
Pitaloka pulang ke kosannya, karena rumah ibunya telah di jual oleh ayah tirinya jadi dia terpaksa ngekos.
"Sepertinya aku harus mencari pekerjaan sekarang."
Pitaloka membuka tasnya dan melihat uang yang dia bawa kabur dari tempat pelacuran sudah hampir habis karena sudah dia pakai untuk membayar uang kuliah dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
...
"Pit, lihat ini. Kamu sedang mencari kerjakan?"
Sesil teman baik Pitaloka berlari kearah Pitaloka sambil membawa sebuah koran.
Pitaloka mengambil koran itu dan melihat disana tertulis sedang mencari gadis cantik, seksi dan berbakat untuk menjadi bintang iklan sebuah produk besar.
"Yang benar saja, kamu bukannya tahu masalahku, jika aku menjadi bintang iklan dan muncul di TV maka bos tempat itu pasti akan melihatku dan akan menangkapku, aku tidak mau kembali ke neraka itu."
Pitaloka menyerahkan koran itu lagi kepada Sesil, Selil adalah satu-satunya sahabat yang Pitaloka percaya melebihi dirinya, jadi dia menceritakan semua masa lalunya termasuk di tempat pelacuran dulu kepada Sesil.
"Justru karena itu, sampai kapan kamu akan terus bersembunyi? aku tidak mau kamu seperti ini terus, kamu harus bebas seutuhnya dari tempat itu, dan ini adalah kesempatan untukmu. Kamu dengar yah Pit, CEO dari perusahaan tempat produk yang akan kamu bintangi ini adalah paman kecilku. Dia baru pulang dari London. Aku akan memgenalkanmu dengannya dan memintanya menjagamu. Ingat, jika kamu sudah terkenal maka tidak akan ada yang berani menindasmu termasuk bos kotor itu."
Sesil memberi dorongan pada Pitaloka dengan tulus, dia sangat mengerti dengan rasa hawatir Pitaloka, tapi Pitaloka tetap harus bangkitkan?
"Sepertinya kamu benar, aku tidak boleh bersembunyi terus, aku harus menjadi kuat sehingga aku sendiri tidak takut lagi pada mereka yang menindasku, dan aku juga memang sangat membutuhkan pekerjaan ini karena aku butuh makan untuk bertahan hidup sehingga aku bisa membalaskan dendamku kepada Kamal."
__ADS_1
Pitaloka akhirnya memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu.
"Tapi apa aku akan diterima? pasti akan banyak orang yang mau menjadi bintang produk inikan?"
Tanya Pitaloka pada Sesil.
"Tenang saja, akukan sudah bilang kalau paman kecil aku adalah CEO perusahaan produk itu, aku pasti membantumu."
Kata Sesil.
...
"Pit?"
Sesil memangil-manggil Pitaloka di depan kosan Pitaloka.
Pitaloka bingung dengan kedatangan Sesil yang tiba-tiba.
"Bersiap, dandan yang cantik malam ini aku sudah mengatur pertemuanmu dengan paman kecilku."
Sesil mendorong Pitaloka masuk dan membantu Pitaloka berdandan.
"Tunggu, kamu mengatur pertemuanku dengan pamanmu? tapi buat apa?"
__ADS_1
Tanya Pitaloka.
"Wah kamu memang selalu cantik."
Sesil bukannya menjawab pertanyaan Pitaloka tapi malah memuji penampilan Pitaloka yang memang terlihat begitu cantik dengan pakaian selutut yang memperlihatkan kaki putihnya.
"Sesil jawab dulu buat apa aku bertemu pamanmu? kamu tidak menjualku ke om-omkan?"
Pitaloka memang bingung dengan Sesil yang memaksanya bertemu paman kecilnya, tapi dia tidak serius mengira Sesil akan menjualnya.
"Akukan sudah bilang siapa paman kecil aku, jadi kamu harus kenalan dengannya sekarang."
Melati berkata tanpa memberi celah untuk Pitaloka berkata lagi.
...
"Hai paman, selamat malam!" Sesil yang duluan menemui Raihan menghampirinya dengan manja lalu duduk di kursi sebelah Raihan.
Raihan melihat ke arah belakang Sesil lalu bertanya "Katanya kamu mau memperkenalkan teman baikmu, mana?"
"Oh dia sedang di toilet, sebentar lagi kesini."
Melati mengambil waktu sebelum Pitaloka datang, dia menceritakan tentang Pitaloka yang sangat membutuhkan pekerjaan dan membujuk Raihan untuk menjadikannya bintang iklan di produk barunya.
__ADS_1
"Ayolah paman, teman aku itu sangat cantik dan pintar, paman tidak akan rugi jika menjadikannya bintang iklan di produk paman itu." Melati terus membujuk Raihan.
"Sudah, biar aku lihat dulu teman yang dari tadi kamu sanjung itu. Dan ingat aku sudah sering bilang jangan panggil aku paman, umur aku belum pantas untuk itu." Sebenarnya Raihan tipe pria yang cuek dan malas bicara, tapi jika bertemu ponakannya itu maka dia bukanlah Raihan, namun paman kecil yang harus menuruti segala sikap manja ponakannya itu.