GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Berlutut


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?"


Pitaloka yang mau ke kantin bersama Sesil terkejut saat Bagas, Diky, Sonya dan Lulu berlutut di kakinya.


"Tolong maaf kan kami, kami mengaku salah telah menghinamu kemarin."


Keempat orang itu masih berlutut tanpa bergerak sedikitpun.


"Apa? menghina?"


Sesil yang tidak tau apa-apa tentang kejadian kemarin terkejut mendengar pengakuan mereka.


"Iya, tolong maaf kan kami, kami akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan kami dan mengatakan pada kekasihmu untuk meminta Pak Rektor tidak mengeluarkan kami dari kampus."


Sonya dan Lulu kini berlinang air mata. Bukan sandiwara, tapi dia sungguh ketakutan jika sampai Pitaloka menolak untuk membujuk Raihan. Karena Rektor berkata jika mereka bisa saja tetap di kampus itu hanya jika Raihan memaafkan mereka.


"Kekasih?" Sesil di buat bingung dengan drama di depannya.


"Sudahlah, kalian tidak perlu berlutut. Aku akan bicara dengannya."


Pitaloka tidak tega melihat mereka, lagian dia juga sadar jika wajar bagi mereka menghinanya kemarin. Karena kurang lebih Pitaloka yang dulu memang seperti itu.


Pitaloka juga tidak bermaksud untuk memperpanjang masalah kemarin, dia sendiri terkejut mendengar Raihan meminta Rektor untuk mengeluarkan mereka dari kampus. Jujur saja, Pitaloka tidak tau sekuat apa Prianya itu, dan sebesar apa pengaruhnya di kota itu.


"Benarkah? terima kasih, terima kasih, terima kasih."


Sonya dan Lulu begitu girangnya langsung bangkit dan mencium tangan Pitaloka.


"Maafkan aku, aku hanya sakit hati atas penolakan kamu selama ini padaku."

__ADS_1


Diky berdiri dan meminta maaf dengan tulus pada Pitaloka.


"Tidak masalah, aku yang terlalu sombong. Meski tidak menyukaimu harusnya aku menolakmu dengan baik."


Pitaloka juga menyadari itu, jika dulu dia sangat sombong sampai menolak Diky dan merendahkannya, jadi wajar jika Diky sakit hati dan dendam.


Lain halnya dengan Bagas, dia terlihat tidak menyesal sama sekali. Dia hanya terpaksa ikut berlutut dan meminta maaf pada Pitaloka, karena kalau tidak, dia akan di keluarkan dari kampus. Bahkan pekerjaan ayahnya juga akan terancam.


...


"Tunggu, katanya aku tidak ketinggalan sesuatu. Tapi sepertinya tidak."


Saat keempat orang itu pergi, Sesil tidak bisa tahan untuk bertanya.


Pitaloka melihat sahabatnya itu lalu menceritakan segalanya.


"Berani sekali mereka, kalau aku tau, tadi pasti aku akan menhajarnya."


"Jadi yang mereka maksud menyuruh pak Rektor mengeluarkan mereka dari kampus itu paman kecil?" Tanya Sesil.


"Hmm." Angguk Pitaloka.


"Haha, dia memang paman kecilku."


Sesil tertawa mengagumi perbuatan Raihan yang baginya memang sudah benar.


...


"Jalan-jalan yuk!" Ucap Sesil saat kelas selesai.

__ADS_1


"Emm kemana?"


"Kemanapun kaki melangkah."


Sesil menarik Pitaloka masuk ke dalam mobilnya.


"Bukan kaki, tapi kemanapun ban mobil berputar." Pitaloka mengoreksi perkataan Sesil.


"Haha, iya yah." Sesil tertawa sambil melajukan mobilnya.


"Awas!"


Sesil secepat mungkin menginjak rem mobilnya karena terkejut saat mendengar teriakan Pitaloka.


Hampir saja dia menabrak mobil yang saat ini berhenti di depan mobilnya.


"Apa kita menabraknya?" Tanya Pitaloka merasa sedikit cemas.


"Sepertinya tidak, paling hanya tergores sedikit." Jawab Sesil lalu membuka pintu dan keluar dari mobilnya.


"Lecet." Ucap Pitaloka cemas, dia melihat Sesil yang sepertinya santai saja.


"Cuma lecet, paling ganti rugi saja." Ucap Sesil.


"Hei apa kamu me..." Richard yang keluar dari mobil dengan tampang kesal, mengubah tampangnya saat melihat ternyata Sesil yang telah menabraknya.


"Richard?" Batin Sesil.


"Kenapa lagi-lagi dia bertemu dengan pria itu?" Pikirnya.

__ADS_1


"Maaf tuan, kami yang salah. Kami tidak sengaja. Tapi kami akan mengganti rugi atas kerusakan mobil tuan."


Melihat keduanya sama-sama diam dan hanya beradu pandang, Pitaloka menarik Sesil mundur karena mengira keduanya sedang sama-sama marah.


__ADS_2