
Malam hari, Raihan dengan setelan jas hitam sudah berdiri di depan kos Pitaloka.
"Hei. Aku Clara, sepupu dokter Vina. Raihan Saloka bukan?"
Clara mengulurkan tangannya dan menghampiri Raihan yang masih menunggu Pitaloka keluar.
Raihan melirik Clara sejenak lalu berkata dengan datar. "Iya, aku Raihan Saloka." tanpa menjabat tangan Clara.
Mata Raihan fokus ke arah pintu kos Pitaloka.
"Benar kata kak Vina, pria ini sangat angkuh dan cuek." Batin Clara, lalu tersenyum dan berkata "Kamu sedang menunggu Pitaloka yah?"
"Hmm." Raihan hanya mengangguk, membuat Clara yang ingin basa-basi dengan pria tampan itu merasa kesal karena terus dicuekin.
"Ka..." Clara baru mau berkata 'kalian mau kemana?' tapi perkataannya terhenti saat melihat tatapan Raihan yang dari tadi fokus ke depan pintu kos Pitaloka dengan ekspresi datar berubah menjadi senyuman yang sangat mempesona.
Clara mengikuti arah pandangan Raihan dan dia pun terperangah dengan yang dia lihat.
"Apa aku membuatmu menunggu?"
Pitaloka dengan gaun hitam panjang sampai mata kaki, dengan belahan di bagian paha kanannya berjalan ke arah Raihan tanpa memperdulikan Clara.
"Kamu sangat cantik."
Raihan bukannya menjawab pertanyaan Pitaloka, malah memujinya yang membuat Pitaloka sedikit malu karena selama ini Raihan belum pernah memuji dirinya.
"Ayo!"
__ADS_1
Pitaloka merangkul lengan Raihan dan berjalan ke arah mobil yang jaraknya hanya sekitar satu meter dari tempat mereka berdiri saat ini.
Raihan membukakan pintu mobil buat Pitaloka, lalu dia juga masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan Clara yang ada disana.
"Sombong. Lihat saja, nanti juga kamu akan menangis."
Clara dengan sebalnya masuk ke dalam kosnya.
...
"Rumah siapa ini?"
Pitaloka sedikit banyak sudah bisa menebak, tetapi dia masih belum yakin dan bertanya.
"Rumah keluarga besar Saloka."
"Kenapa membawaku kesini?"
Pitaloka menghentikan langkahnya.
"Kenapa? kamu kekasihku, tentu saja secepatnya aku harus memperkenalkanmu kepada keluargaku bukan?" Ucap Raihan.
"Tapi..."
"Tidak perlu cemas, di dalam ada Sesil yang sudah menunggumu. Ayo!"
Raihan menggandeng Pitaloka memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Selamat datang, ayo duduk bersamaku."
Sesil yang dari tadi menunggu Pitaloka di ruang tamu, menyambutnya dengan sangat ramah.
Akhirnya pamannya melakukan hal yang sangat ingin dia minta pamannya itu lakukan.
Dengan memperkenalkan Pitaloka pada seluruh keluarga, maka itu sudah meresmikan hubungan keduanya dan membuktikan jika tidak lama lagi sahabatnya itu benar-benar akan menjadi bibi kecilnya.
Pitaloka dengan canggung duduk di sebelah Sesil.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil yang lain."
Raihan naik ke lantai atas dan tak lama dia turun kembali bersama seorang wanita berusia 70an.
Pitaloka dan Sesil berdiri menyambut nenek tua turun.
"Nenek, perkenalkan ini Pitaloka kekasih Raihan."
Raihan memeluk pinggang Pitaloka dan memperkenalkannya langsung sebagai kekasihnya.
"Pitaloka."
Pitaloka mengulurkan tangannya pada Nenek tua Saloka, tapi dia harus menggantung tanggannya di udara karena nenek tua Saloka sama sekali tidak meliriknya dan langsung berjalan dan duduk di ruang makan yang berada di dekat ruang tamu tersebut.
"Ayo, kita akan makan malam bersama, nanti aku ajak kamu menemui ibuku."
Sesil sangat kesal melihat cara nenek tua menyikapi sahabat baiknya itu. Sesil menggandeng Pitaloka ke meja makan dan berkata akan mengajaknya menemui ibunya setelah itu.
__ADS_1
Sesil tentu sudah menceritakan kondisi ibunya yang tiba-tiba sakit pada sahabat baiknya, bahkan ada rasa curiga di hati Sesil tentang penyebab ibunya jatuh sakit yang secara mendadak.