
"Kamu sudah ke kampus? apa tante Camel sudah sehat? Tanya Pitaloka saat pagi hari Sesil menjemputnya.
"Ibu sudah jauh lebih baik, dan ada pelayan yang menjaganya, jadi ibu memintaku untuk ke kampus." Ucap Sesil, lalu keduanya masuk ke mobil dan menuju kampus.
Pitaloka dan Sesil turun dari mobil, lalu keduanya bergandengan tangan memasuki kelas.
"Persahabatan yang lumayan kuat."
Gumam Clara yang melihat keduanya masih baikan setelah kejadian kemarin.
"Karena mereka saling setia, tidak seperti dirimu yang bahkan bisa menghianati saudara sendiri."
Bagas muncul dari belakang Clara dan membuat gadis itu kesal.
"Jangan sok baik, kamu juga sama buruknya denganku."
Setelah melontarkan perkataan itu, Clara meninggalkan Bagas disana.
...
"Selamat pagi semua."
"Pagi Pak!."
Serentak semua orang di kelas itu menjawab.
Tapi tidak dengan Pitaloka, yang dari tadi masih asyik ngobrol dengan Sesil, menjadi kaku saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya itu.
"Edwar?"
__ADS_1
Pitaloka melihat ke depan dan benar saja, Edwar berdiri disana sambil menatapnya.
"Kenapa dia muncul lagi?" Batin Pitaloka.
Setelah hari itu, dimana dirinya terakhir kali berhubungan dengan Edwar yang merupakan dosennya itu, dan setelah dirinya berhasil menghapus video panas mereka, Edwar tidak pernah lagi muncul di kampus.
Pitaloka pikir pria itu sudah mengundurkan diri karena suatu alasan, tetapi melihatnya berdiri di hadapannya lagi saat ini, itu membuat Pitaloka cemas.
"Kamu kenapa?"
Sesil melihat raut wajah Pitaloka memucat, bertanya.
Meski Sesil mengetahui tentang ketergantungan Pitaloka dulu, dan tau jika setelah mengkonsumsi obat itu maka sahabatnya itu harus melampiaskan efek obat itu pada seorang pria, tapi Sesil tidak pernah tau siapa saja pria yang pernah bersama Pitaloka selain paman kecilnya, Raihan.
Menurutnya itu terlalu pribadi dan dia tidak mungkin harus mengetahui hal itu.
Pitaloka tidak merespon Sesil, tepatnya tidak bisa, karena Edwar kini berjalan ke arahnya.
Pitaloka menjadi semakin gugup saat ini.
Dia kira setelah dirinya lepas dari obat itu, maka seutuhnya dia bisa bebas dari bayang-bayang masa lalunya. Namun ternyata tidak, karena saat ini salah satu pria yang pernah berhubungan dengannya, tepat berada di depannya.
Edwar tersenyum pada Pitaloka dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.
Saat Pitaloka mengira pria itu akan mengatakan sesuatu padanya, Edwar kembali berbalik dan berjalan ke depan kelas.
"Huuffh."
Pitaloka menghembuskan nafas beratnya yang dari tadi dia tahan.
__ADS_1
"Husst..."
Sesil mencolek Pitaloka memberinya kode dengan bertanya ada apa?, tapi Pitaloka hanya menggeleng dan membuat Sesil merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
...
Saat kelas Edwar berakhir, Pitaloka buru-buru keluar dari sana.
Sejauh ini, Edwar masih membawakan materi dengan profesional. Tapi Pitaloka yakin, dengan senyuman Edwar tadi, pria itu pasti kembali bukan semata-mata untuk mengajar saja.
"Pit, eh Pit... tunggu aku."
Sesil yang ditinggal dalam kelas oleh Pitaloka, mengejar Pitaloka dengan bingung.
Pitaloka berhenti di halaman samping kampus, dan duduk di sebuah bangku panjang disana.
"Kamu kenapa?"
Sesil duduk di samping Pitaloka dan bertanya dengan bingung.
"Sil?"
Pitaloka mengatur nafasnya.
"Iya katakan kamu kenapa? aku merasa sejak di dalam kelas sikap kamu sangat aneh."
Ucap Sesil semakin bingung, tepatnya hawatir jika saja ada sesuatu.
"Edwar, maksud aku pak Edwar. Di dia... dia pernah bersamaku."
__ADS_1
Ucap Pitaloka dengan sedikit gemetar, bahkan suaranya juga ikut bergetar.