GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Berhenti Kucing Malasku!


__ADS_3

Dalam sekejap Tubuh Sesil mematung, karena Richard kini melayangkan pertanyaan sambil berbisik pelan di telinganya.


"Bolehkah aku meminta ciuman manis dari bibir indah mu itu?"


Entah harus memberi tanggapan apa. Sesaat kemudian Sesil refleks menganggukkan kepalanya, namun saat tersadar dia kembali menggeleng, akan tetapi terlambat.


cup


Bibir dingin Richard telah mendarat di bibir manis Sesil.


Namun kali ini berbeda dengan sebelumnya yang hanya singgah mengecup sedetik seperti capung di atas permukaan air.


Kini Richard mencium bibir yang terasa begitu manis itu dengan sedikit dalam dan mencoba memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sesil.


Kini Sesil, si gadis polos itu tidak tau harus berbuat apa. Rasanya untuk bernafas pun dia kesusahan.


"Emmmtt."


Hingga Richard terus memperdalam ciumannya dengan ******* bibir Sesil.


"Terima kasih."


Merasa tunangannya begitu tegang dan kebingungan, Richard melepas ciumannya.


Sesil hanya menunduk malu. Meski dia tipe gadis bawel, manja dan cerewetnya minta ampun, tetapi dalam urusan dunia dewasa dia mendapat nilai nihil.


"Baiklah, aku pulang dulu."


Richard tersenyum lalu mencium kening Sesil.

__ADS_1


Sampai suara mesin mobil Richard yang melaju pergi, barulah Sesil melompat girang.


"Apakah aku bermimpi? ya tuhan jika ini hanya mimpi, maka jangan bangunkan aku." Gumam Sesil sambil meraba bibirnya yang masih basah.


...


Sedang di lantai atas, tepatnya di kamar Raihan. Pitaloka kini terlelap dengan berbantalkan lengan Raihan.


"Apa bayi kita akan semalas kamu saat ini hem?" Gumam Raihan yang sejak tadi terus berbicara dengan gadis yang terlelap indah di pelukannya itu.


Rasanya dia sangat bahagia mendengar kehadiran bayi kecil di dalam perut mungil wanita yang dia cintai itu. Sampai-sampai dia tidak bisa untuk tidak membayangkan wajah imut bayinya saat lahir, bahkan telah sibuk memikirkan beberapa nama bayi perempuan dan laki-laki, sehingga dirinya tidak bisa tidur.


...


"Pagi kucing malas ku!"


Sapa Raihan saat Pitaloka membuka matanya.


"Auh, sepertinya aku harus ke tukang urut hari ini."


Melihat tampang sebal Pitaloka, Raihan melirik tangannya yang masih setia menjadi bantal Pitaloka untuk mendapat perhatian Pitaloka.


Refleks Pitaloka mengikuti arah pandang Raihan dan dia sontak bangun saat menyadari lengan Raihan sudah tampak pucat karena keram.


"Apa semalaman aku tidur di lenganmu?"Tanya Pitaloka dengan lirih.


"Hmm menurut kamu? aduh rasanya pegel sekali."


Raihan sengaja mengusili Pitaloka. Meski tangannya sedikit keram, tapi sebagai pria kuat itu bukanlah masalah, terlebih itu demi membuat wanitanya tidur nyenyak. Tapi Raihan seneng aja saat melihat tampang bersalah Pitaloka saat ini.

__ADS_1


"Maaf, sini aku pijitin."


Pitaloka memperbaiki posisi duduknya lalu meletakkan tangan Raihan yang masih baring di atas pangkuannya.


"Bukan itu, ini."


Raihan menunjuk pipinya.


"Cukup di cium saja, pasti lenganku langsung enakan." Ucap Raihan.


"muach muach."


Tanpa ragu Pitaloka pun mencium kedua pipi Raihan secara bergantian.


"Sudah enakan?" Tanya Pitaloka dengan mengedipkan matanya.


"Satu lagi." Ucap Raihan menunjuk bibirnya.


Pitaloka tentu tidak keberatan.


Keduanya mulai memperdalam ciumannya, sampai Raihan merasa menegang di bagian ba***nya.


"Kenapa?" Tanya Pitaloka saat Raihan mendorong kepalanya pelan sambil melepaskan ciumannya.


"Sudah yah, aku takut tidak tahan." Ucap Raihan pelan, membuat Pitaloka tersenyum mengerti yang terjadi.


"Lalu kenapa?" Tanya Pitaloka sambil memainkan jarinya di leher Raihan yang kini tampak sengsara karena menahan sesuatu.


"Berhenti kucing malas ku." Ucap Raihan lagi, namun membuat Pitaloka semakin nakal dengan memainkan jemarinya di jakun Raihan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? kamu bosan denganku?" Pitaloka memasang wajah cemberut, tapi hatinya tertawa karena sengaja ingin menjahili Raihan. Dia tau barusan Raihan menjahilinya dengan pura-pura pegal, sekarang gantian Pitaloka membalas.


__ADS_2