
Di tempat lain, di sebuah restoran mewah di kota itu. Dua orang wanita dan satu pria sedang duduk berbincang.
"Jadi bagaimana? apa anda setuju?"
Tanya Clara pada pria paruh baya yang tampak bimbang saat ini.
"Maaf nona, tapi aku tidak berani membuat masalah dengan Tuan Saloka lagi. Rencananya aku akan meninggalkan kota ini hari ini dan memulai usaha di kota lain."
Jawab Modan dengan penuh pertimbangan.
Setelah Raihan menghancurkan tempat bisnisnya, Modan benar-benar hancur. Bahkan untuk membayar makanan di restoran itu pun dia tidak lagi mampu.
Karena itulah,Vina dan Clara saat ini mengajaknya bekerja sama. Mereka meminta Modan melakukan sesuatu dan berjanji akan memberinya uang yang banyak.
"Ayolah tuan Modan. Anda bilang ingin ke luar kota dan mendirikan bisnis anda kembali, anda pasti membutuhkan modal bukan? Lakukan satu hal ini dan pergilah setelahnya."
Vina yang merasa salah mengharapkan dukungan dari nenek tua Saloka, menerima saran Clara selanjutnya yang dia maupun Clara sangat yakin akan berhasil.
"Baiklah, tapi hanya satu hal ini saja, setelah itu aku akan meninggalkan kota ini selamanya."
Akhirnya setelah memikirkan cukup lama, Modan menerima tawaran mereka.
Clara dan Vina saling lirik dan tersenyum. Bagi keduanya, rencananya pasti akan berhasil. Jika tidak bisa membuat Raihan meninggalkan Pitaloka, maka Pitaloka yang akan meninggalkan Raihan.
Malam ini Clara tidak sengaja bertemu Modan yang ingin makan malam di sebuah rumah makan kecil.
__ADS_1
Clara yang ingin menggalih lebih banyak informasi tentang Pitaloka dari mantan bosnya itu, mengajaknya makan bersama di restoran tempat mereka saat ini.
Modan dengan kesalnya tapi tidak bisa berbuat apa-apa tidak sengaja mengungkit tentang Raihan yang dulu pernah meniduri Pitaloka untuk yang pertamakali.
Hal itu tentu menarik perhatian Clara. Dan saat dia mendengar dari Modan jika sampai saat ini Pitaloka tidak mengetahui jika pria yang pertamakali merenggut kesuciannya itu adalah Raihan, Clara sangat senang.
Bagi Clara, dia mempunyai senjata baru.
Vina yang menghubunginya sambil bercerita dengan kesalnya tentang yang terjadi di rumah keluarga besar Saloka, membuat Clara memikirkan suatu rencana dan mengajak Vina menyusul ke restoran dimana dia dan Modan berada.
Dan saat ini rencana kedua wanita itu akan di mulai dengan satu panggilan telpon saja.
...
Pagi hari Pitaloka dibangunkan dengan deringan ponselnya.
Dia hanya mengingat dirinya berada dalam pelukan Raihan di pinggir danau, dan entah bagaimana sekarang dia sudah berada di kosnya.
"Halo...!"
Pitaloka meraih telponnya dan bicara dengan nada sedikit malas tanpa melihat siapa yang menghubunginya sepagi itu.
"Halo Nyonya Raihan Saloka, apa anda masih mengingatku?"
Suara pria di seberang telpon sontak membuat Pitaloka terkejut.
__ADS_1
"Modan? dari mana kamu mendapatkan nomorku?"
Tanya Pitaloka panik, meski ini bukan pertama kalinya Modan menghubungi nomornya, tapi saat itu Raihan yang mengangkatnya, jadi Pitaloka tidak mengetahuinya.
"Haha kenapa kamu terkejut begitu? ini kali kedua aku menghubungi nomormu, apa kekasihmu itu tidak memberi tahumu?" Ucap Modan sedikit memancing Pitaloka.
"Kali kedua? maksud kamu?" Tanya Pitaloka bingung tapi sedikit menerka jika mungkin mantan bosnya itu sudah pernah menghubunginya namun Raihan yang menjawab.
"Iya, tapi itu tidaklah penting. Pria memang sangat pintar menyembunyikan sesuatu."
Ucap Modan, lagi-lagi membuat Pitaloka bingung.
"Jangan banyak bicara, apa yang ingin kamu katakan?"
Pitaloka bisa menebak jika Modan sedang membuat jalan untuk mengatakan sesuatu padanya secara perlahan. Tapi Pitaloka tidak mau berbasa-basi dengan orang itu.
"Haha kamu cukup cerdas juga. Baiklah karena kamu bertanya maka akan aku katakan. Kamu tau siapa pria yang pertama kali merenggut kesucianmu malam itu?"
Pertanyaan Modan seketika membuat Pitaloka mematung. Tiga orang yang sangat dia benci di dunia ini. Pertama Kamal, ayah tiri yang telah menjualnya, kedua Modan, pria yang kini bicara dengannya yang telah memaksanya melayani para hidung belang dan membuatnya kecanduan obat terkutuk itu, dan yang ketiga tentunya pria yang pertamakali merenggut kesuciannya.
"Haha aku belum menyebut namanya dan kamu sudah membeku disana? bagaimana jika kamu mengetahui siapa pria itu?" Ucap Modan sesaat ketika Pitaloka tidak meresponnya.
"Siapa?"
Satu kata yang bisa Pitaloka ucapkan, dia hanya menanyakan siapa pria itu.
__ADS_1
"Kekasihmu... Raihan Saloka!"