GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Danau


__ADS_3

"Iya kak Vina, aku baru akan kesana."


Clara meningkalkan kos dan pergi menemui kakak sepupunya.


"Maaf, aku sedikit terlambat."


Clara memeluk dan mencium pipi Vina.


Kini mereka sedang duduk di sebuah restoran.


Vina sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba sepupunya yang selalu super sibuk di rumah sakit itu mengajaknya bertemu.


"Apa kamu mengenal gadis yang bernama Pitaloka?"


Pertanyaan Vina sontak membuat Clara terkejut. Pasalnya sampai detik itu dia masih kesal karena merasa kalah saing dengan Pitaloka yang mampu mengaet pria kaya dan tampan.


"Iya, dia sekampus denganku, bahkan berdekatan kos dengan kosan aku. Kenapa kamu menanyakan dia?"


"Tidak, aku hanya ingin mencari tau apa kamu pernah melihatnya bersama seorang pria yang kaya raya dan sangat tampan?"


Saat Raihan membawa Pitaloka untuk konsultasi dengannya, Vina meminta kartu identitas Pitaloka sebagai formalitas. Dari situ dia mengetahui jika Pitaloka merupakan mahasiswi di kampus yang sama dengan adik sepupunya Clara.


Vina ingin mencari tau lebih dalam tentang Pitaloka, dan entah apa yang membuatnya begitu tertarik melakukan itu.

__ADS_1


"Huh, iya. Bahkan saat ini gadis kotor itu sedang pergi bersama pria itu." Ketus Clara.


"Raihan Saloka?" Tanya Vina.


"Iya, aku mengetahui pria itu CEO Saloka Grup yang bernama Raihan Saloka, saat kemarin pria itu mengguncang kampus dengan kedatangannya yang mengejutkan semua orang." Ucap Clara.


"Apa? Raihan ke kampus kalian? untuk apa?"


"Entahlah, tapi pagi itu dia membuat semua mahasiswa yang sedang mencoba mempermalukan Pitaloka bertekuk lutut dan meminta maaf pada wanita kotor itu.Bahkan Rektor kami sendiri datang langsung dan mengancam akan mengeluarkan orang-orang yang telah menghinanya. Dan itu atas perintah Raihan Saloka."


Perkataan Clara tentu mengejutkan Vina, bagaimana mungkin Raihan sampai segitunya membela gadis yang dia yakin Raihan juga baru mengenalnya.


...


Clara kembali ke kosnya dengan senyum bahagia, tadi baru saja kakak sepupunya memberi tahunya tentang rahasia besar Pitaloka yang dia yakin bisa membuat Pitaloka hancur.


...


"Kamu mau apa?"


Pikiran Pitaloka saat ini tentu salah, dia mengira Raihan mau melakukan itu disana dengannya.


Raihan melirik Pitaloka, dan tersenyum.

__ADS_1


"Tidak seperti yang ada di kepalamu."


Kata Raihan lalu melompat ke danau itu.


"Apa kamu bisa berenang?" Teriak Raihan dari dalam air.


Pitaloka masih bingung dengan yang sedang di lihatnya. Seorang Raihan yang selalu berpakaian rapi dan menjaga wibawahnya itu kini sedang berenang di danau? Kenapa bukan di sebuah kolam renang?


"Iya, tapi..."


Belum selesai, Pitaloka bicara, Raihan sudah mendekat dan menariknya ke dalam air.


"Apa kamu selalu berenang malam seperti ini?" Tanya Pitaloka.


"Tidak, tapi aku sangat suka berenang."


"Lalu kenapa harus disini? bukannya banyak kolam renang di daerah ini?"


"Tidak, itu berbeda. Aku suka berenang di danau."


Raihan mengingat, saat terakhir dia dan orang tuanya bersama sebelum orang tuanya tiada. Dia dan orang tuanya piknik di danau itu, tapi Raihan yang kecil berlarian di pinggir danau lalu terpeleset dan jatuh.


Orang tuanya sangat panik dan langsung melompat ke air untuk menyelamatkannya, tapi orang tua Raihan terkejut saat Raihan tiba-tiba muncul dan tertawa. Ternyata Raihan yang sudah belajar berenang sebelumnya mengerjain orang tuanya, agar mereka bisa berenang di danau itu.

__ADS_1


Tapi ternyata hari itu merupakan hari pertama dan terakhir mereka berenang bersama.


Sejak saat itulah, Raihan sering ke danau itu untuk bernostalgia, atau saat melihat danau dimana pun dia pasti tertarik untuk berenang. Seperti saat di dekat hotel, dimana saat itu Pitaloka duduk di tepi danau dan melempar obatnya.


__ADS_2