
Setelah Camelia dan Sesil membuat keputusan untuk melepaskan Hestie, meski belum bisa memaafkan dan bahkan mungkin tidak akan bisa memaafkan, semua anggota keluarga memasuki kamarnya masing-masing dan meninggalkan Hestie menangis sendiri di ruang tamu meratapi nasibnya.
Hestie yang sampai saat ini selalu dibayangi rasa bersalah pada mendiang kakaknya sudah sangat tersiksa, dan saat ini ditambah dengan kenyataan pahit yang harus dia terima, jika suami yang dia cinta ternyata adalah suami orang lain yang bahkan sekarang sudah menjadi calon ayah dari benih yang dia tanam pada rahim istrinya yang sesungguhnya.
...
Raihan dengan perasaan campur aduk melangkah menuju kamarnya. Dan seketika perasaannya menjadi hangat dan damai saat melihat wanita yang dia cintai sedang tertidur nyenyak di atas kasurnya.
"Kucing malas, apa kamu tidak lapar? kamu tidur sejak sore, bangunlah."
Bersamaan dengan itu, pelayan juga mengetuk pintu dengan membawa makanan yang Raihan pesan untuk Pitaloka.
Raihan membuka pintu dan mengambil makanan itu, lalu meletakkannya di atas meja dekat kasur.
"Emmm rasanya aku mencium wangi makanan." Ucap Pitaloka dengan nada bergumam saat aroma makanan memasuki hidungnya yang entah kenapa menjadi sangat peka meski tadinya dia tertidur nyenyak.
Raihan menggeleng dan tersenyum.
"Sangat mirip. Ayo bangun makan, lalu tidurlah kembali."
__ADS_1
Raihan menyandarkan kepala Pitaloka di sudut tempat tidur, lalu menyuapi gadis yang saat ini sungguh mirip kucing malas itu.
Pitaloka membuka mulut saat Raihan menyuapinya dan baru beberapa sendok, Pitaloka kembali terlelap.
Raihan geleng-geleng melihat sisi baru Pitaloka yang unik itu. Tertidur saat sedang makan!
Raihan memperbaiki posisi tidur Pitaloka, memakaikannya selimut, lalu dia pun mengganti pakaiannya setelah membersihkan diri di kamar mandi.
Malam ini seorang Raihan Saloka kusulitan untuk tidur.
Berada satu kasur dengan wanitanya membuatnya berhasr*t, namun karena melihat Pitaloka sepertinya begitu kelelahan entah kenapa, Raihan tidak tega mengganggunya dan harus menahan penderitaannya hingga larut malam dia pun tertidur karena kantuk.
...
Ini memang kali pertama Pitaloka memasuki kamar Raihan.
Namun saat Pitaloka melihat pria yang masih terlelap di sampingnya, Pitaloka pun tersenyum dan mengerti jika saat ini dia pasti sedang berada di rumah keluarga Saloka, tepatnya di kamar pria yang dia cintai itu.
Merasa ada yang menatapnya, Raihan membuka matanya, dan seketika senyuman bak bidadari menyambut pagi indahnya.
__ADS_1
"Selamat pagi paman kecil!" Sapa Pitaloka.
"Selamat pagi kucing malas!" Sapa balik Raihan, namun membuat Pitaloka melemparkan protes.
"Kucing malas? siapa? apa kamu mengataiku?" Kesal Pitaloka sambil memasang tampang sebalnya dan juga sedikit heran kenapa Raihan memberinya julukan itu.
Raihan bangun dan menyandarkan kepala Pitaloka di dadanya.
"Kamu tau, semalaman tingkah kamu sama persis dengan kucing malas. Tidur dengan nyenyak dari sore, di apakan juga tidak bangun. Namun saat mencium aroma makanan kamu begitu peka dan makan sambil tiduran. Kalau bukan kucing malas mau disebut apa heh?"
Ucap Raihan lalu mencolek hidung Pitaloka.
"Apakah aku seperti itu?" Tanya Pitaloka dengan mendongak ke arah wajah tampan Raihan.
"Hmmm, tapi aku sangat menyukai ke unikan kamu yang baru itu." Ucap Raihan penuh senyuman.
Namun ekspresi Pitaloka selanjutnya, membuat Raihan mengira Pitaloka kesal karena dia menjulukinya seperti itu.
"Sungguh, kamu sangat unik dan imut, dan aku sungguh menyukainya."
__ADS_1
Raihan buru-buru berkata, takut Pitaloka mengira dirinya sedang mengejeknya.