GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Lebih Cepat Mulai Maka Lebih Cepat Selesai


__ADS_3

"Apa kamu yakin akan tetap melanjutkan syuting?"


Tanya Raihan pada Pitaloka, dia harus segera pulang dan menuntaskan masalah Pitaloka.


Raihan tidak memberi tahu Pitaloka, tapi dia mengajaknya untuk pulang bersama. Takut orang itu akan menghubungi Pitaloka lagi saat dirinya tidak ada.


"Iya, bagaimanapun aku harus profesional bukan? ini saja aku sudah menunda proses syuting cukup lama." Ucap Pitaloka.


"Baiklah, jaga dirimu dengan baik. Ingat setiap hari makan satu pil oke. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Raihan mengecup kening Pitaloka lalu kembali ke kotanya.


...


"Nona, apa anda sudah jauh lebih baik? jika tidak kami juga tidak buru-buru."


Kepala kru mendatangi Pitaloka dan bersikap sangat sungkan. Barusan Raihan mengatakan akan mengampuninya tapi dia harus lebih ekstra menjaga Pitaloka.


"Tidak, aku sangat baik. Ayo kita mulai, lebih cepat dimulai maka lebih cepat selesai bukan!"


Pitaloka berjalan sambil tersenyum dan begitu semangat. Dia harus menyelesaikan syutingnya dan segera pulang kepelukan kekasihnya.


...


Tak menunggu sedetik pun, saat sampai di kotanya, Raihan langsung mendatangi tempat hiburan malam yang Sesil katakan.


Ada puluhan orang berbadan besar yang mengikutinya.


(Suara bangunan di hancurkan)


"Apa apaan ini? siapa kalian?"

__ADS_1


Mendengar suara gaduh di luar, bos tempat hiburan malam itu keluar bersama beberapa pengawalnya.


"Atasan kami memerintahkan kami untuk meratakan tempat ini."


Seorang yang terlihat seperti pemimpin orang-orang berbadan besar itu, berteriak pada bos yang kebingungan disana.


"Siapa atasan kalian? kenapa dia melakukan ini?"


Bos tentu tidak berani melawan saat melihat pengawalnya kalah jumlah dari orang-orang berbadan besar itu. Dia hanya bertanya siapa atasannya dan kenapa dia melakukan itu dengan emosi.


"Aku."


Raihan muncul disana dan membuat bos seketika menundukkan kepalanya.


Dia sangat tau siapa orang di depannya itu, tapi yang membuatnya bingung kenapa dia melakukan itu? apa kesalahannya?


"Maaf tuan Saloka, tapi ada apa ini?"


"Aku kesini bukan untuk menjawab pertanyaanmu, tapi sebaliknya kamu yang harus menjawabku."


Sebenarnya Raihan sangat terkejut saat sampai di tempat ini. Terlebih saat melihat Modan.


Sebelum dia ke London, dia pernah sekali kesini, dan itu saat dia melakukan tantangan dari teman-temannya.


Saat itu Raihan memilih seorang gadis perawan tanpa melihatnya atau pun membiarkan gadis itu melihatnya.


Dan saat pulang dari London, Raihan kembali kesini untuk mencari gadis itu, tapi kata Modan gadis itu sudah pergi.


"Apa kamu yang menghubungi Pitaloka?"


Pertanyaan Raihan sontak membuat Modan terkejut.

__ADS_1


"Jawab!" Teriak Raihan.


"I... i..ya.. Tapi..."


"Bukk."


Belum Modan menyelesaikan ucapannya, tendangan Raihan sudah membuatnya terlempar.


"Beraninya kamu. Katakan apa kamu juga yang selama ini memberinya obat pe****sa** itu?"


Suara Raihan membuat Modan yang berusaha berdiri kembali terjatuh karena terkejut.


"I iya..."


"Bukkk."


Lagi-lagi tendangan Raihan mengenai dada bos malang itu.


"Bakar tempat keparat ini!" Seru Raihan pada orang-orangnya.


Raihan sangat marah saat ini, rasanya dia tidak mau menyisahkan tempat ini sedikit pun.


"Tunggu tuan, kenapa anda semarah itu? aku hanya menelpon wanita itu untuk kembali bekerja. Bukankah anda sendiri juga senang jika wanita itu kembali?"


Modan dengan susah payah berdiri.


"Apa maksudmu bangsat?"


"Bukankah beberapa waktu lalu anda kesini dan mencari gadis yang pernah anda tiduri?"


Perkataan Modan seketika membuat Raihan gugup, tubuhnya bergetar menebak arah bicara Modan.

__ADS_1


__ADS_2