
Pitaloka berjalan keluar dari hotel tersebut dengan membawa rasa bahagianya karena akhirnya dia bebas dari Edwar yang menjijikkan dan payah itu.
"Lihat, wanita murahan itu sepertinya baru selesai bermain deh."
Sonya, berbisik keras kepada temannya sengaja agar Pitaloka mendengarnya.
"Iya, sepertinya dia baru menerima bayaran dari om-om lagi."
Sonya dan Luna terus menyinggung Pitaloka dan mengejeknya.
Tapi Pitaloka sudah kebal dengan mereka, Pitaloka terus berjalan sampai di tepi danau dekat hotel tanpa memperdulikan Sonya dan Luna disana.
"Sampai kapanpun aku akan mencarimu dan membalaskan dendamku."
Pitaloka menangis mengingat kejadian saat dia baru tamat SMA. Kamal, ayah tirinya menjualnya ke tempat pelacuran dihari pertama ibunya meninggal.
Kamal meninggalkannya disana dan menyerahkannya kepada bos tempat itu.
"Pakai pakaian itu."
__ADS_1
Bos tempat pelacuran itu melemparkan pakaian yang hampir tidak seperti pakaian kepada Pitaloka.
"Tidak mau."
Pitaloka menangis dan berusaha kabur, tapi bos itu menamparnya hingga terjatuh.
Bos itu kemudian meminta pelayan disana menggantikan pakaian Pitaloka lalu bos itu memaksa Pitaloka menelan obat yang akan membuat Pitaloka dengan sendirinya mau melayani pria yang akan datang malam itu.
Pitaloka tersadar dari mimpi buruk masa lalunya yang telah merenggut kebahagiaannya.
Pitaloka membuka tasnya dan mengambil obat yang selama ini bosnya selalu berikan kepadanya setiap Pitaloka harus melayani pelanggan.
Kini Pitaloka bebas dari tempat kotor itu karena berhasil kabur, tapi Pitaloka tidak bisa bebas dari obat itu karena telah kecanduan.
"Aku membencimu..."
Pitaloka berteriak di pinggiran danau sambil melempar obat-obatan yang selama ini membuatnya harus rela menyerahkan tubuhnya kepada pria-pria yang menginginkannya. Pitaloka menyerahkan tubuhnya bukan karena mau, tapi itu demi memenuhi kebutuhan tubuhnya karena efek kecanduan obat itu.
Pitaloka berjongkok dipinggir danau itu sambil menangis.
__ADS_1
"Bu, kenapa ibu menikahi pria brengsek itu? kenapa ibu membawanya kedalam hidup Pitaloka Bu kenapa?"
"Aku pasti akan menemukanmu!"
Pitaloka merasa dendam kepada ayah tirinya, karena ayah tirinyalah sehingga dia menjadi berantakan dan kotor seperti sekarang.
Dia sudah kembali ke rumahnya untuk mencari Kamal, tapi ternyata Kamal sudah menjual rumah ibunya, dan kata orang yang membeli rumah itu Kamal sudah lama pergi dari sana setelah menjual rumah itu.
Pitaloka menghapus air matanya lalu pergi dari sana.
Seorang pria muncul dari dalam air dan memegang obat yang tadi Pitaloka lempar.
Pria itu sangat suka berenang, dan air di danau itu membuatnya tertarik untuk berenang. Tapi baru saja dia turun, dia melihat seorang wanita berjalan kearahnya sambil menangis. Dengan bingung pria itu menyelam ke dalam air dan mendengar semua perkataan Pitaloka.
"Tuan, meetingnya akan di mulai."
Kata asisten pria yang masih di dalam air itu. Asistennya bingung, tuannya ini sangat pembersih dan rapi tapi saat melihat air, dia tanpa pikir itu bersih atau tidak tuannya ini pasti tidak mikir panjang dan langsung turun untuk berenang.
Raihan keluar dari air dan menyimpan obat yang Pitaloka lempar tadi kedalam kantong jaketnya.
__ADS_1
Setelah merapikan dirinya, Raihan di ikuti oleh asisten dan beberapa pengawalnya memasuki hotel dimana dia akan mengadakan meeting.
Semua staf hotel memberi hormat kepada Raihan yang merupakan pemilik hotel tersebut.