GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Mengikuti Permainan Richard


__ADS_3

Sesil tampak berpikir keras lalu bergumam.


"Apa ini ada hubungannya dengan Kamal?"


"Apa yang kamu katakan?"


Raihan sebenarnya mendengar jelas ucapan Sesil, tapi dia tidak mengerti apa maksudnya.


Sesil menatap Raihan.


"Apa aku belum mengatakan tentang Kamal pada paman?" Tanya Sesil.


"Tidak, siapa dia? ada hubungannya dengan Pitaloka yang tiba-tiba pergi?" Raihan menggeleng, lalu balik bertanya.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi Kamal itu ayah tiri Pitaloka, dia yang telah menjual Pitaloka pada bos tempat hiburan malam itu." Ucap Sesil.


Meski Kamal tidak ada hubungannya dengan kepergian Pitaloka, tapi yang ada dalam pikirannya hanya itu saat ini.


Sesil kemudian menceritakan semua tentang Kamal yang dia ketahui kepada Raihan.


"Tapi paman rasa ini tidak ada hubungannya dengan kepergian Pitaloka."


Ucap Raihan, entah kenapa dia bisa menebak itu.


...

__ADS_1


"Huft kok bisa kempes? mana udah siang lagi."


Keluh Sesil saat mau memasuki mobilnya tapi melihat ban mobilnya kempas.


"Paman? antar aku yah, ban mobilku kempes." Rengek Sesil, saat Raihan keluar dari rumah.


Raihan melirik ban mobil Sesil lalu berkata "Ayo."


Lagian dia juga mau memastikan, apakah Pitaloka hari ini datang ke kampus atau tidak.


Jika gadis itu tidak datang ke kampus, berarti kepergiannya bisa jadi karena ayah tirinya. Tetapi jika dia datang ke kampus hari ini, mungkin itu karena hal lain.


"Apa kemarin Pitaloka terlihat marah padamu?"


"Tidak, tapi dia tidak bicara padaku. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, aku kira karena nenek tua." Ucap Sesil.


"Tidak, paman rasa ini masalah lain. Pitaloka tidak mungkin melampiaskan amarahnya kepadamu jika hanya soal sikap nenek tua padanya." Ucap Raihan.


"Lalu kenapa dia bersikap dingin padaku? bahkan dia tidak pernah menghubungiku, ditambah sekarang dia pergi dari kosnya. Semoga saja dia tidak berpikir pindah kampus juga."


Sesil sangat sedih dengan sikap dingin Pitaloka yang dia tidak tau sebabnya itu. Dia berharap semoga hari ini, bisa bertemu Pitaloka dan menyelesaikan masalah yang ada.


"Paman, sepatuku lepas hehe."


Saat sampai di depan kampus, tali sepatu Sesil lepas. Seperti biasa, Sesil yang manja mencolek paman kecilnya itu. Dia sangat senang jika pamannya yang angkuh terhadap orang lain itu, tunduk dan memanjakannya.

__ADS_1


Raihan menarik nafas lalu tunduk dan mengikatkan tali sepatu ponakannya itu, dan Sesil cengengesan melihatnya.


"Ciiittt."


Suara rem mobil.


Richard turun dari mobil, lalu berlari ke arah pintu lainnya untuk membukakan pintu buat Pitaloka.


Sebelum mobilnya berhenti, dari jauh Richard sudah melihat tingkah manja dan usil Sesil terhadap pamannya, tapi itu dinilai romantis dimata Richard.


Merasa cemburu dan tidak mau kalah, Richard memikirkan ide untuk membuat Sesil juga merasa cemburu.


Richard membantu Pitaloka turun dari mobil, lalu tiba-tiba berkata "Maaf." dan meraih pinggang Pitaloka.


Pitaloka belum menyadari jika saat ini dua pasang bola mata sedang menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Pitaloka mencoba lepas dari pelukan Richard, namun Richard menahannya dan berbisik "Tolong, bantu aku oke!"


Pitaloka yang pintar akhirnya mengerti jika mungkin pria itu saat ini sedang meminta bantuannya untuk membuat seseorang cemburu.


Dan benar saja, saat Pitaloka mengangkat pandangannya dia melihat Sesil yang menatapnya tajam.


"Se..."


Pitaloka mau menjelaskan kebenarannya pada Sesil, tapi kemudian dia teringat sesuatu saat melihat Raihan juga disana dan akhirnya mengikuti permainan Richard.

__ADS_1


__ADS_2