GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Jika Kamu Menginginkannya, Maka Aku Pasti Akan Memenuhi Keinginan Kamu Itu


__ADS_3

"Sepertinya aku harus ke rumah sakit."


Saat Raihan hendak mengantar Pitaloka ke kampus, Pitaloka merasa tubuhnya seperti kurang enak badan. Pusing dan rasa ingin muntah, membuat Pitaloka sangat lemas.


"Apa kamu merasa tidak sehat?"


Raihan mengecek suhu kening Pitaloka, namun suhunya normal saja. Tapi terlihat jelas bagi Raihan jika wanitanya itu memang sepertinya tidak enak badan.


Raihan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Di pertengahan jalan dia ngerem mendadak karena Pitaloka yang sejak tadi menahan rasa mualnya, kini memuntahkan isi perutnya.


"Sayang? kamu tidak apa-apakan?"


Raihan dengan cemas mengambil tisu dan membersihkan sisi bibir Pitaloka.


Pitaloka menggeleng, lalu berkata "Maaf mobil kamu jadi kotor."


"Mobil ini dihancurkan olehmu juga boleh. Istirahatlah, sebentar lagi kita sampai."


Raihan menyandarkan kepala Pitaloka pada bahunya lalu kembali menyetir. Dia sangat khawatir, rasa trauma saat melihat wanita yang dia cintai dulu pernah menderita karena melawan sakitnya ketergantungan obat pe****ng, membuat Raihan sangat takut saat ini. Takut kalau saja efek mengkonsumsi obat itu selama bertahun, menyisahkan efek buruk pada kesehatan Pitaloka.


...

__ADS_1


Saat sampai di depan rumah sakit, Raihan langsung menggendong Pitaloka.


"Aku masih kuat berjalan." Lirih Pitaloka, meski lemas dan rasa kehabisan tenaga, tetapi dia masih punya malu saat Raihan menggendongnya di hadapan banyaknya orang.


"Pejamkan saja matamu."


Raihan hanya menyuruh Pitaloka untuk memejamkan matanya agar dia dapat beristirahat.


...


"Bagaimana Dok? jangan katakan hal yang buruk."


Saat seorang dokter selesai memeriksa Pitaloka, Raihan bertanya dengan cemas.


"Tidak ada yang buruk. Selamat, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah." Ucap dokter tersebut.


"Ayah? maksud dokter?"


"Iya Tuan Saloka, Nyonya saat ini sedang mengandung. Meski janinnya belum terlihat tapi sebagai dokter, saya sangat paham tentang hal ini. Kembalilah seminggu kemudian dan saya akan membuat anda mendengar suara detak jantung dari rahim Nyonya Saloka."


Dokter wanita paruh baya itu berkata dengan sangat yakin.

__ADS_1


Memang benar jika janin di perut Pitaloka itu belum terlihat, soalnya baru tiga hari ini dia dan Raihan berhubungan.


Dalam hati Pitaloka mengingat jika saat tiga malam lalu dia berhubungan dengan Raihan, dia tidak memakan pil KB yang dulu dia pasti konsumsi untuk jaga-jaga jika ketergantungannya kambuh.


Namun setelah dia terbebas dari jerat obat itu, tentunya dia tidak lagi mengkonsumsi pil KB tersebut karena berpikir untuk apa.


Dan tidak mustahil jika saat ini dia memang sedang mengandung, karena tiga malam lalu entah sampai jam berapa Raihan menanam benih di rahim kecilnya itu.


...


Saat dokter keluar meninggalkan keduanya, Raihan melangkah ke sisi Pitaloka dengan tersenyum.


Namun baik Pitaloka atau pun Raihan tidak menyadari jika Vina sedang mencuri dengar percakapan keduanya.


"Kamu dengar sayang? kita akan memiliki bayi kecil dari sini." Ucap Raihan sambil mengelus perut Pitaloka.


"Apa kamu menginginkannya?" Tanya Pitaloka.


"Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku sangat sangat sangat menginginkannya. Tapi tidak tahu dengan dirimu. Apa kamu menginginkan bayi ini? apa kamu mampu menjaganya? tidak, maksud aku, kamu masih harus kuliah, apa kamu tidak akan kesusahan jika mempertahankan janin ini?"


Raihan bertanya dengan rasa cemas, takut Pitaloka akan mengatakan belum siap menjadi ibu. Karena dari dalam lubuk hati Raihan yang terdalam, dia sangat menginginkan bayi itu.

__ADS_1


"Jika kamu menginginkannya, maka aku pasti akan memenuhi keinginan kamu itu."


Namun perkataan Pitaloka itu, seketika membuat Raihan memeluknya dan membuat mata seorang Raihan Saloka lembab.


__ADS_2