
Saat sampai di depan kos Pitaloka, Raihan bertanya. "Apa ketergantungan kamu tidak kambuh?"
Raihan bingung, kemarin malam sekitar waktu jam makan malam Pitaloka kambuh, tapi sekarang sudah jam 10 malam, tapi dia melihat Pitaloka yang dia kira akan kambuh baik-baik saja.
"Kamu mau aku setiap malam kambuh? apa kamu menikmatinya?" Goda Pitaloka.
"Tidak,bukan begitu... tapi..."
"Obat itu tidak menggangguku setiap malam, kadang aku kambuh tiba-tiba dan kadang juga tidak. Itu tidak menentu."
Pitaloka tau, itu yang ingin ditanyakan Raihan.
"Ya sudah, masuk dan istirahatlah."
Raihan melihat wanita yang beberapa hari ini memenuhi kepalanya itu masuk ke kosnya dengan jas yang menutupi tubuh basahnya.
"Aku pasti akan membebaskanmu dari obat sialan itu." Gumam Raihan.
Dia sangat tidak bisa terima, saat memikirkan sebelum dia bersama Pitaloka, gadis itu pasti sangat tersiksa dan harus merendahkan dirinya kepada pria-pria hidung belang yang hanya menginginkan tubuhnya saja.
Raihan merasa sangat marah dan cemburu, dadanya terasa panas membayangkan itu.
"Aku akan memberimu modal berapa pun yang kamu butuhkan, tapi secepatnya selesaikan penelitianmu itu."
Raihan memutuskan sambungan telponnya, lalu menginjak pedal gasnya.
...
__ADS_1
Kelvin, yang baru saja mendapat telpon dari sahabat baiknya Raihan, melompat girang.
Penelitiannya tentang obat pe****sa** selama beberapa bulan itu sudah hampir selesai, dan dia bahkan sudah hampir menyeselaikan penawar dari obat itu. Dan sahabatnya baru saja mengatakan akan menambah modalnya agar penelitiannya cepat selesai.
"Dokter Kelvin, kira-kira berapa lama lagi ini selesai?"
Adnan yang merupakan rekan sepenelitian Kevin menghampirinya.
"Tidak lama, tapi hari. Tinggal beberapa hari lagi semuanya akan selesai."
Kelvin sudah sangat yakin dengan usahanya selama ini, dia pasti berhasil menciptakan penawar dari sebuah obat keras yang hebat, yang bahkan sampai detik itu belum ada yang bisa membuat penawar obat itu.
...
Pitaloka memasuki kampus dengan bimbang.
Kini Pitaloka bingung, bagaimana dia bisa ke tempat sejauh itu dan meninggalkan kampus?
"Hei Pit!" Sapa Sesil yang memang selalu datang belakangan.
"Hei!" Balas Pitaloka dengan pikiran tak lepas dari kuliah dan karirnya.
"Ada apa?"
Melihat raut wajah sahabatnya, tentu Sesil bisa menebak jika saat ini sahabatnya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Produser menelpon dan memintaku bersiap, sore ini semua tim akan terbang ke Italia untuk proses syuting dan..."
__ADS_1
"Waw, Italia? kamu sungguh luar biasa, aku saja meski mampu belum sempat kesana. Roma, Venesia, Sardinia, Milan, Firenze, aaahhh semua tempat itu sangat indah dan masih banyak tempat lainnya."
Sesil bukannya katro, tapi memang meski dia mampu untuk ke sana akan tetapi dia belum sempat kesana karena masalah waktu. Dan saat ini sahabatnya bilang akan kesana, tentu saja dia takjub.
"Tapi ada masalah." Ucap Pitaloka menghentikan hayalan Sesil yang entah sejak kapan sudah sampai ke Roma.
"Syuting disana agak lama, dan pihak kampus pasti tidak akan memberi aku izin."
Itulah yang mengganggu pikiran Pitaloka.
"Huh aku kira apa. Kamu lupa siapa kekasihmu dan pengaruhnya termasuk di kampus kita?"
"Maksudnya?"
Perkataan Sesil sama sekali tidak di mengerti Pitaloka.
"Raihan Saloka, CEO Saloka Grup bahkan sebagai investor kampus kita. Tentu saja, siapapun pihak kampus ini tidak akan menghalangimu. Meski untuk izin selama yang kamu mau pun. Kamu ingat, Rektor saja tunduk padanya. Sekarang jangan banyak pikir, kembali ke kos dan bersiaplah, aku yang akan menangani surat izin kamu disini."
Sesil mendorong Pitaloka yang sudah mendekati kelas kembali ke kosnya.
Semua itu tidak lepas dari pandangan orang-orang disana, termasuk Clara.
Namun mereka semua tidak mendengar yang Pitaloka dan Sesil bicarakan, jadi mereka tidak ada yang mengerti dengan situasi saat itu.
Tapi Clara sedikit dekat dengan mereka, sepertinya mendengar jika Pitaloka akan bersiap ke Italia untuk syuting.
"Merasa di atas angin, tunggu saja sebentar lagi kamu akan terhempas ke tanah." Gumam Clara lalu memasuki kelasnya.
__ADS_1