GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Maukah Kamu Menjadi Nyonya Raihan Saloka?


__ADS_3

Richard melihat Sesil membeku di depan pintu.


"Tenang, aku tidak akan melakukan hal seperti yang kamu pikirkan." Ucap Richard tersenyum.


"Apa yang aku pikirkan?"


Sesil merasa malu, masa iya Richard tau apa yang ada dalam otak kotornya itu.


"Ayo masuk."


Richard hanya tersenyum, lalu masuk duluan.


Sesil dengan canggung mengikuti Richard.


"Tunggu disitu jika takut aku apa-apain, aku ke kamar dulu."


Richard meninggalkan Sesil di ruang tamu dan dia masuk ke kamarnya untuk mengambil dompetnya yang tertinggal.


Perkataan Richard itu membuat Sesil semakin canggung.


"Apa dia beneran mengetahui yang aku pikirkan?" Gumam Sesil sambil memukul kepalanya karena berpikir sembarangan.


Sesil melihat-lihat sekeliling ruangan itu dan matanya terhenti pada sebuah foto di atas meja kecil.

__ADS_1


"Itu ibu aku dan mendiang ayah aku."


Richard melihat Sesil memperhatikan satu-satunya foto yang dia bawa pergi bersamanya.


"Lalu dimana mereka? sorry maksud aku dimana ibu kamu?"


Sesil bertanya sambil teringat jika ayah Richard telah meninggal tiga tahun yang lalu, dan karena itulah saat itu Richard meninggalkannya.


"Ibu di negara asal ayah. Sudahlah, ayo."


Richard terlalu malas membahas ibunya, karena saat mengingat ibunya, pria bernama Kamal itu juga ikut terbesit di kepalanya.


"Mau kemana lagi?" Tanya Sesil yang membuat Richard yang jauh lebih tinggi darinya sedikit membungkuk memandangnya.


"Apa kamu beneran mau melakukan hal yang dari tadi ada di kepalamu itu?" Tanya Richard penuh selidik.


Sesil merasa sangat malu, dan mengutuki otak kecilnya yang kotor itu.


Sesil melangkah sangat cepat keluar dari unit Richard.


Tingkah lucu Sesil itu membuat Richard tersenyum.


...

__ADS_1


"Ini..."


Raihan menghentikan mobilnya di sebuah daerah pegunungan dan terdapat banyak makam disana, membuat Pitaloka merasa bingung.


"Ayo." Raihan melihat kebingungan Pitaloka dan menggandengnya ke tengah-tengah makam.


Itu memang sebuah makam, tapi keindahan pegunungan dan banyaknya tanaman hias disana membuat makam itu tidak seram sama sekali sebagaimana mestinya makam pada umumnya.


Saat Pitaloka masih kebingungan dengan tempat itu dan kenapa Raihan membawanya kesana, Pitaloka bertambah bingung lagi saat Raihan berlutut di hadapannya dengan mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya.


"Dengan para leluhurku sebagai saksinya, maukah kamu menjadi Nyonya Raihan Saloka?" Ucap Raihan penuh harap.


Sebelum Pitaloka kembali dari syuting di Italia, Raihan sudah membeli cincin itu untuk melamar Pitaloka. Dan rencananya setelah malam itu memperkenalkan Pitaloka pada keluarganya, Raihan akan mengajak Pitaloka ke tempat ini untuk melamarnya. Namun sebelum itu terjadi, Pitaloka sudah pergi dari kosnya dan marah padanya.


Tapi Raihan selalu membawa cincin itu kemana pun dia pergi, dan saat ini dia sedang berlutut dengan mempersembahkan cincin indah itu dihadapan Pitaloka sambil menunggu jawaban gadis itu.


Pitaloka yang sama sekali tidak menyangka jika Raihan akan serius kepadanya dalam waktu sesingkat ini, merasa terharu penuh bahagia.


"Iya, aku mau menjadi Nyonya Raihan Saloka." Ucap Pitaloka sambil berusaha menahan air mata bahagianya.


Raihan menyematkan cincin indah itu di jari manis Pitaloka kemudian mencium tangan gadis cantik yang sejak lama dia impikan itu.


Air mata bahagia Pitaloka akhirnya tak mampu terbendung.

__ADS_1


Raihan berdiri dan memeluk erat tubuh Pitaloka. Rasanya dia tidak mau melepas gadis itu sedetik pun.


Dengan disaksiksn oleh para leluhur keluarga Saloka, Raihan melamar Pitaloka dan mendapat jawaban iya dari gadis yang dia cintai itu.


__ADS_2