
"Ayo, kita pergi dari sini. Aku rasa keduanya sudah mendapatkan hukuman yang pantas."
Raihan tadinya ingin memenjarakan Faris dan Ramlah. Namun karena tidak tega dengan janin di perut Ramlah, akhirnya Raihan melepaskan keduanya.
Lagian keduanya telah mendapatkan hukumannya. Faris akan diceraikan oleh Hestie. Sedang Ramlah saat ini merasa sakit hati karena meski tidak Faris akui, tapi pria itu baru saja mematahkan hati Ramlah, dengan diamnya dia sama saja telah mengakui jika dia telah jatuh cinta pada Hestie.
Kehidupan keduanya tidak mungkin bahagia setelah ini, dan itu adalah bentuk hukuman dari Tuhan bagi mereka.
...
Richard menarik pergelangan tangan Sesil dan hendak keluar.
"Aoch." Jerit Sesil.
"Ada apa?"
Richard terkejut dan seketika melihat pergelangan tangan Sesil memar akibat tali yang mengikatnya terlalu kencang.
Richard kembali menatap tajam Faris, rasanya dia ingin sekali mematahkan pergelangan tangan pria itu. Namun hati Richard juga tidak sekejam itu sehingga akan melumpuhkan tangan seorang calon ayah yang akan mulai bekerja keras dengan tangannya itu untuk bayinya yang akan lahir.
"Maaf, apa ini terlalu sakit?"
Richard meniup-niup tangan Sesil dan membuat Sesil tersenyum girang.
"Tidak, ini sudah sembuh." Ucap Sesil.
Melihat pasangan itu Raihan teringat Pitaloka yang dia tinggalkan di dalam mobil.
Raihan berlari keluar dan membuat Richard dan Sesil kebingungan.
__ADS_1
"Apa paman kebelet buang air?" Tanya Sesil.
Richard hanya menggeleng kemudian memeluk pinggang Sesil dan berjalan keluar.
...
Saat Raihan masuk ke mobil, Pitaloka masih tertidur dengan lelap.
Raihan mengecup kening Pitaloka lalu keluar menghampiri Richard dan Sesil.
"Bagaimanapun sebagai paman Sesil, aku berhutang terima kasih padamu." Ucap Raihan, dia tidak menyangka jika Richard terlebih dahulu sampai di tempat ini.
"Tidak ada hutang terima kasih dalam hal ini, karena aku juga telah ikut bertanggung jawab untuk hidupnya bukan?"
Richard memandang Sesil dan membuat Raihan sedikit risih dengan keromantisan di depannya.
"Ekhmmm. Ngomong-ngomong kamu dapat alamat ini dari mana?"
"Kalian tidak datang bersama?" Tanya Sesil.
Richard tersenyum lalu menggenggam jemari Sesil.
"Cincin ini yang menuntunku."
Richard menindis tombol seperti titik kecil di bagian pinggir cincin itu dan seketika terlihat sebuah alat pelacak berwarna merah yang sama kecilnya dengan tombol tadi.
Cincin bersejarah keluarga Richard yang dia sematkan pada jari tengah Sesil itu, memiliki alat pelacak yang tersambung otomatis dengan ponsel Richard yang sebelumnya tersambung dengan ponsel mendiang ayahnya.
Saat Pitaloka mengatakan Sesil sedang mencari alamat Ramlah, dan berpikir Sesil dalam bahaya, Richard tanpa permisi langsung meninggalkan Pitaloka dan menuju lokasi yang terdeteksi dalam ponselnya.
__ADS_1
"Wah sepertinya kamu memberiku ide bagus." Ucap Raihan.
Raihan pikir, dia juga akan memasang alat kecil itu pada perhiasan Pitaloka untuk antisipasi.
Richard hanya tersenyum menanggapi.
"Baiklah, ayo kita pulang. Kasihan wanitaku sepertinya kurang sehat, dia tidur dari sore dan sampai sekarang belum bangun." Ucap Raihan.
"Pitaloka ada di mobil?" Tanya Sesil.
"Iya, tapi jangan ganggu dia. Ayo, paman harus membawanya pulang agar bisa istirahat dengan baik."
...
Dua mobil melaju menuju kota dan berhenti di depan rumah keluarga Saloka.
"Aku langsung pulang gak apa-apakan?"
Richard sangat ingin menemani Sesil, apalagi dia merasa jika gadis itu masih sedikit trauma pasca kejadian tadi. Namun dia juga harus tau diri, sebagai pria tidak pantas menginap di rumah keluarga seorang wanita.
"Apa tidak masuk dulu?" Tanya Raihan.
"Lain kali saja, ini sudah larut malam." Jawab Richard lalu menatap Sesil penuh perhatian.
Raihan yang mengerti dengan keadaan segera menggendong Pitaloka keluar mobil dan membawanya masuk.
"Kalian ngobrollah sebentar, aku akan membawa Pitaloka ke dalam." Ucap Raihan lalu menggendong Pitaloka ke dalam rumah.
"Istirahatlah dengan baik, jangan pikirkan kejadian hari ini lagi oke! Aku pulang dulu."
__ADS_1
Richard mengusap pelan kepala Sesil lalu mencium keningnya.
Sesil mengangguk dengan tersenyum canggung kemudian masuk ke dalam rumah.