
"Paman harus ke kantor, paman akan kesana setelah urusan kantor selesai. Paman juga sudah meminta pelayan untuk membawa keperluanmu."
Sesil membaca pesan masuk dari Raihan.
Dan tak lama pelayan ibunya datang.
"Ini pakaian Non Sesil, saya juga sudah memasak buat Non Sesil. Jangan hawatir, makanan ini aman. Saya tidak mengedipkan mata sekali pun dari makanan ini saya buat sampai membawanya kesini. Tuan Raihan juga sudah memasang kamera di seluruh bagian rumah tadi pagi, jadi..."
"Sudah, aku tidak meragukanmu."
Sesil melihat pelayannya itu sangat hati-hati sekali dan takut jika dirinya tidak mempercayainya lagi.
"Terima kasih Non."
Ucap pelayan yang bernama Seika itu.
"Ada apa?"
Melihat pelayan itu masih berdiri disana seakan ragu ingin mengatakan sesuatu, Sesil bertanya.
"Begini Non, tadi malam aku melihat Ramlah keluar dari kamar Nyonya Hestie lalu setelah itu..." Sampai disitu Seika ragu melanjutkannya.
"Setelah itu?" Tanya Sesil, dia yakin pelayan ibunya itu mengetahui sesuatu, atau mungkin mencurigai sesuatu.
"Setelah itu Ramlah buru-buru mengemas barangnya dan pergi." Ucap Seika, yang membuat Sesil mengerti dengan jelas kejadian sebenarnya.
"Baiklah, terima kasih. Aku akan meminta paman memberimu gaji tambahan mulai bulan ini."
__ADS_1
Hanya itu yang bisa Sesil janjikan pada pelayan tua yang sangat setia di hadapannya itu.
..
"Halo, Sil kamu dimana kenapa tidak menjemputku?"
Pitaloka yang dari tadi menunggu Sesil menelponnya.
"Ya ampun, maaf Pit, aku sampai melupakanmu. Kamu naik taksi dulu yah hari ini, aku tidak bisa menjemputmu."
Sesil melupakan sahabatnya yang sudah dia janjikan untuk selalu mengantar jemputnya itu.
"Kenapa? jangan bilang kamu tidak sempat menjemput aku karena sedang kencan dengan Richard yah?"
"Bukan, tadi malam ibuku keracunan dan saat ini aku masih harus menemani ibuku di rumah sakit."
"Apa? keracunan?"
Pitaloka terkejut mendengar ibu sahabatnya keracunan.
"Iya, ceritanya panjang, nanti aku ceritakan. Tapi maaf, untuk hari ini kamu harus naik taksi."
"Kenapa minta maaf? aku akan kesana setelah kelas selesai."
"Oke."
...
__ADS_1
Siang hari, Pitaloka datang ke rumah sakit bersama Richard.
Richard yang mendengar dari Pitaloka jika ibu Sesil sedang dirawat di rumah sakit, menjumput Pitaloka di kampusnya dan barengan kesana.
"Apa yang terjadi pada tante Camel?"
Pitaloka memeluk sahabatnya itu dan melihat Camelia yang masih belum sadar juga.
"Huhu penyihir itu, aku yakin dia yang melakukannya..."
Sesil menangis di pelukan Pitaloka dan menceritakan kejadian tadi malam dan juga kecurigaannya.
"Tenanglah, aku akan membantumu mengatasi ini oke."
Pitaloka mengusap punggung Sesil, dia tidak tega melihat sahabatnya yang jarang sekali menangis itu kini menangis di pelukannya.
"Apa Raihan mengetahui ini?"
Tanya Richard yang membuat Sesil mendongakkan kepalanya, dia baru sadar jika Richard juga ada disana.
"Tidak, aku rasa paman tidak menaruh curiga ysng sama denganku. Maksudku tidak mungkin, karena dia adalah kakak kandung paman sendiri."
Sesil menghapus air matanya, dia sedikit malu karena menangis di hadapan Richard.
"Kenapa? bukankah dia sangat menyayangimu? jika begitu seharusnya dia percaya kepadamu." Ucap Pitaloka geram.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku tidak bilang paman tidak percaya padaku. Tapi aku memang sengaja tidak memberitahu paman, dan aku juga melarang pelayan ibuku untuk memberitahu paman tentang Ramlah." Ucap Sesil, takut jika sahabatnya itu semakin membenci pamannya yang memang tidak tau apa-apa.
__ADS_1