GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
... Nasib Kita Tetap Sama, Yaitu Mati


__ADS_3

Setelah memutuskan telpon dengan Raihan, Pitaloka bergegas kembali ke kosnya. Dan saat dia sampai, Raihan juga sudah tiba.


Raihan turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Pitaloka.


"Aku rasa Sesil pasti ke rumah pelayan itu." Ucap Pitaloka di tengah perjalanan mereka.


"Iya, aku sudah mendapat alamat pelayan itu. Kita akan kesana. Alamatnya lumayan jauh, kamu tidurlah dulu."


Meski sedang sangat menghawatirkan ponakannya, Raihan tetap tidak mengurangi rasa sayang dan perhatiannya pada calon istri di sampingnya itu.


"Terima kasih."


Pitaloka memang sangat lelah dan terasa mengantuk saat ini. Rasanya tubuhnya kurang sehat.


Tak lama Pitaloka pun terlelap.


Raihan menghentikan mobilnya perlahan, lalu menutupi tubuh Pitaloka dengan jasnya kemudian kembali mengemudi.


...


Saat sampai di sebuah perkampungan kecil, Raihan melihat Pitaloka masih terlelap.


"Bruukkk."


Raihan mendengar suara gaduh dari dalam rumah Ramlah.


Raihan turun dari mobil dan mengunci pintu mobil dari luar agar Pitaloka tidur dengan aman.

__ADS_1


...


Di dalam rumah, Faris dan Ramlah merasa panik saat pintu kamar tempat dia menyekap Sesil di dobrak seseorang.


"Sudah aku katakan, melepas atau mengurungnya, nasib kita tetap sama, yaitu mati." Ucap Faris pada Ramlah dengan tubuh bergetar.


Begitu pun dengan Ramlah, dia memegang perutnya yang mulai membesar dengan tangannya yang bergetar hebat.


Keduanya mengira Raihan pasti telah datang untuk membawa ponakannya pulang dan mereka pasti akan segera tamat.


"Apa kalian takut?"


Sesil yang beberapa saat lalu telah sadar, melihat kedua penghianat di depannya dengan senyum menyeringai.


Sedikit empati untuk bibinya Hestie, karena Sesil sangat tau bagaimana cintanya bibinya itu pada pria yang kini memeluk wanita lain.


"Buukkk."


"Richard?"


Sesil yang juga mengira Raihan yang datang menyelamatkannya, entah harus berekspresi bagaimana saat melihat tunangannya kini berdiri di hadapannya lalu membungkuk dan melepas tali yang mengikat tubuhnya.


Faris yang melihat jika seseorang yang menendangnya hingga terlempar jauh itu bukanlah Raihan, namun pria yang baru kemarin malam bertunangan dengan Sesil diam-diam meraih sebuah besi yang ada di dekatnya.


Jika melawan Raihan, dia pasti tidak punya harapan untuk menang, namun jika pria lain mungkin setidaknya dia masih bisa untuk kabur dari sana bersama istrinya.


"Buukkk."

__ADS_1


Lagi-lagi tubuh Faris terlempar hingga tembok tipis ruangan itu sedikit retak.


Baru saja Faris ingin menyerang Richard dari balakang saat Richard sedang fokus melepas tali yang mengikat Sesil.


Namun tiba-tiba saja tendangan dari arah lain membuatnya terlempar hingga tulangnya terasa remuk.


"Paman?"


Saat tali yang mengikat Sesil terlepas, dia juga melihat Raihan yang sedang berdiri melihatnya.


"Aku tidak salah menyerahkan ponakanku padamu."


Ucap Raihan sambil menepuk bahu Richard.


Richard hanya tersenyum pada Raihan, kemudian kembali menatap Sesil.


"Kalian? apakah kalian telah memainkan peran di dalam keluarga Saloka?" Tanya Raihan.


Raihan menatap Ramlah dan Faris yang sudah tidak sanggup bergerak secara bergantian.


Keduanya tidak bisa membuka mulut saat mendapati tatapan tajam Raihan.


"Mereka telah menipu keluarga kita paman. Mereka adalah pasangan suami istri yang sah, dan saat ini pelayan ini sedang mengandung anaknya."


Sesil yang merasa gregetan menjawab pertanyaan Raihan.


"Aku juga bahkan sangat yakin jika yang memasukkan racun pada makanan mama adalah pelayan ini dan itu atas perintah lelaki penipu ini." Sambung Sesil.

__ADS_1


__ADS_2