GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Aku... Pitaloka... Tidak Ada Lagi Yang Bisa Menekanku...


__ADS_3

"Tidak perduli apa alasanku, itu tidak ada hubungannya dengan dirimu. Dan kamu yang dengarkan aku. Aku... Pitaloka... Tidak ada lagi yang bisa menekanku seperti dulu."


Setelah mengatakan itu, Pitaloka langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Sombong, dia pikir dia bisa lepas dariku begitu saja?


Edwar merasa sangat kesal karena Pitaloka berani memperingati balik dirinya.


...


Pagi hari, Raihan keluar rumah bersamaan dengan Sesil.


"Kamu mau berangkat?" Tanya Raihan sambil memasuki mobilnya dan berbicara dari celah jendela.


"Iya." Jawab Sesil seadanya.


"Ayo barengan paman."


"Paman mau ke kampus aku?"


"Iya, paman harus menuntaskan dosen bajinganmu itu bukan?" Ucap Raihan.


Sesil pikir itu memang bisa pamannya lakukan, karena pamannya itu merupakan investor terbesar kampusnya. Jadi tentu saja, pihak kampus akan menuruti apa pun yang pamannya itu katakan. Bahkan untuk mencincang habis Edwar itu.


"Tapi aku mau menjemput Pitaloka."


Sesil sudah berjanji tidak akan memberi tahu Raihan alamat kos Pitaloka. Dan kalau mereka pergi bersama, otomatis Raihan akan mengetahui alamat kos Pitaloka.


Raihan mengerti dengan kebimbangan ponakannya itu, jadi berkata "Baiklah, paman pergi duluan."

__ADS_1


...


"Bagaimana keadaan tante Camel?"


Tanya Pitaloka sambil memasuki mobil.


"Sudah stabil." Jawab Sesil.


Sesil menimbang apa memberi tahu Pitaloka tentang Raihan yang saat ini mungkin sedang mengguncang kampus atau tidak.


Namun Sesil tidak memberitahunya, biarlah Pitaloka melihat sendiri apa yang akan Raihan lakukan nanti.


Sesil mengemudikan mobilnya menuju kampus, dan saat sampai dia celengak-celengok mencari keberadaan mobil Raihan.


"Kamu cari siapa?" Tanya Pitaloka karena melihat gerak-gerik Sesil yang memang seperti sedang mencari seseorang.


"Ah, tidak."


Keduanya berjalan memasuki kampus dan Sesil memperhatikan sekitarnya.


"Sepertinya paman belum sampai." Batin Sesil, karena sama sekali tidak ada tanda kehadiran Raihan Disana.


Tak lama mereka memasuki kelas, dosen yang merupakan seorang wanita gendut pun masuk dan memulai kelas.


Semua berjalan dengan normal sampai kelas itu bubar, dan itu membuat Sesil bingung.


"Kamu ada masalah?" Tanya Pitaloka saat keduanya hendak pulang.


"Tadi pagi paman kecil bilang mau ke kampus, tidak, bahkan paman berangkat duluan karena aku tidak mau berangkat bersama, takut paman akan mengetahui kos kamu." Ucap Sesil.

__ADS_1


"Tunggu, buat apa Raihan mau kesini?" Tanya Pitaloka.


"Sebenarnya semalam aku memberitahu paman tentang Edwar." Ucap Sesil lirih, takut Piitaloka marah padanya.


Tapi tidak, Pitaloka sama sekali tidak marah, justru dia merasa hawatir.


"Lalu kemana Raihan sekarang?" Tanya Pitaloka.


"Tidak tau, tunggu aku akan menelponnya."


Sesil kemudian mencoba menghubungi Raihan, namun meski berdering Raihan tidak menjawab telponnya.


"Tidak di jawab." Ucap Sesil setelah berulangkali mencoba.


"Biar aku coba."


Pitaloka juga mencoba menghubungi Raihan namun sama, Raihan tidak menjawabnya.


Kedua gadis itu kini nampak hawatir.


...


Namun orang yang mereka hawatirkan saat ini sedang duduk santai di depan seorang pria yang terikat di sebuah kursi.


"Berani sekali kamu mengusik ketenangan wanita Raihan Saloka." Ucap Raihan.


Saat dalam perjalanan ke kampus, Raihan melihat Edwar yang sebelumnya Sesil perlihatkan fotonya tadi malam.


Edwar saat itu sedang mengobrol serius di sebuah sudut gang dengan seseorang. Lalu saat keduanya memasuki gang itu, Raihan turun dari mobil dan mengikutinya. Ternyata Edwar sedang melakukan transaksi obat terlarang dan Raihan seketika menciduknya.

__ADS_1


Orang yang menjual obat itu ke Edwar lari dan Raihan tidak memperdulikannya. Raihan hanya ingin mengurus Edwar saja.


Meski Edwar sempat melawan, tapi karena kekuatannya jauh dibawa Raihan, akhirnya Edwar dilumpuhkan oleh Raihan dan kini Edwar disekap disebuah rumah kosong dekat gang itu.


__ADS_2