GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Rektor


__ADS_3

"Sudahlah, aku tau aku akan mati di tangan obat terkutuk itu." Kata Pitaloka, dia bukannya putus asa, dia bukan wanita selemah itu. Namun dia sudah pernah ke psikiater dan berkonsultasi dengannya. Tapi tetap, tidak ada jalan untuk lepas dari obat itu.


"Apa yang kamu katakan? kita akan mencari jalan keluar sama-sama. Dan jika tidak menemukannya maka aku yang akan menjadi penawar mu selamanya." Raihan tidak suka melihat Pitaloka yang seperti pasrah dengan keadaan itu.


Pitaloka menatap Raihan lalu berkata "Jika aku terus-terusan memakan obat itu, dan terus bersamamu hanya sebagai penawar obat itu, maka yang dikatakan orang-orang itu akan menjadi kenyataan. Aku adalah wanita kotor. Aku ingin bersamamu karena cinta, bukan karena obat itu."


Mendengar perkataan Pitaloka, Raihan merasa itu memang benar. Dia sendiri ingin seutuhnya bersama Pitaloka tanpa perantara obat itu.


...


Esoknya, Pitaloka memasuki kampus. Namun dia merasa bingung, semua orang disana tertunduk saat melihatnya.


"Hei Pit, apa kamu merindukanku? maaf kemarin aku tidak datang ke kampus dan tidak sempat mengabarimu. Aku ada urusan keluarga yang sangat mendesak."


Sesil berlari dan langsung memeluk Pitaloka.


"Oh ya, apa aku ketinggalan sesuatu?"


Tanya Sesil dengan sedikit heran melihat semua orang yang mereka lewati menunduk saat melihat mereka.


"Tidak, semuanya normal seperti biasa."

__ADS_1


Jawab Pitaloka, bukan mau menutupi, tapi menurutnya tidak ada gunanya memberi tau Sesil kejadian kemarin, itu hanya akan membuat Sesil marah dan bisa menghajar orang-orang itu.


"Oh yah, aku dengar Pak Rektor akan datang hari ini, katanya ada sesuatu yang penting yang ingin dia sampaikan secara langsung." Kata Sesil.


"Oh iya."


Pitaloka yang masih memikirkan nasibnya dengan obat itu tidak terlalu memperhatikan perkataan Sesil.


...


Sedang di dalam kantor, Semua pihak kampus, dari security, dosen sampai Dekan gemetar karena kedatangan Rektor kampus mereka.


"Panggil keempat mahasiswa itu."


"Selamat siang Pak!"


Bagas, Diky, Sonya dan Lulu gemetar saat memasuki kantor. Mereka sudah menebak jika Raihan pasti akan melakukan sesuatu pada mereka, tapi mereka tidak menduga jika Rektor sendiri yang akan memberi mereka hukuman.


"Kalian tau, siapa yang telah mendanai kampus kita selama ini?"


Tanya Rektor pada mereka berempat.

__ADS_1


Keempatnya tidak berani menjawab, mereka menunduk sambil menggeleng.


"Saloka Grub, Raihan Saloka, dan kalian berani mengusik wanitanya?"


Teriak Rektor lagi yang membuat semua yang ada disana terkejut. Terutama Tommy, ayah Bagas.


Tommy menatap Bagas yang sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Bisa-bisanya putranya ini mengusik wanita milik Raihan Saloka.


"Aku tidak mau tau, keempat sampah ini harus meninggalkan kampus ini."


Perkataan Rektor kembali mengejutkan semuanya.


Kini Sonya dan Lulu menangis, apa yang harus mereka katakan pada orang tua mereka jika mereka dikeluarkan dari kampus.


"Aku mohon Pak, maafkan kesalahan kami. Kami akan melakukan apa saja asal tidak dikeluarkan dari kampus ini."


Sonya dan Lulu berlutut dan memohon di kaki Rektor.


Tommy menatap tajam Bagas, mengkodenya agar dia juga segera berlutut di hadapa Rektor.


"Iya pak, maafkan kami. Apapun akan kami lakukan tapi tolong biarkan kami tetap di kampus ini."

__ADS_1


Bagas juga ikut berlutut, kemudian di ikuti oleh Diky.


__ADS_2