GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Semoga Sesil Baik-Baik Saja


__ADS_3

Sore hari, Richard yang ingin singgah membeli sesuatu di sebuah toko, tak sengaja bertemu Pitaloka.


"Hei, kamu mau belanja?"


Sapa Pitaloka pada Richard saat melihat pria tampan yang tak lama ini hadir dalam sosok kakak baginya.


"Iya, hanya ingin membeli barang kecil."


Jawab Richard sambil menengok ke arah belakang Pitaloka seperti sedang mencari sesuatu.


"Kamu mencari seseorang?" Tanya Pitaloka karena melihat gelagak Richard.


Dengan canggung Richard berkata "Iya, bukankah kamu dan Sesil sedang bersama seharian ini? apa dia sudah pulang?"


"Tidak, kami belum bertemu seharian ini. Aku bahkan baru akan menghubunginya setelah pulang nanti."


Setelah mengatakan itu secara refleks, Pitaloka baru mengingat sesuatu. Tapi dia tidak mengatakannya pada Richard.


"Tidak? aku pikir kalian sedang mengerjakan tugas kuliah bersama."


Namun daya tangkap Richard sangat baik. Dia dapat menebak ada sesuatu yang tersembunyi dibalik mimik Pitaloka saat ini.


Pitaloka memikirkan sesuatu dan seketika sedikit cemas. Dia segera menelpon Sesil, namun tidak tersambung.


"Ada apa?"


Richard melihat mimik muka Pitaloka semakin serius campur gelisah.


"Semoga Sesil baik-baik saja." Ucap Pitaloka sambil menatap Richard.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" Tanya Richard, dia merasa bingung mendengar ucapan Pitaloka.


"Tadi malam..."


Akhirnya Pitaloka menceritakan tentang rencana Sesil untuk mencari Ramlah dan juga mencari tahu tentang Faris yang gelagatnya sangat mencurigakan.


"Richard? kamu mau kemana?" Teriak Pitaloka.


Namun Richard yang mendengar jika saat ini Sesil sedang melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya, terlebih telponnya tidak aktif saat ini, segera berjalan cepat ke arah mobilnya dan melaju pergi.


Pitaloka hanya dapat melihat kepergian Richard dalam keadaan bingung.


"Halo! Ini masih sore sayang dan kamu sudah merindukanku hah?"


Raihan yang mendapat panggilan dari Pitaloka segera mengangkatnya.


Mendengar perkataan Raihan Pitaloka sempat merasa malu dan canggung. Namun segera dia merubah ekspresinya dan berkata tentang poin pentingnya.


Mendengar ucapan Pitaloka, Raihan yang saat ini pas sedang berjalan melewati kamar Sesil berhenti.


"Dalam masalah?" Tanya Raihan sambil mendorong pelan pintu kamar Sesil dan mendapati kamar itu kosong.


"Semoga tidak, tapi..."


Pitaloka juga menceritakan hal yang sama pada Raihan yang telah dia ceritakan pada Richard.


Mendengar ucapan Pitaloka Raihan menjadi cemas. Jika benar yang Pitaloka katakan, maka ponakannya kemungkinan besar memang pasti sedang dalam masalah.


"Maafkan, aku. Seharusnya aku dapat mencegahnya bertindak sendiri, atau setidaknya aku menemaninya, tetapi aku sudah berusaha dan Sesil menolak dengan kekeh."

__ADS_1


Karena lama tidak terdengar respon dari Raihan, Pitaloka yang dari tadi merasa bersalah, mengira Raihan juga sedang menyalahkannya.


"Tidak! Kamu sama sekali tidak bersalah. Ya sudah, sebentar lagi aku akan menjemput kamu dan kita akan mencari Sesil."


Raihan tentu tidak mungkin berpikir Pitaloka bertanggung jawab atas Sesil, karena sebagai paman dia sangat mengenal watak Sesil dan tentu rencana hari ini, telah ponakannya itu putuskan dengan matang.


Setelah mengakhiri sambungan telponnya, Raihan bergegas ke kamar nenek tua.


"Apa yang membuat kamu kesini?"


Nenek tua yang melihat Raihan datang bertanya. Sangat jarang cucu bungsunya itu mau memasuki kamarnya, bahkan hampir tidak pernah.


Hubungan keduanya tidak pernah harmonis saat Raihan menginjak usia dewasa. Dan itu dimulai dari perlakuan-perlakuan buruk nenek tua terhadap kakak ipar dan keponakan yang mendiang kakaknya titipkan padanya.


"Berikan alamat Ramlah, pelayan nenek yang kabur minggu lalu." Ucap Raihan langsung ke intinya.


"Buat apa?" Tanya nenek tua.


Nenek tua juga bingung kenapa tiba-tiba pelayannya pergi. Awalnya dia pikir pelayannya itu kabur dengan mencuri barang berharganya, tetapi setelah dia periksa tidak ada yang hilang, nenek tua pun tidak memperdulikan kepergian pelayannya itu.Namun mendengar Raihan menanyakan alamat pelayannya itu, nenek tua menjadi penasaran.


"Berikan saja sekarang."


Suara dan ekspresi Raihan membuat nenek tua menelan ludah.


Meski suara Raihan pelan, namun itu terasa sangat mencekam.


Nenek tua segera memberikan alamat Ramlah dan Raihan yang menerimanya langsung pergi dari sana.


"Ini semua karena ibu dan anak itu." Gumam nenek tua.

__ADS_1


Nenek tua sangat merindukan sosok Raihan yang memanja dipelukannya, namun entah sudah berapa tahun, momen itu hilang karena Camelia dan Sesil.


__ADS_2