
"Kok secepat itu?..."
Sesil membuka pintu karena mendengar suara ketukan. Dia heran kenapa Pitaloka secepat itu selesai belanja, tapi saat dia membuka pintu, dia bukan lagi heran, tetapi terkejut.
"Richard?"
Richard berdiri dengan sebuah kantong besar di tangannya.
"Hei, kamu disini? Pitaloka memberiku alamatnya, dan aku kebetulan lewat jadi mampir untuk melihat-lihat."
Ucap Richard dengan alasan yang dia buat-buat.
"Apa aku tidak dipersilahkan masuk?"
Perkataan Richard membuat Sesil yang terpaku disana tersadar.
"Oh tentu, silahkan masuk."
Sesil mengajak Richard duduk di ruang tamu kecil kos tersebut.
"Pitaloka mana?"
Richard tidak tau, jika Pitaloka sengaja ke supermarket agar dia dan Sesil bisa duduk berdua dan membicarakan hubungan mereka.
"Dia ke supermarket, sebentar lagi akan pulang."
Sesil tidak berani menatap mata Richard, dia terus menunduk melihat ujung kakinya sambil mengesek-gesek kedua kakinya itu.
__ADS_1
Keduanya kini hanya duduk diam saja, Richard juga tidak berani memulai topik dengan Sesil, tepatnya bingung mau membahas apa.
Sampai beberapa menit barulah Richard buka suara.
"Oh ini ada makanan, kalian berdua pasti belum makan."
Richard memberikan kantong besar yang dia bawa kepada Sesil.
"Terima kasih, duduklah, aku akan menyajikannya."
Sesil meraih kantong besar dari Richard, lalu memasuki dapur.
Sesil membuka kantong itu dan merasa heran dengan isinya.
"Makanan sebanyak ini? apa dia memang berencana makan disini? bahkan untuk mereka berdua ini sangat kebanyakan."
"Kenapa Pitaloka lama sekali?" Pikir Sesil, sambil menyajikan makanan di depan Richard.
"Aku akan menghubungi Pitaloka."
Sesil menelpon Pitaloka, tapi tidak ada yang jawab.
Richard saat ini bingung bagaimana mencairkan suasana diantara dia dan Sesil.
Dia sendiri mengutuki dirinya pengecut karena dari tadi tidak berani bicara pada wanita di hadapannya itu. Padahal kalau dia berani, dia mempunasi waktu untuk mengungkapkan perasaannya pada Sesil dari tadi.
Richard merasa handohonenya di dalam saku celana bergetar.
__ADS_1
"Aku sudah susah paya membuat kalian duduk berdua, jadi jangan sia-siakan usahaku."
Itu pesan dari Pitaloka.
Richard akhirnya mengerti, jika teman barunya itu sengaja mengatur waktu untuk dirinya bisa mengungkapkan perasaannya kepada Sesil.
"Sil...?"
Richard memberanikan diri menatap Sesil dan memulai buka suara.
"Ya?"
Sesil ysng dari tadi melamun menjawab Richard singkat dengan refleks.
"Aku mau mengatakan sesuatu."
Ucap Richard, entah kenapa dia sangat gugup saat ini, tepatnya terlihat seperti pria pengecut.
"Iya, katakan saja."
Sesil berkata sambil terus melihat ujung kakinya yang dia mainkan. Begitulah dirinya saat sedang gerogi.
"Aku mencintaimu."
Perkatasn Richard yang sama sekali tidak Sesil duga, membuat Sesil seketika mengangkat wajahnya menatap Richard.
"Sungguh, aku menyadari perasaanmu tiga tahun lalu. Dan saat itu aku juga menyadari perasaanku padamu. Tapi saat aku mau mengungkapkannya, aku menerima telpon dari ibuku jika ayahku meninggal, jadi saat itu juga aku keluar negeri. Dan saat sampai disana, aku diminta untuk menjalankan perusahaan mendiang ayahku. Jadi aku mengambil study disana sambil menjalankan perusahaan mendiang ayahku. Dan kini aku kembali hanya untuk mengungkapkan perasaan yang aku tunda tiga tahun lalu, tapi saat aku melihatmu seperti tidak lagi mencintaiku, terlebih sering melihatmu bersama Raihan, aku jadi salah paham. Aku mengira kalian adalah sepasang kekasih dan aku menjadi cemburu, makanya tadi pagi aku memeluk Pitaloka untuk membuatmu merasakan hal yang sama agar aku dapat menarik perhatianmu."
__ADS_1
Richard tidak memberi jeda saat menjelaskan segalanya pada Sesil. Dia tidak mau membuat sedikit pun celah yang bisa dimasuki salah paham di antara mereka lagi.