
"Maksud kamu apa?"
Meski Sesil bisa sedikit menebak maksud Pitaloka, tapi dia tetap ingin memperjelasnya.
Pitaloka menggenggam tangan Sesil, mungkin dengan begitu rasa cemasnya bisa sedikit berkurang.
"Pak Edwar, aku pernah, bahkan sering bersamanya..."
Pitaloka mulai menjelaskan pada Sesil tentang dirinya yang pernah kambuh di kelas. Dan saat itu Sesil sedang absen.
Semua mahasiswa juga sudah pulang saat itu, karena jam belajar sudah selesai.
Tapi Edwar yang tadi mengajar di kelasnya, kembali ke kelas untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Edwar mendapati Pitaloka yang sedang merintih kesakitan dan tanpa banyak berpikir membawanya ke kos Pitaloka yang saat itu sekeliling kos itu sangat sepi.
Edwar saat itu hendak keluar dan menghubungi dokter.
Tapi karena tidak kuat menahan sakit, Pitaloka meminta Edwar mengambilkannya obat yang ada di dalam tasnya.
Tanpa pikir panjang, Pitaloka yang kesakitan langsung menelan obat itu saat Edwar masih disana. Dan disitulah awal Pitaloka dan Edwar berhubungan.
Kedua kalinya Pitaloka masih fine saja menjadikan Edwar penawar obatnya, tapi saat Pitaloka tau jika pria itu telah memiliki istri dan seorang anak, Pitaloka ingin mengakhiri hubungan mereka.
Tapi Edwar tidak rela melepas tubuh cantik Pitaloka dan dia mulai mengancam Pitaloka dengan menunjukkan sebuah rekaman saat mereka pertama kali berhubungan.
"Tapi aku sudah menghapus video itu saat terakhir kali kami berhubungan. Dan sejak saat itu dia menghilang, aku pikir dia sudah mengundurkan diri dari kampus tetapi ternyata saat ini dia kembali. Aku takut Sil, aku takut dia bukan hanya untuk mengajar disini, melainkan ingin..."
Pitaloka tidak bisa meneruskan perkataannya, tapi Sesil tentu mengerti maksud dan rasa hawatir sahabatnya itu.
"Tenanglah, kita akan menghadapi ini bersama. Aku pasti tidak akan membiarkan bajingan itu melakukan hal buruk padamu."
__ADS_1
Sesil memeluk Pitaloka, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
...
"Kamu yakin tidak masalah jika aku tinggal?"
Sesil merasa berat meninggalkan Pitaloka seorang diri di kosnya.
"Tidak, aku baik-baik saja kok. Pulanglah, tante Camel pasti membutuhkanmu dirumah."
Ucap Pitaloka yang sudah agak tenang.
"Oke, kamu baik-baik yah. Daahh."
...
Di dalam kantor Raihan, Richard sedang menjelaskan penyebab Pitaloka marah dan menjauhinya.
Umpat Raihan setelah mengetahui jika Modan yang telah mengatakan pada Pitaloka, jika dialah pria yang pertama kali menyentuh Pitaloka malam itu.
"Aku rasa sebaiknya kamu menjelaskan padanya, posisi kamu yang sebenarnya saat itu. Aku yakin gadis sebaik dan pengertian seperti Pitaloka pasti akan mengerti, jika kamu saat itu juga tidak mengetahui jika dirinya dalam pengaruh obat dan tidak bersedia melakukannya dengan suka rela." Ucap Richard.
Raihan juga sudah menjelaskan padanya jika Raihan mau melakukan itu pada Pitaloka saat itu, karena Raihan tidak tau jika Pitaloka dalam pengaruh obat dan sebenarnya tidak bersedia melakukan hal tersebut. Raihan kira, Pitaloka saat itu dalam keadaan normal dan secara suka rela mau melayaninya.
"Bangsat, setelah masalahku dengan Pitaloka selesai, aku pasti akan mencari Modan bajingan itu dan juga Kamal keparat itu."
Raihan memang sangat marah pada Modan, tapi lebih dari itu, Raihan lebih marah lagi pada Kamal yang merupakan sumber utama penderitaan Pitaloka.
...
(Dering ponsel Sesil)
__ADS_1
Sesil melihat layar ponselnya dan disana tertera panggilan masuk dari Richard dengan nama kontak 'My Heart'.
"Halo...!"
Senang campur gugup, Sesil mengangkat panggilan tersebut.
"Iya halo, apa kamu sudah pulang kampus?"
Tanya Richard sekedar basa-basi karena begitu merindukan suara kekasihnya itu.
"Iya, aku baru saja selesai mengantar Pitaloka ke kosnya, ini sedang menuju rumah."
Ucap Sesil sambil menimbang apa sebaiknya dia menceritakan masalah Edwar pada Richard atau tidak.
Tapi kemudian Sesil berpikir untuk mengatakan hal itu pada paman kecilnya terlebih dahulu.
"Oh, ya sudah, hati-hati. Aku juga mau pulang ke apartemen sekarang. Bye!"
"Bye!"
"Aku merindukanmu."
Sesil kira Richard sudah mematikan telponnya, ternyata dia mendengar sesuatu yang membuat jantungnya hendak melompat keluar.
Richard menunggu dengan tenang jawaban dibalik telpon.
"Aku juga merindukanmu."
Setelah mengatakan itu, Sesil langsung memutuskan panggilan itu karena merasa malu.
Keduanya mengakhiri sambungan telpon lalu masing-mading senyum-senyum sendiri sambil menciumi ponselnya.
__ADS_1