
"Tuan... apa yang anda lakukan? tolong keluarlah kami sedang menangani pasien."
Seorang suster melihat Raihan yang menerobos masuk dengan tampang mautnya.
"Enyah kau..."
Raihan yang pada dasarnya memang seorang yang arogan, di tambah saat ini dia sedang sangat cemas, mendorong suster yang tadi menyuruhnya keluar hingga terjatuh.
Sontak dokter dan suster lainnya yang dari tadi fokus menangani Pitaloka melihat ke arah Raihan.
"Tuan, jika anda mencemaskan pasien, maka tolong bantu kami. Bekerja samalah dengan kami dan keluar dari sini. Kami masih kesusahan menangani pasien dan sepertinya kondisi..."
Dokter tersebut belum selesai berkata, namun Raihan sudah memotongnya.
"Diam, apa kalian tahu penyebab dia seperti ini? Tanya Raihan.
"Iya, tapi..."
Dokter berkata sambil mengangguk, tapi lagi-lagi perkataannya di potong oleh Raihan.
"Lalu, apa kalian tau cara menyembuhkannya?" Tanya Raihan lagi penuh penekanan.
Dokter menggeleng dan belum sempat mengatakan apapun, tapi Raihan sudah mendorongnya keluar dari sana.
"Kalau begi kalian semua buat apa disini? pergilah jika kalian tidak ada gunanya."
__ADS_1
Raihan memang tidak sekasar itu, tapi karena saat ini dia sangat cemas maka dia berlaku sangat kasar dan buruk.
Tenaga Raihan yang sangat kuat saat mendorong dokter itu membuat dokter tersebut langsung terlempar ke luar.
Para suster segera berlari untuk membantu Dokternya.
"Apa yang terjadi?"
Nyonya Hamel sangat terkejut melihat tiba-tiba saja tubuh dokter terlempar keluar dan menabraknya.
"Jangan bertanya, tentu saja karena malaikat maut itu ada di dalam."
Kepala kru yang sudah sangat mengenal segala sifat arogan Raihan tentu bisa menebaknya.
"Pria itu, dia sepertinya tidak waras. Panggil keamanan."
Dokter sudah menemukan penyebab Pitaloka pingsan, dan dia sangat tau jika belum ada yang bisa menyembuhkan penyakit ketergantungan dari obat itu, termasuk dokter besar seperti dirinya. Apalagi pria yang sama sekali tidak terlihat seperti dokter itu.
Suster segera berlari dan mencari pihak keamanan rumah sakit.
...
Melihat wanita yang dia cintai memucat, Raihan tidak menunggu lagi dan langsung memasukkan pil yang dia bawa ke mulut Pitaloka.
Beberapa menit setelahnya, Pitaloka tidak juga bereaksi.
__ADS_1
"Jika obatmu ini tidak mampu menyelamatkan wanitaku, maka aku tidak hanya akan menghancurkan pusat penelitianmu, tapi juga... dirimu..." Gumam Raihan.
Dan sampai dia menunggu beberapa menit lagi, Pitaloka belum juga bereaksi.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu melakukan ini padaku."
Raihan mulai frustasi, melihat tidak ada perubahan dari Pitaloka benar-benar membuatnya sangat cemas.
"Kelvin sialan... penawar apa yang kau ciptakan!"
Raihan bersandar di pojok ruangan sambil menjambak rambutnya, kali ini dia sudah putus asa. Dia bahkan sudah mengusir keluar dokter yang mungkin masih bisa membantu Pitaloka sedikit bertahan, tapi dia malah dengan bodohnya begitu mempercayai pil penawar dari Kelvin.
"Itu dia, seret dan lempar dia dari sini."
Dokter menunjuk Raihan yang sudah tampak berantakan dan menyuruh para pihak keamanan untuk membawanya keluar dari sana.
Raihan yang merasa bersalah berlutut di lantai dan menjatuhkan air mata yang tidak pernah di lihat seorang pun.
"Dok, pasien sadarkan diri."
Seorang suster melihat tubuh Pitaloka kejang-kejang.
Dokter tentu terkejut dengan itu, dia sudah berusaha sebelum Raihan datang, tapi tidak ada hasil. Bahkan sebelum Raihan masuk, dia sendiri sudah mau mengajak rekannya keluar karena menyerah.
Dan sekarang Pitaloka sudah sadar.
__ADS_1
"Tangani dia, mungkin penawar yang aku beri mulai bereaksi."
Raihan langsung berdiri dan mendekati Pitaloka.