
Sesil mengantar Richard sampai ke depan rumah.
"Apa aku pulang dengan tangan kosong?" Tanya Richard saat Sesil hendak berbalik memasuki rumah.
Sesil tidak menjawab, tepatnya tidak tau harus menjawab apa karena dia tidak mengerti dengan maksud Richard yang kini bersandar di pintu mobil sambil menatapnya.
"Ya sudah, sepertinya aku harus mengambilnya sendiri."
Setelah mengatakan itu, Richard langsung mencium bibir dingin Sesil yang masih belum mudeng dengan maksud pria di hadapannya itu.
Tapi setelah Richard menciumnya seperti seekor capung yang hinggap sekilas di permukaan air, Sesil baru mengerti maksud Richard.
Sekilas tubuh Sesil membeku merasakan sentuhan Richard yang hanya satu detik itu.
"Aku pulang dulu, selamat malam."
Richard tersenyum melihat Sesil yang masih terpaku, lalu dia memasuki mobilnya dan melaju perlahan dari sana.
"Apa dia baru saja menciumku?" Gumam Sesil.
Sesil meraba bibirnya dan bertanya pada dirinya sendiri, apa kejadian satu detik itu nyata atau halusinasi?
Namun sesaat kemudian, Sesil menutup matanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ini nyata." Ucap Sesil.
...
Raihan menghentikan mobilnya di depan kos Pitaloka, yang sebelumnya belum dia tau alamatnya.
Raihan bisa saja mencari tau dan pasti akan dengan mudah mengetahuinya. Namun karena kemarin-kemarin Pitaloka tidak mau jika dia mengetahui alamat kosnya, maka Raihan tidak mencari tau dan menanti dengan sabar kesediaan Pitaloka untuk memaafkan dan memberitahunya alamat kosnya yang baru.
"Kenapa berdiri disana? kamu tidak mau masuk?"
Pitaloka melihat Raihan hanya berdiri diam di samping mobilnya.
"Aku takut kamu akan melarangku masuk, jadi aku berdiri disini saja." Ucap Raihan dengan tampang sok malang.
"Ayo, masuklah."
Pitaloka menarik tangan Raihan dan berjalan memasuki kosnya.
Dalam hati Raihan berteriak girang. Dia tentu sangat ingin masuk ke dalam, dan tentunya menginginkan hal yang sudah lama dia rindukan.
"Duduklah, anggap ini tempat kamu sendiri dan lakukan yang kamu inginkan." Ucap Pitaloka lalu meninggalkan Raihan di ruang tamu dan diavpergi ke kamarnya.
"Oh Nyonya, kamu seharusnya tidak berkata demikian." Batin Raihan lalu tersenyum nakal.
__ADS_1
Pitaloka sedang berganti pakaian di dalam kamar mandi. Namun saat dia keluar, dia dikagetkan oleh Raihan yang sudah baring di atas kasurnya.
"Ra Raihan... Kamu ngapain disini?"
Pitaloka tentu tidak marah, tapi dia tetap terkejut bukan?
Raihan berdiri dan melangkah mendekati Pitaloka yang seketika membuat naluri Pitaloka menebak sesuatu yang membuatnya malu sendiri.
"Kamu sendiri yang barusan bilang jika aku harus menganggap ini tempatku sendiri dan boleh melakukan apapun yang aku inginkan bukan? Lalu, kenapa kamu bertanya? apa aku tidak boleh berada dikamar ini?"
Saat mengatakan itu, tangan besar Raihan sudah membalik tubuh Pitaloka dan seketika Raihan memeluk Pitaloka dari belakang.
"Boleh, tentu boleh. Tapi..."
Pitaloka belum menyelesaikan ucapannya, yang sebenarnya dia sendiri memang bingung mau bilang apa. Tapi Raihan saat ini telah membuat sekujur tubuhnya membeku, karena bibir dan lidah Raihan mulai menjalar di telinga dan lehernya.
"Hmmm..."
Beberapa saat kemudian Pitaloka tidak lagi bisa mengendalikan dirinya. Dirinya yang memang juga sangat merindukan Raihan, mulai terbawa suasana. Tubuhnya mulai merespon kecupan demi kecupan yang Raihan beri.
"Apa kamu juga merindukanku?" Bisik Raihan sedikit mengigit telinga Pitaloka.
Dan satu anggukan kecil dari Pitaloka membuat Raihan memulai percintaan mereka malam itu serta melepas rasa rindu mereka.
__ADS_1