadi kamu yang membunuh cucu tertuaku?"
Nenek tua yang tadinya masih memeluk Hestie, sontak berdiri dan menunjuk wajah Hestie.
__ADS_1
"Maaf, tidak, a aku... aku tidak sengaja huhu."
Hestie tidak tau bagaimana menghadapi tatapan tajam semua orang saat ini.
"Pembunuh! Aku juga akan melenyapkan mu."
Sesil melangkah dan mengacak-acak Hestie. Rasanya dia ingin sekali menghabisi bibinya itu, karena dialah sehingga dirinya dan ibunya harus menderita tanpa kehadiran sang ayah.
"Sudah sayang, hentikan. Jangan menodai tangan sucimu dengan menyentuh wanita sepertinya."
Camelia memeluk Sesil. Dia sendiri sangat marah mengetahui kenyataan itu. Tapi, seperti yang dia katakan, dia tidak mau jika tangan suci putrinya atau pun tangannya sendiri ternoda.
"Apa yang kakak ipar inginkan? jika kakak ipar mau, sekarang juga aku akan menghubungi polisi."
Meski berat, tapi Raihan harus bersikap adil. Disini jelas kakak perempuannya itu telah melakukan kesalahan besar.
Camelia tidak langsung menjawab, dia melihat putrinya yang masih bernafas dengan menggebu itu saking marahnya.
"Jika Sesil setuju, maka itu tidak perlu. Lagi pula dia telah mendapat karmanya sendiri."
Ucap Camelia sekilas melihat Hestie.
Sejak awal Camelia juga sudah menaruh rasa curiga pada Hestie, gelagatnya yang mencurigakan dan juga jejak sepatu Hestie yang ada di atas tangga tempat mendiang suaminya terjatuh, membuat Camelia sedikit yakin jika Hestie pasti ada saat Kenan terjatuh.
Namun karena tidak punya bukti, Camelia hanya bisa diam dan menerima kenyataan kehilangan suami serta tertuduh atas meninggalnya suaminya sendiri.
__ADS_1
Bahkan saat itu nenek tua ingin memenjarakan Camelia, tapi untungnya Raihan menghalangi niat nenek tua itu.