
Camelia tersenyum kemudian melirik Richard.
"Bukankah malam ini kamu membawanya kesini untuk mengatakan hal itu?" Tanya Camelia.
Namun sebenarnya mengingatkan Sesil tentang dirinya yang mau memberitahu ibunya tentang niatnya untuk melangsungkan sebuah acara pertunangan sederhana dengan Richard dalam minggu ini.
"Tapi kamu terlambat." Ucap Camelia lagi.
"Kenapa?"
Sesil dibuat bingung dengan perkataan ibunya itu. Terlebih saat ini mata semua orang sedang menatapnya dengan makna yang tidak bisa dia simpulkan.
"Karena kami sudah mengetahui, dan... ini bukan hanya pesta ulang tahun kamu, tetapi juga pesta pertunangan kamu." Ucap Pitaloka.
Sesil menatap semua orang yang kini tersenyum bahagia, rasanya dia agak bingung dengan yang terjadi saat ini.
"Maafkan aku, aku menambah hadiah ulang tahun kamu dengan pesta pertunangan malam ini."
Richard yang dari tadi berada di belakang Sesil, melangkah kesisi kanan gadis itu.
__ADS_1
"Iya, Priamu itu menghubungi paman dan mengatakan semua rencananya. Dia juga sudah bicara dengan kakak ipar dan mendapat restunya. Dan paman bersama calon bibi kecil kamu ini, mengatur semuanya."
Raihan menjelaskan sambil memeluk pinggang Pitaloka dihadapan semuanya.
Kini bukan tentang pertunangsn Sesil yang ada dikepala semua orang, terutama nenek tua. Tapi perkataan Raihan yang mengatakan Pitaloka calon bibi kecil Sesil.
"Apa kalian akan meresmikannya?" Tanya Sesil dengan girang.
Raihan melihat Pitaloka, namun gadis itu hanya tertunduk malu.
"Iya, paman akan menjadikan sahabat kamu ini sebagai Nyonya Raihan Saloka."
Nenek tua dan Hestie batuk bersamaan saking terkejutnya.
Mereka sangat kaget mendengar Raihan seserius itu dengan Pitaloka. Namun meski tidak setuju, mereka tidak bisa komen. Karena mereka sangat mengenal Raihan, jika melakukan sesuatu yang tidak dia sukai, maka mereka pasti akan dibuat menyesal oleh Raihan.
Raihan hanya melirik nenek tua dan Hestie sekilas, lalu kembali berkata pada semua orang.
"Untuk malam ini kita fokus pada pertunangan Richard dan Sesil. Tapi minggu depan, giliran kami..."
__ADS_1
Ucap Raihan sambil menatap Pitaloka yang dari tadi seakan bersembunyi dipelukan hangat Raihan.
"Apa kalian akan langsung menikah? maaf, maksud kakak apakah kalian tidak bertunangan dulu seperti Sesil? bukankah Pitaloka masih kuliah?"
Meski ragu, Hestie angkat bicara. Dia tidak sudi Pitaloka menjadi bagian keluarga Saloka namun tidak berani menentang adiknya. Jadi dia berencana untuk menunda pernikahan mereka, sehingga dia memiliki waktu untuk memisahkan keduanya suatu saat sebelum mereka beneran resmi menikah.
Raihan mendengarkan ucapan kakaknya itu, namun pandangannya tak lepas dari gadis yang berada disisinya.
"Pitaloka akan melanjutkan pendidikannya... namun sebagai nyonya Raihan Saloka."
Perkataan Raihan, membuat Hestie dan juga nenek tua yang satu pemikiran dengan Hestie, terperangah. Namun kali ini keduanya sama sekali tak bisa berkutik, karena saat ini Raihan memberi peringatan keras.
"Aku mengatakan akan menikahi Pitaloka, namun tidak meminta izin, persetujuan, terlebih restu siapa pun. Jika ada yang tidak menyukainya, aku tidak memaksa untuknya menghadiri hari bahagia kami itu."
Raihan berkata sambil memegang jemari Pitaloka, yang mana disana sudah tersemat sebuah cincin yang berkilau indah.
Pitaloka sedari tadi hanya terdiam dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raihan. Dia tau jika nenek tua tidak menyukainya. Namun Raihan sudah meyakinkan dirinya, jika tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka termasuk nenek tua sekali pun.
Pitaloka yakin, jika Raihan sungguh pria yang akan selalu menjaganya. Dan dia tidak perlu mencemaskan apapun setelah menjadi istri Raihan.
__ADS_1