
Malam ini Richard dan Pitaloka duduk berdua di depan meja makan.
Meski sangat canggung, tapi Richard berusaha memecah kesunyian.
"Kalau kamu tidak tersinggung, boleh aku bertanya?"
Pitaloka menatap Richard sekilas lalu mengangguk.
"Dimana keluarga kamu? maksud aku, tadi kamu bilang kalau kamu pergi dari kos, lalu kenapa tidak pulang ke rumah orang tua kamu?"
Richard tidak tau jika pertanyaannya itu memang menyinggung masa lalu Pitaloka.
Tapi Pitaloka yang sangat jarang mau menceritakan tentang keluarga dan masa lalunya menjawab pertanyaan Richard.
"Ayah dan ibuku berpisah saat aku masih kecil. Kemudian ibuku menikah lagi. Tapi beberapa tahun lalu, ibuku meninggal membawa penyakitnya, dan ayah tiriku..."
Berkata sampai disitu Pitaloka bingung apa harus mengatakannya pada pria yang masih sangat asing itu atau tidak. Bahkan pada Raihan saja dia belum menceritakan tentang Kamal, ayah tirinya itu.
"Tidak perlu mengatakannya jika..."
Richard merasa Pitaloka berat mengatakan tentang ayah tirinya jadi ingin mengatakan jika dia tidak perlu mengatakannya jika ktidak mau, tapi Pitaloka kembali melanjutkan ceritanya yang membuat Richard terkejut mendengarnya.
"Ayah tiriku...tidak dia bahkan lebih bangsat dari pada ayah tiri. Dia menjualku di tempat hiburan malam dihari pertama ibuku meninggal, dan..."
Sampai disitu Pitaloka sungguh tidak bisa lagi meneruskan perkataannya. Air matanya mulai jatuh.
"Maaf, jika aku mengungkit masa lalumu."
Richard merasa tidak enak dan memberikan tisu pada Pitaloka.
__ADS_1
"Tidak, aku rasa ini saatnya aku menerima kenyataan. Jika aku memang berasal dari tempat rendah dan kotor, dan itu semua karena pria bangsat itu."
Lanjut Pitaloka, entah kenapa dia bukan lagi merasa malu, tapi justru merasa legah karena mengeluarkan keluh kesahnya.
Pitaloka sedikit banyak menceritakan masa lalunya di tempat hiburan malam, dan tentang niatnya mencari ayah tirinya yang kini menghilang ditelan bumi kepada Richard, namun tidak menceritakan tentang hubungannya dengan Raihan.
Dalam waktu beberapa menit saja, Richard sudah seperti telah mengenal lama Pitaloka.
(dering ponsel)
"Jika hanya untuk memintaku pulang dan memberi restu pada hubungan kalian, maka mama tidak perlu menghubungiku."
Richard berdiri dan mengangkat telponnya, terdengar dia sangat kesal saat ini.
Pitaloka yang masih duduk di dekatnya refleks mencerna maksud perkataan pria itu tanpa maksud menguping.
"Sayang, tolong dengarkan mama. Paman Kamal pria yang baik dan..."
"Kamal, Kamal, Kamal... Aku sudah katakan, silahkan lakukan yang kalian mau, tapi jangan harap aku ikut andil dalam hal itu. Sampai kapan pun aku tidak akan sudi pria sepertinya menggantikan posisi ayahku."
Setelah mengatakan itu, Richard langsung memutuskan telponnya.
"Kamal?" Gumam Pitaloka sambil menatap pria yang masih berdiri dengan kesal di depannya itu.
"Maaf, aku terbawa emosi dan lupa jika saat ini ada kamu disini."
Ucap Richard lalu kembali duduk dan mengatur nafasnya.
"Apa kamu baru saja menyebut nama Kamal?"
__ADS_1
Tanya Pitaloka, tubuhnya bergetar saat mendengar nama itu lagi. Bukan takut, tapi rasanya amarahnya memuncak saat nama itu masuk ke telinganya.
"Iya, entah kenapa aku tidak menyukainya. Mungkin karena dia mencoba menempati posisi mendiang ayahku."
Jawab Richard, lalu tersadar dan lanjut berkata "Kenapa kamu sepertinya tertarik dengan nama itu?"
"Ayah tiriku, dia juga bernama... Kamal."
Saat ini terlihat pancaran amarah dimata Pitaloka.
"Tunggu."
Richard mengotak atik ponselnya dan mencari akun sosial media ibunya, lalu berhenti pada sebuah postingan yang membuatnya kesal.
"Apa Kamal yang sama dengan yang mendekati ibuku?"
Richard menunjukkan foto ibunya yang sedang berpelukan dengan Kamal.
Melihat wajah yang telah menghancurkan hidupnya, Pitaloka semakin gemetar, bahkan suaranya juga bergetar.
"I iya... d di dia..."
Pitaloka tidak bisa bicara dengan benar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Richard memahami maksudnya.
"Berengsek, setelah menjualmu dia lari ke luar negeri dan mencari mangsa baru."
Richard menghempaskan handphonenya ke lantai tanpa memperdulikan betapa mahal handphonenya itu. Rasanya dengan begitu, dia bisa meredakan sedikit amarahnya.
...
__ADS_1
Diwaktu yang sama, Sesil yang melihat Raihan pulang dengan wajah gelisah menghampirinya dan bertanya.
Raihan mengatakan padanya jika, baru saja dirinya ke kos Pitaloka. Tetapi kata Clara, Pitaloka sore tadi pergi dengan membawa kopernya.