
"Sekarang temui aku di restoran tempat kita biasa makan siang saat masih sekolah. Jangan membuat alasan, aku tau kamu sedang tidak ada kelas."
Richard yang baru keluar dari ruang meeting langsung mengirim pesan pada Sesil.
"Ya."
Sesil dengan sebalnya hanya mengetik dua huruf untuk membalas pesan Richard, lalu menutupi ibunya yang sudah tertidur dengan selimut dan pergi ke restoran yang dia sangat ingat.
Dulu saat masih sekolah, dia menjadikan restoran itu sebagaii tempat makan siangnya bersama Richard. Namun sejak Richard pergi, dia juga tidak lagi ke restoran itu.
"Silahkan duduk."
Richard dengan ramah menyambut Sesil.
"Ada apa? cepat katakan, aku tidak bisa lama."
Sesil duduk dengan bete sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Sebaiknya kita pesan makanan dulu, menu disini tetap sama, coba lihat."
Richard sebenarnya hanya mencari alasan untuk makan siang bersama Sesil, hanya caranya membuat gadis di depannya itu tidak suka. Padahal mungkin seandainya Richard secara langsung mengatakan maksudnya atau mengungkapkan perasaannya, Sesil pasti akan sangat senang. Tapi sayangnya pria itu kini sedang salah memahami kedekatan Raihan dan Sesil.
__ADS_1
Sesil tentu tertarik melihat menu yang ada disana, karena sudah hampir tiga tahun dia tidak ke tempat itu lagi.
"Selamat siang, mau pesan apa?"
Seorang pelayan yang Sesil yakin baru bekerja tiga tahun belakangan itu menyapa keduanya.
"Sum-sum sapi."
Itu suara dua orang secara bersamaan.
Richard dan Sesil refleks saling memandang, keduanya teringat saat mereka masih sekolah. Sum-sum sapi memang menu favorit mereka di restoran itu
"Baiklah, tolong tunggu sebentar."
"Ekhmm... Selera makan kamu tidak berubah, sayang sekali selera pria idaman kamu sangat jauh berubah."
Richard berdehem untuk memecah kecanggungan lalu memulai obrolan dengan sesuatu yang membuat Sesil bingung.
"Selera pria?" Tanya Sesil secara refleks.
"Hm iya. Yang aku lihat sepertinya begitu."
__ADS_1
Richard mulai menyinggung Raihan saat ini, dia pikir Sesil akan terpancing dengan obrolan itu, tapi ternyata tidak.
Sesil tidak menanggapi ucapan Richard. Meski dia tidak mengerti apa maksud pria itu berkata demikian, tapi membahas tentang pria idaman tentu saja membuat Sesil terpaku disana.
Dalam hatinya berkata "Seandainya kamu tau jika seleraku tidak ada yang berubah, baik makanan atau pun pria idaman."
Tapi Sesil hanya sekedar menggumamkannya di dalam hati, saat ini gadis itu memilih berdiri pada prinsip gengsinya, dia tidak akan membahas perasaannya terlebih dahulu sebelum Richard sendiri yang memulai atau menanyakannya langsung dengan serius.
Melihat Sesil sepertinya tidak mau membahas hal itu, Richard semakin yakin jika Sesil memang sudah berpaling hati ke Raihan.
"Silahkan menikmati."
Pelayan datang dengan dua mangkuk sup sum-sum sapi di tangannya.
"Terima kasih." Ucap Sesil dengan senyum ramah.
"Kapan senyum itu akan menjadi milikku lagi?" Gumam Richard tanpa sengaja, meski pelan tapi cukup terdengar di telinga Sesil.
"Kamu bilang sesuatu?" Tanya Sesil, dia sedikit jelas mendengarnya tetapi tetap bertanya untuk memastikannya.
"Emm tidak, ayo makan selagi panas, bukankah kamu tidak suka jika sudah dingin."
__ADS_1
Richard berusaha mengendalikan dirinya di hadapan Sesil. Meski dia ingin merebut Sesil kembali, tapi dia tidak bisa secepat itu menunjukkannya secara terang-terangan.
Keduanya menikmati makanan itu, dan masing-masing bernostalgia dalam kenangan dan pikirannya sendiri.