
"Siapa kamu? kamu bahkan bukan polisi, lalu apa urusanmu denganku?"
Tanya Edwar, karena tadinya dia mengira Raihan adalah polisi yang menyamar dan menangkapnya karena melakukan transaksi obat terlarang. Tapi saat Raihan menyekapnya di dekat gang itu, bukannya membawanya ke kantor polisi, Edwar tau jika Raihan bukanlah polisi.
Tapi apa alasan Raihan menyekapnya, bahkan mengenalnya saja Edwar tidak.
"Kamu tidak mengenal Raihan Saloka, tapi berani mengusik wanita miliknya. Apa nyalimu cukup besar?"
Raihan memandang Edwar dan seketika membuat Edwar merasa suhu di ruangan itu seketika berubah dingin.
"Wanita milikmu? siapa? anda salah orang, aku tidak pernah mengusik wanita anda, bahkan mengenalnya pun tidak."
Ucap Edwar, masih bingung kenapa Raihan terus mengatakan dia telah mengusik wanitanya.
"Itulah letak kebodohanmu. Kamu tidak mengenalku, tidak juga mengenal siapa wanitaku. Tapi kamu berani mengusiknya, Pitaloka! wanita Raihan Saloka."
Perkataan Raihan sontak membuat Edwar terkejut. Dia sama sekali tidak berpikir jika Pitaloka lah yang dari tadi pria itu maksud.
Tapi Edwar tidak mau kalah gertak, dia memandang Raihan.
"Heh, Pitaloka? sudahlah, dia bukan hanya wanitamu saja, tapi dia itu wanita kotor yang menjadi milik pria mana saja."
"Bukk."
Sebuah tendangan langsung membuat Edwar jatuh tersungkur bersama kursinya.
"Berani sekali kamu mengatakan hal itu tentang wanitaku."
__ADS_1
"Bukk."
Raihan kembali menendang perut Edwar yang seketika membuat darah segar keluar dari mulut Edwar.
Raihan keluar dari gang itu dan meninggalkan Edwar sendiri. Biar polisi yang akan menjemputnya, Raihan menghubungi temannya yang seorang polisi serta mengirim rekaman transaksi Edwar dan juga alamat Edwar dia sekap.
"Panggilan dari Sesil dan Pitaloka?"
Raihan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Sesil, dan yang membuatnya merasa degdegan disana juga ada panggilan dari Pitaloka, wanita yang sangat dia rindukan namun beberapa hari terakhir menjauhinya.
Raihan bertanya-tanya kenapa kedua gadis itu menghubunginya berulang kali? mungkinkah terjadi sesuatu?
Tadi Raihan mensilent ponselnya, jadi tidak mengetahui jika kedua gadis itu menelponnya.
Sambil memasuki mobil dan menyetir, Raihan menghubungi Sesil.
Ucap Sesil dari seberang telpon.
"Kami? siapa ysng mengawatirkan paman selain dirimu?"
Raihan bukannya menjawab Sesil yang sedang cemas, malah bertanya hal yang seketika membuat Pitaloka yang berada di dekat Sesil menjadi malu karena mendengarnya.
Sesil melirik Pitaloka, lalu tersenyum. Dia tau, saat ini dia tidak perlu cemas, pamannya itu pasti baik-baik saja.
"Ekhmm, tebak saja sendiri." Ucap Sesil membuat Pitaloka ingin menjambaknya.
"Paman darimana? katanya mau ke kampus, tapi..."
__ADS_1
"Temui paman di restoran tempat kita biasa makan. Paman akan menceritakan tentang Edwar nanti."
Raihan langsung mematikan telponnya.
"Bagaimana?" Tanya Pitaloka.
"Paman mengajakku ketemu di restoran. Katanya ingin mengatakan sesuatu tentang Edwar. Entahlah, kamu ikut tidak?"
Tanya Sesil sambil mengambil tasnya, karena saat ini keduanya sedang di kos Pitaloka.
Pitaloka berpikir sejenak, namun belum menjawab Sesil sudah menariknya pergi bersama.
...
Saat keduanya sampai di restoran itu, Raihan sudah terlebih dahulu ada disana.
Raihan melihat Pitaloka datang bersama Sesil.
"Aku yakin dia pasti akan datang." Batin Raihan.
Dengan mengatakan pada Sesil jika dia mau mengatakan sesuatu tentang Edwar, tentu yang paling tertarik untuk mendengarnya adalah Pitaloka.
"Paman..."
Sesil belum sempat bicara, Raihan sudah melototinya.
"Iya, Raihan Saloka. Katakan apa yang anda tau tentang bajingan itu?"
__ADS_1
Sesil bertanya dengan sangat sopan yang dia buat-buat.