
"Suutt..."
Raihan yang baru pulang dari kantor melihat Sesil di depan pintu ruang kerjanya dan memanggilnya pelan dengan melambaikan tangannya.
"Ada apa?"
Raihan menghampiri ponakannya itu yang terlihat seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.
Sesil tidak menjawab tapi langsung menarik Raihan ke dalam ruang kerja itu dan mengunci pintu.
Raihan menjadi bingung, terlebih mendapati wajah Sesil menjadi serius.
"Apa terjadi sesuatu? Tanya Raihan.
"Paman, tadi di kampus..."
Mulailah Sesil menceritakan kejadian di kampus dan juga semua yang telah Pitaloka katakan padanya tadi, kepada Raihan.
"Dasar... para bedebah ini! Baiklah, kita lihat saja apa yang bisa mereka lakukan saat Raihan Saloka bertindak."
Raihan begitu murka. Di kantor dia sudah mendengar nama Modan dan yang sebelumnya dia juga mendengar nama Kamal dari Sesil. Lalu sekarang, Edwar. Raihan pasti akan menuntas habiskan semua virus yang mendekati wanitanya.
__ADS_1
"Para bedebah?"
Tanya Sesil, karena itu terdengar ada lebih dari satu orang yang Raihan maksud. Sedang dia hanya menyebut Edwar tadi. Apa ada seseorang lainnya yang telah membuat pamannya itu marah?
Raihan menatap Sesil lalu memberi tahunya tentang yang Richard katakan saat di kantor.
Sesil tidak lagi kaget mendengarnya, karena dia sudah mengetahui itu sebelumnya dari Pitaloka sendiri.
"Jadi paman, apa yang harus kita lakukan? Aku dapat melihat jelas, Pitaloka sangat ketakutan saat melihat pria itu." Ucap Sesil.
"Kamu tenang saja, aku yang akan mengurus ini. Sekarang fokuslah pada ibumu." Ucap Raihan.
Perkataan Raihan kembali membuat Sesil teringat tentang Ramlah, pelayan Nenek tua yang kabur malam itu. Tapi Sesil merasa tidak enak untuk memberikan beban itu pada pamannya. Dia sendiri yang akan mencari keberadaan Ramlah dan membongkar tentang kebusukan Bibinya, Hestie.
(Dering ponsel)
Pitaloka melihat layar ponselnya, dan mendapati nomor yang dia kenal namun sudah dia hapus, kembali menghubunginya.
Pitaloka tidak ingin mengangkat telpon itu, dia meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas kasur.
Namun ponselnya terus berdering hingga Pitaloka merasa geram dan memberanikan diri untuk menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Akhirnya kamu menjawab telponku juga honey."
Pitaloka belum sempat bicara, suara Edwar sudah masuk ke telinganya.
"Untuk apa kamu menghubungiku lagi? ingat, aku tidak mau berhubungan denganmu lagi." Ucap Pitaloka berusaha terdengar tenang oleh Edwar.
"Benarkah? tapi honey, aku tidak meminta pendapatmu. Kamu mau atau tidak, aku tidak peduli. Tapi kamu tetap harus menuruti kemauanku." Ucap Edwar dengan entengnya.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Pitaloka menahan emosinya.
"Pertanyaan yang pas. Aku hanya ingin kamu kembali berhubungan denganku seperti dulu."
Jawab Edwar, yang langsung mendapat penolakan dari Pitaloka.
"Jangan mimpi."
"Aku tidak bermimpi, tapi ini kenyataan honey. Dengar, aku sudah resmi bercerai dengan istriku, dan itu demi kamu. Jadi kamu tidak punya alasan lagi untuk menolakku. Bukankah kamu mengakhiri percintaan kita karena itu?"
Perkataan Edwar itu memang ada benarnya, itu salah satu alasan Pitaloka mengakhiri hubungan mereka dulu.
Tapi saat ini, bukan hanya itu alasannya. Itu hanya alasan terakhir dari beberapa alas utama Pitaloka saat ini.
__ADS_1
Pitaloka jelas tidak mau berhubungan dengan pria itu lagi karena memiliki alasan utama, yaitu Raihan. Meski dia masih marah padanya, tapi tidak bisa dia pungkiri jika seluruh hatinya telah menjadi milik Raihan. Dan alasan kedua, itu karena dia sudah bebas dari obat yang awalnya terpaksa membuatnya berhubungan dengan Edwar. Jadi tidak ada alasan baginya untuk berhubungan tidak jelas dengan pria itu lagi.