
Mendengar semua penjelasan Richard, kini Sesil merasa mendapat jawaban dari segala pertanyaannya.
"Benarkah? kamu tidak mempermainkan aku kan?"
Tanya Sesil dengan mata mulai lembab.
"Tentu saja, jika dia berani mempermainkan sahabatku, maka aku sendiri yang akan memberinya pelajaran."
Tapi bukan Richard yang menjawabnya, melainkan Pitaloka yang dari tadi dengan usil menguping di luar pintu.
Sesil tampak malu karena dia menyadari, jika semua pasti sudah sahabatnya itu rencanakan.
"Iya, aku bersungguh-sungguh. Bahkan aku sudah mendapat restu dari pamanmu."
Perkataan Richard bukan hanya membuat Sesil terperangah, tetapi lebih dari itu, Pitaloka yang masih berdiri disana menjadi terpaku saat mendengar pria yang dia benci sekaligus dia cintai disebut oleh Richard.
"Kalian lanjut saja, aku ke dapur dulu."
Pitaloka memasuki dapur, dan menghapus tetesan air mata yang tidak lagi bisa dia bendung.
Dia sangat iri pada Richard dan Sesil, keduanya kini bersatu. Tapi berbeda dengan dirinya yang harus menahan sakit akibat cinta dan benci yang dia rasa.
Setelah Pitaloka menenangkan dirinya, dia kembali ke ruang tamu.
Tak terasa mereka bertiga makan dan ngobrol bersama hingga malam.
"Aku harus pulang, meski kondisi ibuku sudah membaik tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendiri pada dua penyihir di rumah itu." Ucap Sesil lalu mengambil tasnya yang ada di kamar Pitaloka.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu." Ucap Richard sambil berdiri.
"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri. Oke sampai jumpa besok."
Sesil mencium pipi kanan dan kiri Pitaloka, lalu keluar dari sana.
"Buat aku?" Ucap Richard yang membuat Sesil bingung dan menghentikan langkahnya.
Pitaloka sudah tangkap dengan maksud Richard, dia tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Memberi waktu buat kedua pasangan baru itu.
"Apa kamu membedakan aku dengan sahabatmu itu?" Tanya Richard sambil menunjuk pipinya.
Barulah Sesil mengerti, dan membuat pipinya memerah.
"Tentu, dia sahabat baikku yang aku percaya melebihi diriku sendiri. Dan kamu... kamu masih harus berjalan jauh untuk mendapatkan kepercayaan yang sama dariku."
"Eh Sil, Sesil? Dasar... dia sama sekali tidak berubah."
Richard kemudian pulang juga ke apartemennya.
...
"Mah, apa yang terjadi? pelayan? mah bangun mah, mama kenapa?"
Sesil yang baru sampai langsung memasuki kamar ibunya untuk melihat apa ibunya sudah tidur atau belum.
Tapi betapa terkejut dan paniknya dia, saat melihat ibunya tergeletak di lantai dan tak sadarkan diri dengan busa di mulutnya.
__ADS_1
"Iya ada... Nyonya?"
Pelayan yang di tugaskan husus menjaga Camelia, datang dan sangat terkejut melihat kondisi Camelia.
"Dari mana kamu? bukankah paman kecil menugaskanmu husus menjaga mamaku? cepat panggil ambulance!"
Sesil sangat hawatir dan memarahi pelayannya itu.
Pelayan dengan cepat menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim ambulance.
"Tolong dok, aku tidak mau hal buruk terjadi pada ibuku."
Saat sampai rumah sakit, dokter langsung menangani Camelia.
"Apa yang terjadi dengan kakak ipar?"
Raihan yang saat di perjalanan sudah di hubungi oleh Sesil, tiba di rumah sakit langsung memeluk ponakannya yang sedang menangis itu.
"Paman, aku tidak tau. Aku pulang terlambat malam ini, karena membantu Pitaloka membereskan kos barunya. Dan saat aku sampai di rumah, mama... huhu paman jangan biarkan sesuatu terjadi pada mama."
Sesil menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Raihan.
"Apa yang terjadi dok?"
Raihan melihat dokter keluar dari bangsal Camelia dan bertanya.
"Maaf Tuan Saloka, sepertinya Nyonya Camelia keracunan makanan."
__ADS_1
Ucap dokter yang sudah menjadi dokter keluarga Saloka itu.