GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Seperti Mimpi Panjang


__ADS_3

Pitaloka yang merasa ada mata sedang menatapnya bangun dari tidurnya.


"Selamat pagi." Sapa Raihan dengan tersenyum sambil mengelus rambut Pitaloka.


Pitaloka yang sudah bisa menebak semuanya langsung bangun dan berkata pelan "Kamu tidak perlu mengingat kejadian ini."


Pitaloka ingin berdiri dari tempat tidur tapi di tahan oleh tangan besar Raihan.


"Jika aku mengingatnya bagaimana?" Tanya Raihan seakan menggoda Pitaloka.


Pitaloka tidak tau harus bilang apa hanya menundukkan kepalanya. Dia sungguh telah berusaha untuk tidak tunduk oleh obat terkutuk itu lagi, tapi apa daya dia tetap tidak bisa.


"Berjanjilah padaku, tidak peduli siapa dan berapa pria yang telah bersamamu sebelumnya, tapi mulai sekarang hanya akulah pria satu-satunya yang akan menjadi penawarmu."


Perkataan Raihan sontak membuat Pitaloka terkejut dan menatapnya.


"Iya, aku jatuh cinta padamu, dan tidak akan rela jika kamu bersama pria lain lagi." Raihan mengatakan perasaannya, sungguh dia memang telah jatuh cinta saat pertama kali melihat Pitaloka menangis di tepi danau.


"Tidak, aku tidak berhak untuk mendapatkan cinta siapapun." Kata Pitaloka mencoba melepaskan tangan Raihan.


"Apa yang kamu katakan?" Tanya Raihan dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Tolong lepaskan aku." Pitaloka berusaha lepas dari Raihan namun tidak bisa.


"Tolong biarkan aku pergi, aku tidak pantas untuk siapapun, aku terlalu kotor..."


Belum selesai Pitaloka bicara, Raihan sudah membungkam mulutnya dengan ciuman.


Pitaloka terdiam merasakan sentuhan lembut Raihan.


Saat Raihan melepas ciumannya Pitaloka memeluknya erat sambil menangis.


"Sudah, mulai sekarang kamu adalah wanita milik Raihan, tidak boleh ada air mata yang tumpah setetespun dari mata indahmu itu."


Raihan mengecup kedua mata Pitaloka lalu memeluknya.


...


"Aku sudah pulang duluan, kamu sudah baikan kan?" Tanya Sesil.


"Iya." Jawab Pitaloka, dia sedikit malu pada Sesil yang pasti tau jika Raihanlah yang membantunya tadi.


"Ya sudah suruh paman mengantarmu pulang, besok pagi aku akan menjemputmu dan menemanimu ke lokasi syuting."

__ADS_1


Selesai berkata Sesil langsung memutuskan telponnya, wajahnya sendiri memerah membayangkan paman kecilnya bersama sahabat baiknya.


"Yei bibi kecil!" Teriak Sesil dengan girang memikirkan jika sahabatnya sendiri yang akan menjadi bibi kecilnya, itu pasti sangat seru.


"Apa yang membuat kamu sesenang itu?"


Tanya Nenek tua keluarga Saloka, Dia merupakan nenek Raihan yang juga nenek tua Sesil sendiri.


"Tidak ada." Sesil terdiam dan mendumel dalam hati "Mau tau aja, aku katakan juga kamu akan jantungan."


Sesil tidak menyukai nenek tua keluarga Saloka, karena baginya nenek tua itu sangat cerewet dan penuh aturan. Sesil takut membayangkan jika saja nenek tua itu mengetahui tentang Raihan dan Pitaloka, huff pasti nenek tua itu akan kena serangan jantung.


...


"Masuklah dan istirahat dengan baik, kamu pasti lelah." Kata Raihan sambil mengecup kening Pitaloka.


"Iya, kamu hati-hati." Pitaloka masih merasa malu kepada Raihan, ini seperti mimpi baginya, dalam semalam dia bertemu, kenalan lalu bersama Raihan. Itu seperti mimpi panjang baginya.


Pitaloka melihat Raihan pergi kemudian memasuki kosnya.


...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Sesil menjemput Pitaloka.


"Waw cantik sekali, aku yakin semua mata disana pasti tidak bisa berpaling darimu nanti." Puji Sesil saat Pitaloka keluar dengan rambut panjangnya yang tergerai dengan setelan rok kasual selutut dan baju kaos pendek yang sebenarnya itu penampilan paling sederhana Pitaloka.


__ADS_2