
Sesil sangat terkejut melihat Pitaloka yang kini berada dalam dekapan pria yang dia cintai. Dia merasa sakit, bukan hanya karena Richard kini mempunyai seseorang. Tapi lebih dari itu, Sesil merasakan sakit yang teramat karena melihat sahabatnya sendiri seseorang itu.
Pitaloka merasa tidak enak dalam hatinya, tapi dia terpaksa melakukannya. Dia bisa menjelaskan salah paham itu kepada Sesil nanti, tapi saat ini dia harus membuat pria yang ada di depannya itu merasakan sedikit rasa sakit yang pernah dia rasakan.
Sesil berlari memasuki kampus. Raihan tidak mengerti kenapa ponakannya itu seakan terlihat cemburu saat melihat Pitaloka dan Richard. Tapi dia tidak sempat memikirkan itu dulu, karena saat ini dia sendiri juga sedang terbakar api cemburu yang begitu membara.
"Pit, aku menghubungi dan mencarimu. Tapi ternyata kamu sedang bersama yang lain." Raihan melangkah menghampiri Pitaloka yang masih berada dalam pelukan Richard.
"Apa aku memintamu untuk menghubungi atau mencariku?" Perkataan Pitaloka saat ini sungguh tidak bersahabat.
Richard yang berada disana, menyadari sesuatu yang aneh namun tetap diam dan menyimak.
"Apa kamu bisa melepaskan pinggang wanitaku?"
Raihan menatap Richard seperti akan menembus matanya dengan tatapannya itu.
"Wanita?" Tanya Richard, tentu saja dia bingung. Baru saja satu wanitanya berlari memasuki kampus dan kini dia menyebut Pitaloka wanitanya juga?
"Aku bilang lepaskan?" Suara yang tidak besar, tapi cukup untuk membuat Richard terkejut dan refleks melepas pinggang Pitaloka.
__ADS_1
"Siapa wanitamu? aku tidak sudih menjadi wanita yang kamu maksud."
Perkataan Pitaloka sontak mengejutkan Raihan.
"Ada apa denganmu? jika kamu marah karena sikap nenek tua maka aku minta maaf, jika kurang maka aku bisa membawamu kembali ke rumah dan memaksa nenek tua meminta maaf padamu."
Pitaloka hanya menggeleng mendengar ucapan Raihan.
"Bukan nenek tua, tapi kamu yang berutang maaf padaku. Tapi meskipun begitu, seumur hidup pun kamu tidak akan mendapat maafku."
Setelah mengatakan itu, Pitaloka berjalan memasuki kampus dan menyisahkan dua orang pria yang kebingungan dengan pikirannya masing-masing.
Sedang Raihan yang merasa sikap Pitaloka sangat berubah dan bertanya-tanya utang maaf apa yang Pitaloka maksud tadi, masih membeku disana.
"Sudahlah, wanita dari tempat kotor seperti itu memang tidak akan bisa hanya dengan satu pria saja."
Clara tiba-tiba muncul dan menghampiri Raihan. Dia pikir ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk menarik perhatian pria itu.
"Jaga mulutmu, atau akan kubuat kamu tidak bisa bicara lagi...!"
__ADS_1
Tapi tidak seperti harapannya, Raihan membuatnya tak bisa berkutik lalu meninggalkannya yang masih gemetar.
"Apa kamu menyukainya?"
"Iya hah tidak, a aku..."
Clara yang tidak menyadari siapa yang bertanya padanya refleks menjawab kemudian menjadi gugup.
"Tidak perlu menutupinya, aku tau kamu menyukai Raihan Saloka dan kamu juga yang telah menciptakan jarak pemisah di antara dirinya dan Pitaloka."
Perkataan Bagas yang seakan mengetahui semua gerak-geriknya beberapa hari ini membuat Clara terkejut.
"Apa kamu memata-mataiku? katakan apa saja yang kamu ketahui?" Tanya Clara berusaha terlihat normal yang sejatinya saat ini dia sangat gugup.
Sama seperti dirinya, Bagas juga sepupu dari Vina.
Ibu Clara dan ibu Vina adalah saudara, sedang Ayah Vina dan Ayah Bagas juga saudara.
Meski sama-sama sepupu Vina, tapi Clara dan Bagas sudah bukan kerabat dekat lagi.
__ADS_1
Dan inilah masalahnya, jika Bagas mengetahui dirinya menyukai Raihan, itu sama saja Vina juga akan mengetahuinya.