GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Sama Sepertiku Ingin Membuatmu Cemburu


__ADS_3

Bagas berjalan mengitari Clara lalu berkata "Aku sama sekali tidak sesenggang itu untuk bisa memata-matai kamu. Aku hanya tau jika kamu pasti menyukai Raihan Saloka, dan... kamu yang telah meminta seorang pria bernama Modan untuk menelpon Pitaloka dan memberi tahunya kalau Raihan adalah pria yang dua tahun lalu yang telah..."


Sampai disitu Clara memotong perkataan Bagas.


"Cukup. Baik jika kamu mengetahuinya, lalu apa hubungannya semua ini dengan dirimu?"


"Tentu saja, ini ada hubungannya denganku. Kakak sepupuku, sudah sejak kecil menyukai Raihan Saloka, dan sekarang kamu menjadi duri untuknya."


Yang Clara takutkan benar, dia sangat tau sedekat apa Bagas dan Vina.


Saat di restoran, dimana Clara, Vina dan Modan bertemu dan mengatur rencana untuk membuat Pitaloka meninggalkan Raihan, mereka tidak menyadari jika di dekat mereka, Bagas yang kebetulan makan disana tidak sengaja mendengar semuanya.


Awalnya Bagas fine saja dan tidak mau ikut campur, karena dia pikir itu demi menyatukan Vina dan Raihan, apalagi dia masih sangat dendam pada Pitaloka.


Tapi hari ini Bagas bisa melihat dan yakin, jika Clara juga menyukai Raihan. Mungkin setelah menyingkirkan Pitaloka dalam hidup Raihan, maka akan tiba giliran kakak sepupunya yang disingkirkan oleh gadis licik itu.


Bagas tentu tidak akan membiarkan itu.


"Apa kamu akan memberi tahu Vina?" Tanya Clara.

__ADS_1


"Tentu saja, dan kamu... tunggu giliranmu." Jawab Bagas lalu meninggalkan Clara disana.


"Tidak masalah, satu musuh hilang, sekarang giliran musuh lainnya."


Clara berpikir buat apa takut pada Vina. Jika dia bisa memisahkan Pitaloka dari Raihan, maka akan lebih mudah baginya untuk memisahkan Vina dari Raihan yang aslinya keduanya memang tidak pernah bersatu.


Clara dengan senyum liciknya berjalan memasuki kampus.


...


Di dalam kelas Pitaloka terus melirik Sesil, dia mau menjelaskan semuanya tapi dosen sudah masuk dan memulai kelas.


"Sil, maaf, tapi semua tidak seperti yang terlihat."


Ucap Pitaloka, dia sangat merasa bersalah pada sahabatnya itu. Bahkan dia merasa bertanggung jawab atas air mata Sesil yang tumpah saat melihatnya bersama Richard.


"Apa yang terlihat dan yang tidak terlihat tidak akan menghapus rasa kecewaku Pit. Hanya kamu yang mengetahui betapa aku mencintai Richard, tapi meskipun begitu kamu tetap merebutnya dariku."


Mata Sesil mulai basah lagi, tidak pernah terpikir di hatinya jika akan ada saat seperti ini. Saat dimana sahabatnya yang sangat dia sayangi membuatnya terluka.

__ADS_1


"Tidak, ini salah paham. Tolong dengarkan penjelasanku."


Pitaloka memeluk sahabatnya itu, meski saat ini Sesil hanya salah paham, tapi dia memang bersalah karena telah menggunakan pria yang dicintai sahabatnya itu sebagai temeng untuk membuat Raihan sakit hati.


"Tidak masalah bagiku jika dia sudah mempunyai kekasih, asal bukan sahabatku sendiri."


Sesil semakin menangis dalam pelukan Pitaloka, ingin rasanya membenci Pitaloka, tapi dia tidak bisa.


"Dia tidak memiliki kekasih, baik orang lain terlebih itu adalah aku."


Perkataan Pitaloka membuat Sesil melepas pelukannya dan menatap Pitaloka.


"Maksud kamu?" Tanya Sesil.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Richard..."


Mulailah Pitaloka menjelaskan segalanya dari pertemuannya yang tidak sengaja kemarin sampai dia ikut tinggal di apartemen Richard dan kebenaran pagi tadi.


"Jadi maksud kamu? kalian hanya bersandiwara untuk membuat paman sakit hati?" Tanya Sesil sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Itu aku, tapi aku tidak tau kenapa Richard melakukan itu. Aku pikir dia sama sepertiku ingin membuat kamu cemburu."


__ADS_2