
Melihat pria yang semalam bersama dengannya duduk disana, Pitaloka yang baru memasuki cafe merasa canggung.
"Katanya paman dengan asisten paman, lah dia kemana?" Tanya Sesil karena tidak melihat asisten Raihan, Gibran disana.
"Loh kok cuma ada dua kursi?" Tanya Sesil lagi saat melihat hanya ada dua kursi disana yaitu kursi yang di duduki Raihan sendiri, dan yang lainnya masih kosong.
"Kamu ke meja nomor 34, disini tidak menerima obat nyamuk." Kata Raihan lalu mempersilahkan Pitaloka duduk di kursi yang ada di depan kursinya.
"Huch! siapa juga yang mau jadi obat nyamuk kalian."
Kata Sesil dengan tampang sebal, tapi sebenarnya hatinya merasa senang karena melihat sepertinya paman kecilnya itu memang berencana menjadikan sahabatnya sebagai bibi kecilnya.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Raihan sambil terus memandangi wajah cantik Pitaloka.
"Apa saja, aku tidak pemilih." Jawab Pitaloka, wajahnya kini memerah karena menyadari Raihan yang tidak berkedip darinya. Entah kenapa, baru kali ini dia merasa malu pada pria, biasanya dia yang selalu membuat pria menelan liur melihatnya pun dia tidak malu sama sekali, bahkan pada pria-pria yang sebelumnya bersamanya.
"Apa kamu merasa canggung padaku?" Tanya Raihan.
"Ah? tidak?"
__ADS_1
"Tapi wajahmu memerah." Kata Raihan sambil tersenyum.
"Apa kamu menertawakanku?" Pitaloka menggembungkan pipinya.
"Tidak, aku memujimu. Kamu sangat cantik." Kata Raihan yang membuat wajah Pitaloka semakin merah.
...
Setelah makan siang, Raihan dan asistennya pergi ke perusahaan, sedang Sesil mengantar Pitaloka ke kosnya.
...
"Selamat pagi seksi." Seorang mahasiswa yang tentunya juga telah lama mengejar Pitaloka menyapa Pitaloka di depan gerbang kampus.
"Bagas, lepaskan tanganmu!" Pitaloka sangat marah saat Bagas, putra Dekan itu memegang tangannya.
"Jangan jual mahal, aku tau aku itu masuk dalam daftar kriteriamu. Katakan kapan dan dimana?" Bagas dengan beraninya mengatakan itu pada Pitaloka.
Bagas memang masuk dalam daftar tipe pria Pitaloka, tapi jika itu dulu, sebelum dia bertemu Raihan. Kini dia berjanji hanya akan bersama Raihan seorang saja.
__ADS_1
"Plakkk."
Suara tamparan yang begitu keras membuat semua orang disana berbalik ke arah Pitaloka dan Bagas.
"Akan aku katakan, aku bukan wanita serendah itu." Pitaloka meninggalkan Bagas yang masih memegang pipinya disana.
"Itu baru wanita Raihan Saloka." Raihan yang lewat di depan kampus Pitaloka melihat kejadian itu dari dalam mobil tersenyum puas melihat wanitanya tidak selemah yang dia kira. Tadinya dia sangat marah dan ingin segera menghajar Bagas saat melihatnya memegang tangan Pitaloka, tapi kemudian dia berpikir untuk memberi kesempatan pada Pitaloka dan melihat bagaimana Pitaloka menghadapi pria seperti Bagas. Dan hasilnya menakjubkan.
"Kalau aku berada di posisi kamu, aku pasti akan membuatnya menyesal." Sonya berkata sambil melewati Bagas yang masih terdiam di gerbang.
"Kamu akan membayar ini." Bagas melihat Pitaloka memasuki kampus dengan sangat marah.
...
"Waw bibi kecilku, kamu sangat hebat." Saat kelas selesai, Sesil yang tadinya datang terlambat dan tidak menyaksikan kejadian Bagas yang di tampar oleh Pitaloka berlari dan memeluk Pitaloka.
Pitaloka menatap Sesil heran, bukan karena disanjung hebat tapi panggilan Sesil padanya.
"Apa? Bibi kecil?" Tanya Pitaloka.
__ADS_1
"Upsst... hehe lupakan. Katakan bagaimana kamu menampar putra Dekan kita itu? pasti sangat keras ya sampai semua orang di kampus kita membicarakannya." Tanya Sesil dengan hebohnya.
"Cuma pelajaran kecil buat pria sepertinya." Jawab Pitaloka tidak terlalu minat membahas hal itu. Sebenarnya dia tidak begitu menyalahkan Bagas yang bertingkah seperti itu padanya, ini karena dia selama ini memang terkenal suka bermain dengan pria yang masuk dalam tipenya. Dan seandainya dia masih Pitaloka yang kemarin maka mungkin dia tidak akan menampar Bagas tetapi menyambutnya dengan senyum nakalnya.