
"Tidak, itu tidak mungkin."
Pitaloka berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya seakan dengan begitu kenyataan yang baru dia dengar akan berubah.
...
"Sepertinya semalam habis kencan, kok paginya mukanya kusut gitu?"
Clara yang bersamaan keluar dari kos dengan Pitaloka, mulai menyindir.
Dia sangat tau apa yang membuat wajah Pitaloka seperti demikian.
Pitaloka tidak menghiraukan Clara dan berjalan ke arah kampus.
"Pit, aku mau bilang sesuatu. Tentang semalam..."
Sesil yang tumben datang lebih awal sengaja menunggu Pitaloka di gerbang.
Dia mau meminta maaf soal kejadian kemarin malam atas nama seluruh anggota keluarga, tapi perkataannya dihentikan oleh Pitaloka.
"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkannya."
Ucap Pitaloka sambil terus berjalan tanpa melihat Sesil.
__ADS_1
Sesil yang tidak mengetahui apa yang baru saja Pitaloka ketahui, tentu mengira sahabatnya itu sedih karena masalah kemarin malam.
Ya, itu memang salah satunya. Tapi Raihan sudah meyakinkannya untuk tetap bersamanya meski apa pun yang terjadi. Dan Pitaloka sudah bisa menerima kejadian kemarin malam dan menganggapnya mimpi buruk saja.
Tetapi satu kenyataan yang baru dia ketahui tidak mungkin bisa Pitaloka lupakan.
Sesil tidak berani menegur Pitaloka, dia hanya mengikutinya dari belakang.
...
"Paman, Pitaloka sangat marah karena kejadian kemarin malam. Seharian dia mendiami aku."
Sesil yang pulang dari kampus langsung ke perusahaan Raihan.
"Apa yang kamu katakan?"
Pitaloka sudah membaik dan sudah menerima kejadian itu sebelum dirinya ketiduran dan Raihan mengantarnya pulang, lalu apa maksud ponakannya itu?
"Baru kali ini dia mendiami aku. Sepertinya sikap nenek tua sangat menyakiti hatinya." Mata Sesil mulai basah dan masuk dalam pelukan Raihan.
"Pitaloka mendiami kamu? tapi dia sudah membaik saat aku mengatarnya pulang. Maksud paman dia tidak lagi mengambil hati perkataan dan sikap nenek tua, Paman yakin itu. Jika kepada paman saja dia tidak marah lalu kenapa dia harus marah padamu?"Ucap Raihan bingung, tidak mungkin ponakannya itu berkata asal. Tapi kenapa Pitaloka bersikap seperti itu kepada Sesil?
"Tidak tau, pokoknya aku mau sahabatku kembali, itu saja." Sesil yang sudah sangat manja pada Raihan menangis seperti anak kecil di dalam pelukan Raihan.
__ADS_1
"Baiklah, nanti paman akan menghubunginya oke. Sahabatmu akan kembali, sekarang kamu berhenti menangis, paman sebentar lagi ada pertemuan de..."
"Selamat so..."
Richard yang langsung masuk, karena pintu tidak ditutup, terkejut melihat Sesil yang menangis di dalam pelukan Raihan.
"Selamat sore, silahkan masuk." Ucap Raihan, tidak menyadari jika pria di depannya itu kini terbakar api cemburu.
"Oke, kamu pulang dulu yah, semua akan baik-baik saja."
Raihan mengecup kening Sesil di hadapam Richard, membuat pria itu semakin panas.
Sedang Sesil, entah bagaimana dia tidak menyadari jika orang yang kini berdiri di ruangan itu adalah Richard. Mungkin karena dia terlarut dalam kesedihannya.
Sesil keluar dari ruangan Raihan sambil menghapus air matanya dan sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Richard disana.
"Silahkan, maaf masalah pribadi dan dia sedikit manja."
Perkataan Raihan lagi-lagi disalah artikan oleh Richard.
...
Pitaloka memasuki kosnya dan langsung mengemas barangnya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tinggal disini, akan sangat mudah bagiku bertemu dirinya jika aku masih tetap disini."
Pitaloka berniat pindah dari kosnya saat ini. Entah dia akan tinggal dimana, tapi baginya dia tidak boleh tinggal disana lagi.